x

Berkah Utama Dalam Kehidupan Ini

Gāravo ca nivāto ca, santuṭṭhī ca kataññutā,
kālena dhammassavanaṁ, etammaṅgalamuttamaṁ.
Memiliki rasa hormat, berendah hati, merasa puas dengan yang dimiliki, ingat budi baik orang, dan mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai, itulah berkah utama.
(Maṅgala Sutta, Khuddakapāṭha 5)

    DOWNLOAD AUDIO

Pada masa Hidup Buddha Gotama, di Jambudīpa (sekarang: India) sering berkumpul banyak orang di sana sini, di gerbang kota dan di aula debat. Mereka mendengar ceramah dari pelbagai kaum sekterian yang berkunjung, berdiskusi dengan mereka mengenai suatu bahasan, dan membayar mereka dengan emas. Selain itu orang-orang juga terbiasa menyaksikan pertandingan debat antara para pakar debat pengelana. 

Suatu ketika mereka bertemu di aula umum. Waktu itu muncullah suatu diskusi yang menarik mengenai “Berkah” (Maṅgala). Mereka bertanya-tanya; Apakah Berkah itu? Apakah Berkah merupakan sesuatu yang terlihat? Apakah Berkah merupakan sesuatu yang terasa? Siapa yang mengetahui apakah sebenarnya Berkah itu?”

Muncullah beberapa pendapat berkenaan dengan Berkah, pertama berpendapat bahwa Berkah adalah sesuatu yang terlihat, kedua berpendapat Berkah adalah sesuatu yang terdengar, ketiga berpendapat Berkah adalah sesuatu yang terasa. Orang yang berpendapat bahwa apa yang terlihat merupakan Berkah tidak mampu meyakinkan orang yang berpendapat bahwa apa yang terdengar merupakan Berkah. Dan tak seorang pun yang mampu meyakinkan kedua pihak lainnya untuk sependapat dengannya. 

Perbincangan mengenai Berkah telah meluas ke segenap penjuru Jambudīpa. Secara berkelompok, orang menebak-nebak apakah berkah itu sesungguhnya. Tatkala perbincangan ini terdengar oleh dewa penjaga manusia (ārakkhadevatā), mereka juga ikut terseret ke dalam perdebatan itu. Lalu, ada juga dewa bumi (bhummadevata), merupakan sahabat dari para dewa penjaga; mereka mendengar perbincangan itu dan ikut menebak-nebak. Terdapat pula para dewa di angkasa (ākāsaṭṭhadevatā) yang merupakan sahabat dari dewa bumi; mereka mendengar perbincangan itu dan ikut menebak-nebak, kemudian para dewa dari Empat Raja Agung (Catum-mahārājikā) merupakan sahabat para dewa angkasa ikut menebak-nebak. Demikianlah, perdebatan dan spekulasi mengenai Berkah menyebar dari alam manusia ke alam Surgawi para dewa dan brahma, sampai ke alam kediaman Murni Tertinggi (Akaniṭṭhabhūmi).

Kegemparan ini berlangsung selama dua belas tahun, namun belum ada definisi yang disepakati. Pada akhir dua belas tahun itu, para dewa di Surga Tavatiṁsa menghadap Sakka raja para dewa. Mereka berkata:

“Paduka, ketahuilah bahwa sebuah pertanyaan mengenai Berkah telah muncul. Sebagian berkata apa yang terlihat adalah Berkah, sebagian lagi berkata apa yang terdengar adalah Berkah, sebagian lagi berpendapat bahwa apa yang terasa adalah Berkah. Kami dan yang lainnya tidak dapat menyimpulkannya. Sesungguhnya, akan baik jika Paduka menyatakan artinya yang sebenarnya.”

Kemudian, Sakka yang terkaruniai dengan kepandaian yang sangat tinggi, menjawab: “Dimanakah Yang Tercerahkan Sempurna berada?”
“Ia ada di dunia manusia, Paduka.”
“Apakah ada yang pernah menanyakan hal ini kepadanya?”
“Tidak ada, Paduka.”
“Tuan-tuan yang baik, bagaimana mungkin kalian bertindak seperti manusia? Setelah tidak mengacuhkan api, kalian mencoba membuat api dari kunang-kunang. Demikian pula, Tuan-tuan yang baik, karena berpikir bahwa diriku pantas ditanyai, kalian telah mengabaikan Yang Terberkahi, Guru Berkah yang tiada banding. Tuan-tuan yang baik mari kita bertanya kepada Yang Terberkahi mengenai hal ini, pastilah kita akan memperoleh jawaban yang sangat memuaskan.

Kala itu, Yang Terberkahi tengah berdiam di Vihāra Jetavana milik Anātapiṇḍika di dekat Sāvatthi. Sang dewa dengan kemuliaan yang sangat luhur, menghadap Yang Terberkahi sembari memberi hormat dan berdiri di tempat yang sesuai, dewa tersebut berkata kepada Yang Terberkahi dengan syair berikut ini; “Banyak Dewa dan Manusia, yang mengharapkan kesejahteraan, merenung mengenai berkah, babarkanlah kepada kami, apa itu Berkah Utama!” Tatkala Sang Yang Terberkahi mendengar kata-kata sang dewa, ia memberikan jawaban-Nya dengan menyebutkan tiga puluh delapan faktor Berkah, yang disusun dalam sebelas bait yang indah. 

Kutipan yang diawal yakni ‘Memiliki rasa hormat, berendah hati, merasa puas dengan yang dimiliki, dan mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai’ merupakan bagian dari ketiga puluh delapan Berkah Utama. 

1.Memiliki rasa hormat dan berendah hati.
Sikap hormat adalah sikap yang baik yang perlu kita tumbuhkan dan praktikkan dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang memiliki rasa hormat maka akan terbentuk sikap kerendahan hati di dalam dirinya. Dengan demikian maka seseorang akan senantiasa memiliki kemajuan dalam spiritual. Tidak memandang rendah orang lain dan senantiasa menjaga sikap dalam berucap dan bertindak, sehingga ia pun menjadi orang yang terhormat karena memiliki sikap yang baik yakni memiliki rasa hormat dan berendah  hati. Y.A. Sariputta pernah bertanya kepada Sang Buddha; ‘Orang dengan watak seperti apa, perilaku seperti apa, tindakan seperti apa, yang akan menjadi mantap sehingga mencapai kesejahteraan tertinggi’. Kemudian Sang Buddha menjawab; ‘Dia adalah orang yang menghormat yang lebih tua; yang tidak iri hati, yang tahu saat yang tepat untuk menjumpai gurunya, yang tahu saat yang tepat untuk mendengarkan dengan penuh perhatian khotbah-khotbah yang dibabarkan dengan baik oleh gurunya itu’. (Kimisila Sutta)

2.Merasa puas dengan yang dimiliki.
Perasaan puas akan memunculkan perasaan sukacita dengan apa yang dimiliki saat ini tanpa harus membandingkan apa yang dimiliki dengan orang lain. Ketika seseorang merasa puas dan cukup, maka tidak akan ada niatan untuk bersikap curang dan culas, tidak akan mengambil keuntungan dalam kegiatan ataupun rencana-rencana kegiatan yang diadakan oleh Vihara, Organisasi, tidak memanfaatkan jabatan untuk menilap dan menggelapkan dana. Tentunya dengan memiliki rasa puas dengan apa yang dimiliki, seseorang telah belajar untuk hidup sesuai kebutuhan, tidak dikuasai oleh keinginan. Dengan demikian, seseorang memiliki sikap hidup yang seimbang, mengerti mana kebutuhan dan mana keinginan. 

3.Ingat budi baik orang (tahu berterima kasih).
Sebagai seorang anak tentunya kita harus mengingat budi baik terutama orangtua kita, mereka yang sangat berjasa sehingga kita ada sampai saat ini tentunya berkat peran dan dukungan orangtua. Maka akan sangat disayangkan alasan kesibukan dalam pekerjaan kita rela mengabaikan orangtua dan menitipkan orangtua di panti jompo. Tentunya orangtua yang baik pun tidak sampai hati menitipkan anaknya di panti asuhan.

4.Mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai.
Ketika seseorang mendegarkan Dhamma di waktu yang sesuai, ia tidak sedang mengantuk ataupun sedang lapar, seseorang akan memiliki perhatian yang baik dalam mendengarkan Dhamma. Dengan mendengarkan Dhamma tentunya seseorang akan mendapatkan manfaat yakni; ‘Seseorang mendengar apa yang belum pernah ia dengar; ia mengklarifikasi apa yang telah ia dengar; ia keluar dari kebingungan; ia meluruskan pandangannya; pikirannya menjadi tenteram. Ini adalah kelima manfaat dalam mendengarkan Dhamma.’ (Dhammassavana­sutta).

Sumber: 
-Paritta Suci, Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia 
-Kronologi Hidup Buddha (Ashin Kusaladhamma)
-https://legacy.suttacentral.net/pi/an5.202
-file:///D:/Kimsila%20Sutta%20-%20Samaggi%20Phala.html

Dibaca : 6081 kali