x

Menjadi Istri Yang Baik

Ubho saddhā vadaññū ca, saññatā dhammajīvino;
Te honti jānipatayo, aññamaññaṁ piyaṁvadā, ti.
Baik suami maupun istri memiliki keyakinan, murah hati dan terkendali oleh diri sendiri,
menjalani kehidupan mereka dengan kebaikan, saling menyapa satu sama lain dengan kata-kata menyenangkan. (Paṭha¬ma¬sama¬jīvī ¬Sutta, Aṅguttara Nikāya IV.55)

    DOWNLOAD AUDIO

     Setiap orang tentunya ingin menjadi pasangan yang terbaik bagi rekan hidupnya. Seseorang menikah karena ingin hidup bahagia dengan pasangan. Bila pasangan kita bahagia, tentunya dia juga akan lebih menghargai dan mencintai kita. Salah satu caranya adalah dengan menjadi istri yang baik dan menjadi suami yang baik bagi pasangan anda.
 
     Seorang wanita memainkan peran bagaikan putri, saudara perempuan, istri, dan ibu bagi pasangannya. Dari semua peran ini, peran seorang istri harus dimainkan secara hati-hati. Seorang istri harus memiliki beberapa keterampilan dan kualitas untuk menjaga pernikahan anda dan pasangan agar tetap utuh. Seorang suami mengharapkan istri mereka untuk memiliki semua kualitas yang baik jika memungkinkan. Untuk mem-pertahankan percikan cinta dalam kehidupan keluarga.

     Atas perlakuan yang diterima dari seorang suami yang baik, seorang istri yang mencintai suaminya mempunyai kewajiban harus dilaksanakan. Dalam Sigālovada Sutta, Dīgha Nikāya III. 31, terdapat lima kewajiban seorang istri yakni, 1. Melakukan semua tugas kewajiban dengan baik, 2. Bersikap ramah kepada keluarga dari kedua belah pihak, 3. Setia kepada suami, 4. Menjaga kekayaan dengan baik, 5. Pandai dan rajin dalam melaksanakan semua pekerjaannya. Itulah lima kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang istri kepada suaminya. 

     Selain itu,  dalam Bhariyā Sutta, Aṅguttara Nikāya VII.63, Sang Buddha juga menjelaskan mengenai tujuh jenis istri kepada sujātā, yaitu:
1.Seorang yang buruk, tidak berwelas asih, menyenangi orang lain, mengabaikan suaminya, seorang pelacur, dan senang mengusik. Istri seperti ini disebut istri pembunuh (Vadhakabhariyā)
2.Seorang yang suka menghamburkan kekayaan yang diperoleh suaminya dengan susah payah, tidak mau berpikir, ia berusaha mencuri kekayaan suaminya. Istri seperti ini disebut istri pencuri (Corabhariyā).
3.Seorang yang rakus, malas bekerja, kasar dalam ucapan dan perbuatan, kejam, dan seorang perempuan yang mendominasi penyokongnya. Istri seperti ini disebut istri penguasa (Ayya-bhariyā).
4.Seorang yang senantiasa membantu dan baik hati, yang menjaga suaminya bagaikan seorang ibu kepada anaknya, dan menjaga kekayaan yang diperoleh suaminya. Istri seperti ini disebut istri keibuan (Mātubhariyā)
5.Seorang yang selalu menjunjung tinggi suaminya bagaikan seorang adik perempuan kepada kakak laki-lakinya, teliti, dan menuruti kehendak suaminya. Istri ini disebut seperti istri laksana saudari (Bhaginibhariyā).
6.Seorang yang bergembira melihat suaminya laksana seorang teman yang telah lama tidak bertemu, yang terasuh dengan baik, bermoral, berbakti pada suaminya. Istri seperti ini disebut yang bersahabat (Sakhībhariyā).
7.Seorang yang tenang, tidak mudah marah, sabar terhadap tingkah laku suaminya, hatinya murni, bebas dari kebencian, dan patuh pada kehendak suaminya. Istri seperti ini disebut istri pelayanan (Dāsibhariyā).

     Jenis istri seperti pembunuh, pencuri, dan penguasa adalah istri yang buruk dan tercela. Istri seperti ini, pada saat meninggal akan ter-lahir kembali di alam menyedihkan. Namun istri yang laksana seorang ibu, saudari, sahabat, dan pembantu adalah istri yang baik dan terpuji. Jenis istri seperti ini, karena luhur dan terkendali saat meninggal akan terlahir di alam bahagia.

     Selain mengetahui kewajiban dan tujuh jenis istri, dalam Dhammapada Atthakathā, terdapat sepuluh nasihat untuk Visākhā. Ketika Visākhā ingin menikah, Dhanañjaya sebagai ayahnya memberikan nasihat kepada putrinya. “Putriku tercinta, selaku istri yang baik engkau harus melayani suamimu dengan setia serta mengurus urusan rumah tangga dengan baik. Sepuluh nasihat berikut ini harus diketahui dan dilaksanakan:
1.Janganlah membawa keluar api dari dalam rumah.
2.Janganlah membawa masuk api dari luar rumah.
3.Berilah mereka yang memberi.
4.Janganlah memberi mereka yang tidak memberi.
5.Berilah mereka yang memberi dan yang tidak memberi.
6.Duduklah dengan bahagia.
7.Makanlah dengan bahagia.
8.Tidurlah dengan bahagia.
9.Jagalah api.
10. Hormatilah para dewa di dalam rumah.”

     Sang Buddha pernah bersabda bahwa istri juga adalah sahabat karib dan dewa penolong dari suaminya. Oleh karena itu, istri pantas untuk diperlakukan dengan baik, dihormati, dan dicintai oleh suaminya. Seseorang harus bisa menjadi istri dan ibu yang baik, bijaksana, taat akan ajaran Sang Buddha, dan hidup sesuai dengan Dhamma.







Oleh: Bhikkhu Abhayaseno
Minggu, 30 Juni 2019

Dibaca : 1066 kali