x

Pengaruh Pergaulan Membentuk Perilaku Seseorang

Asevanā ca bālānaṁ, paṇḍitānañca sevanā,
pūjā ca pūjanīyānaṁ, etammaṅgalamuttamaṁ,ti.
Tak bergaul dengan orang-orang dungu, bergaul dengan para bijaksanawan,  
menghormat yang patut dihormat, itulah berkah utama.

    DOWNLOAD AUDIO

Manusia sering disebut sebagai makhluk sosial, hidup berbaur berdampingan dengan manusia lain atau dengan individu lain, tidak bisa hidup sendiri. Hal ini sangatlah lumrah karena pada dasarnya manusia sebagai makhluk sosial saling membutuhkan satu sama lain, baik dalam lingkup keluarga, teman sebaya maupun masyarakat luas. Meski sebagai seorang petapa juga tidak lepas dari pergaulan, baik pergaulan petapa dengan sesama petapa sebagai kalyāṇa mitta (sahabat baik), maupun dengan perumah tangga sebagai penyokong. 

Dari pergaulan maka seseorang bisa terpengaruh dengan siapa yang diajak bergaul. Dari pergaulan juga, seseorang bisa menemukan inspirasi, menemukan pengertian yang belum pernah dipelajari, dan menemukan motivasi yang bisa menjadikan semangat menuju keberhasilan ataupun semangat hidup.

Pergaulan sangatlah penting dan sangat berpengaruh dalam membentuk sifat dan perilaku seseorang. Maka dari itu memilah-milah dalam pergaulan menjadi penting. Pada umumnya pergaulan ada dua macam yaitu pergaulan baik dan pergaulan buruk.

Pergaulan baik yaitu suatu pergaulan yang mendukung menuju perkembangan yang lebih baik mencakup banyak hal, entah dalam hal spiritual atau dalam hal yang bersifat duniawi. Sedangkan pergaulan buruk atau pergaulan yang salah yaitu pergaulan yang membawa kemerosotan moral dan spiritual seseorang atau dalam hal yang bersifat duniawi.

Contoh pergaulan buruk atau pergaulan salah yang terjadi di zaman Sang Buddha adalah kisah pergaulan Pangeran Ajātasattu dengan Bhante Devadatta. Karena salah dalam bergaul maka pangeran Ajātasattu sampai terhasut terpengaruh Bhante Devadatta untuk mendapatkan takhta dengan menyingkirkan bahkan melenyapkan Raja Bimbisara, sehingga pangeran Ajātasattu memerintahkan bala tentara untuk menyiksa ayahnya yaitu Raja Bimbisara sampai akhirnya Raja Bimbisara meninggal. (Dhammapada Atthakatha, 162)

Seandainya pangeran Ajatasattu tidak membunuh ayahnya sendiri, dikisahkan dalam Sāmaññaphala Sutta, Dīgha Nikāya bahwa Raja Ajatasattu sewaktu duduk mendengarkan Dhamma dari Sang Buddha, Mata-Dhamma yang murni tanpa noda akan muncul dalam dirinya dan menjadi salah satu pemasuk arus, berada pada sang jalan, yang tidak akan jatuh, artinya mencapai tingkat kesucian pertama yaitu Sotāpanna. Tetapi karena telah membunuh ayahnya maka raja Ajatasattu tidak mencapainya. Maka dari itu pergaulan demikianlah yang membawa banyak kerugian juga penderitaan di kehidupan saat ini dan kehidupan masa mendatang bagi ia yang salah dalam bergaul. Kehidupan Raja Ajatasattu setelah membunuh ayahnya, dikisahkan tidak bisa tidur sebelum bertemu Sang Buddha. Jika Raja Ajjatasatu meninggal akan masuk alam paling menderita (neraka Avici) akibat membunuh seorang ayah yang merupakan pelanggaran berat (garuka kamma). Tetapi setelah bertemu Sang Buddha dan mendapat ajaran Dhamma, Raja Ajatasattu mengakui dan menyadari kesalahan di hadapan Sang Buddha. Sang Buddha menerima pengakuan dari Raja Ajatasattu sehingga dijelaskan Raja Ajatasattu dicegah oleh kammanya sehingga tidak mendapatkan akibat yang seharusnya dirasakan setelah kematian.

Sebaliknya, contoh pergaulan yang baik di zaman Sang Buddha yaitu kisah persahabatan dari Upatissa dan Kolita. Kisah persahabatan Upatissa dan Kolita dalam perjalanan spiritual mencari Dhamma sejati, saling berusaha menemukan dan berbagi satu sama lain, sehingga Upatissa dan Kolita sebelum pergi berpisah membuat kesepakatan siapa yang menemukan Dhamma sejati terlebih dahulu maka akan memberi tahu satu sama lain. Kemudian Upatissa yang setelah ber-temu dengan Bhante Assaji dan mendapat ajaran singkat tentang Empat Kebenaran Mulia, Upatissa mencapai kesucian pertama yaitu Sotāpanna. Setelah itu Upatissa mencari sahabatnya yaitu Kolita dan mengulang ucapan yang disampaikan Bhante Assaji sehingga Kolita juga mencapai kesucian Sotāpanna. Kemudian Upatissa yang sebelumnya sudah bertanya tentang keberadaan Sang Buddha kepada Bhante Assaji,  lalu bersama Kolita dan dua ratus lima puluh pengikutnya menemui Sang Buddha dan memohon untuk masuk per-samuhan bhikkhu, setelah menjadi bhikkhu, Upatissa dan Kolita dikenal sebagai Bhante Sariputta dan Bhante Moggallana. (Dhammapada Atthakatha 392).

Bhante Sariputta dan Bhante Moggallana merupakan contoh bahwa persahabatan yang baik adalah sebab berkembangnya kualitas spiritual seseorang. Pergaulan seperti inilah yang sangat bagus untuk dijadikan contoh, dijadikan inspirasi, membawa banyak manfaat menuju kebahagiaan dalam kehidupan saat ini dan kehidupan masa mendatang. 

Seperti halnya percakapan antara Sang Buddha dengan Bhante Ananda dalam Saṁyutta Nikāya, 45, 2, mengenai teman yang baik, persahabatan yang baik. Bhante Ananda berkata bahwa persahabatan adalah sebagian dalam kehidupan suci, akan tetapi Sang Buddha tidak setuju dengan perkataan Bhante Ananda kemudian Sang Buddha berkata bahwa persahabatan yang baik adalah sepenuhnya dalam kehidupan suci, dengan memiliki pertemanan yang baik, persahabatan yang baik, seseorang diharapkan akan mengembangkan dan melatih Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Setelah mengetahui pengaruh dari pergaulan, maka seseorang hendaknya bisa mencari pergaulan seperti apa yang hendaknya dimiliki dan pergaulan seperti apa yang sepatutnya dihindari. Dalam Aṅguttara Nikāya kelompok 3.26, Tika Nipāta, Puggala Vagga, Sevitabba Sutta. Sutta ini menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis orang yang terdapat di dunia ini berkenaan dengan pertemanan dalam pergaulan. Apakah tiga ini? 
1)Ada orang yang tidak boleh dijadikan teman, tidak boleh diikuti, dan tidak boleh dilayani.
2)Ada orang yang harus dijadikan teman, harus diikuti, dan harus dilayani.                                         
3)Ada orang yang harus dijadikan teman, harus diikuti, dan harus dilayani dengan penghormatan dan penghargaan.
(1) Apakah, jenis orang yang tidak boleh dijadikan teman, tidak boleh diikuti, dan tidak boleh dilayani? Di sini, seseorang lebih rendah [daripada diri sendiri] dalam hal perilaku bermoral, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Orang seperti itu tidak boleh dijadikan teman, tidak boleh diikuti, dan tidak boleh dilayani, kecuali demi rasa simpati dan belas kasihan. 
(2) Dan apakah para bhikkhu, jenis orang yang harus dijadikan teman, harus diikuti, dan harus dilayani? Di sini, seseorang serupa [dengan diri sendiri] dalam hal perilaku bermoral, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Orang seperti itu harus dijadikan teman, harus diikuti, dan harus dilayani. Karena alasan apakah? [Karena ia mempertimbangkan:] ‘Karena kita setara dalam hal perilaku bermoral, maka kita akan berdiskusi tentang perilaku bermoral, dan diskusi ini akan mengalir dengan lancar dan merasa nyaman. Karena kita setara dalam hal konsentrasi, maka kita akan berdiskusi tentang konsentrasi dan diskusi ini akan mengalir dengan lancar dan merasa nyaman. Karena kita setara dalam hal kebijaksanaan, maka kita akan berdiskusi tentang kebijaksanaan, dan diskusi ini akan mengalir dengan lancar dan akan merasa nyaman’. Oleh karena itu orang demikian harus dijadikan teman, harus diikuti, dan harus dilayani.
(3) “Dan apakah para bhikkhu, jenis orang yang harus dijadikan teman, harus diikuti, dan harus dilayani dengan penghormatan dan penghargaan? Di sini, seseorang lebih tinggi [daripada diri sendiri] dalam hal perilaku bermoral, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Orang seperti itu harus dijadikan teman, harus diikuti, dan harus dilayani dengan penghormatan dan penghargaan. Karena alasan apakah? [Karena ia mempertimbangkan:] ‘Dengan cara demikian maka aku akan memenuhi kelompok perilaku bermoral yang belum kupenuhi atau membantu dengan kebijaksanaan dalam berbagai aspek kelompok perilaku bermoral yang telah kupenuhi. Aku akan memenuhi kelompok konsentrasi yang belum kupenuhi atau membantu dengan kebijaksanaan dalam berbagai aspek kelompok konsentrasi yang telah kupenuhi. Aku akan memenuhi kelompok kebijaksanaan yang belum kupenuhi atau membantu dengan kebijaksanaan dalam berbagai aspek kelompok kebijaksanaan yang telah kupenuhi.’  Oleh karena itu orang demikian harus dijadikan teman, harus diikuti, dan harus dilayani dengan penghormatan dan penghargaan. “Ini, para bhikkhu, adalah tiga jenis orang yang terdapat di dunia ini.”

Seorang yang bergaul dengan orang rendah akan mengalami kemunduran; seorang yang bergaul dengan orang yang setara tidak akan mengalami kemunduran; dengan melayani seorang yang tinggi, maka seseorang akan berkembang dengan cepat; oleh karena itu kalian harus mengikuti orang yang lebih tinggi daripada kalian.

Pergaulan merupakan salah satu langkah awal bagi seseorang untuk memulai memperbaiki perilaku seseorang yang mengarah pada sifat-sifat luhur. Mengerti kepada siapa kita bergaul adalah upaya untuk memperbaiki karakter seseorang, yang tentunya dengan memiliki pergaulan yang baik. Karena memiliki teman yang baik dalam pergaulan bisa mengkondisikan seseorang berpikir lebih dewasa, lebih bijaksana. Oleh karena itu memiliki teman yang sepadan dalam moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan atau bahkan teman yang lebih baik, lebih tinggi disebut bergaul dengan teman yang baik, yang mengarahkan pada perkembangan yang lebih baik secara spiritual atau dalam hal yang bersifat duniawi.
Semoga semua makhluk berbahagia.

Referensi:
-Petikan Dīgha Nikāya, DhammaCitta Press. 2009
-Petikan Aṅguttara Nikāya, DhammaCitta Press 2015
-Petikan Saṁyutta Nikāya, DhammaCitta Press 2010
-Paritta Suci, Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia, 2005
-Dhammapada Atthakatha. https://www.sariputta.com/dhammapada/392/cerita-kisah-sariputta-thera
-Dhammapada Atthakatha, sariputta.com/162

Dibaca : 7476 kali