x

Memberi, Berperang Melawan Kekikiran

Dānañca Yuddhañca Samānamāhu.
Memberi Bagaikan Seorang Prajurit Berada Dalam Peperangan 
(Saṁyutta Nikāya, Sādhu Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Kecenderungan Sifat Manusia
Sebagai seorang manusia, untuk menjadi orang yang baik, kita perlu memiliki niat yang baik, kemudian banyak melakukan perbuatan baik kepada orang lain. Kalau saat ini kita masih memiliki keraguan dalam berbagi kebaikan dengan orang lain untuk mendapatkan kebahagiaan, itu artinya kita harus memberi lebih banyak lagi, karena kebaikan itu bisa kita lakukan bila kita konsentrasi pada memberi yang tulus dengan niatan yang baik. Dengan selalu berbagi kebaikan itu, kita akan menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak akan berkurang dengan berbagi atau memberi, karena kebahagiaan sekecil apapun akan terasa lebih manis dan lebih nikmat kalau kita mengungkapkannya dengan cara berbagi dengan orang lain.
Ada alasan kenapa seseorang terus berkutat untuk enggan membuka tangan dengan berbagi, dalam benak kita bisa saja berpikir ‘Jika saya mempunyai uang lebih, maka saya akan berbagi, akan memberi dan membantunya’. Tetapi masalahnya adalah tidak pernah ada uang lebih. Memberi itu tidak melulu berkutat dengan uang, masih banyak hal lain yang bisa dilakukan tanpa uang, seperti memberikan ide-ide, nasihat, kemampuan, perhatian, kepedulian, harapan dan kasih sayang. Kita mungkin secara fisik tidak lemah, tetapi bila menyangkut soal uang, banyak orang menjadi lemah dan tak berdaya. Masalahnya bukan terletak pada persoalan uang, tapi kemauan untuk berbagi. Semakin banyak memberi, semakin banyak yang kita terima. Kita tidak dapat memberi apa yang tidak kita miliki. Memberi bukan berarti kehilangan segalanya, meski seperti itulah yang dilihat oleh orang biasa. Orang biasa memberi kalau ada untungnya bagi mereka dan pemberian tersebut tidak terlalu besar. Keinginan untuk menerima adalah naluri alamiah yang ada dalam diri masing-masing individu, namun keinginan untuk memberi adalah suatu hal yang harus dipelajari, dan bahkan harus dipraktikkan secara berulang kali agar menjadi kebiasaan alamiah juga. Maka dari itu, mulailah memberi, jangan menunggu orang lain meminta.

Pemahaman Konsep Memberi
Pepatah mengatakan berilah, maka kau akan menerima lebih. Hal ini bukan berarti apa yang dilakukan adalah berpamrih, mengharapkan imbalan. Memberi merupakan tolok ukur kesadaran dan kerelaan. Jika memberi dengan diiringi keinginan untuk suatu balasan, dan penerima pun mengabulkannya, maka itu bukanlah pemberian yang utuh. Namun sebuah  negosiasi. Negosiasi berkutat antara untung dan rugi. Bukan lagi mendasarkan pada hati nurani dan kerelaan. Orang-orang idealnya memiliki kesadaran bahwa semua yang mereka miliki bukan hanya untuk pribadi mereka; tetapi juga agar dapat memberi manfaat pada orang lain. Hal ini meliputi keuangan, waktu, talenta, bahkan hidup mereka sendiri. Dimanapun mereka berada, mereka akan selalu mencari cara agar bisa memberi kontribusi. Buddha menjelaskan, "Bahkan ketika seseorang membuang air cucian mangkuk atau gelasnya ke dalam kolam atau empang, dengan berpikir, 'Semoga semua binatang yang hidup di sini dapat memakan sisa makanan ini,' itu merupakan sumber dari jasa baik."
Tidak ada yang salah dengan memberi sekaligus mengharapkan sesuatu. Itulah seperti pemahaman petani – menabur dan menuai. Konsep yang jauh lebih besar lagi adalah tanpa memikirkan darimana kita akan menerima panen. Orang biasa cenderung memiliki pola pikir ‘apa keuntungan buat saya’. Dia tidak akan memberi kecuali ada sesuatu yang dia terima. Pria atau wanita menunjukkan kekuatan mereka  bukan dengan seberapa banyak yang mereka kumpulkan, tetapi seberapa banyak yang mereka berikan. Sebenarnya, kontribusi untuk dapat memberi adalah untuk kepentingan diri sendiri, tetapi hampir tidak seperti yang biasa dibayangkan.
Beberapa orang menggunakan pola pikir selalu memberi sampai tak ada lagi yang mereka miliki, pemahaman seperti ini tidaklah bijaksana. Mereka memberikan waktu untuk anak-anak mereka, untuk pekerjaan, dan lingkungan, tetapi tidak pernah meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Akibatnya mereka kelelahan, sehingga tidak ada lagi yang dapat mereka berikan kepada orang lain. Bila seseorang menyerahkan seluruh uangnya, hidup seperti orang miskin dan tidak memiliki apapun untuk mempertahankan hidupnya atau untuk orang lain pada masa-masa sulit. Bukannya dapat menolong orang lain, justru pada akhirnya kita menjadi objek pertolongan orang lain.

Pentingnya Memberi
Manfaat memberi adalah menerima. Ketika kita memberi, tidak mungkin kita tidak menerima. Setiap petani memahami hal ini; dia menabur benih di tanah dan mengharapkan panen. Orang memberi pada para politisi karena tahu mereka akan mendapat keuntungan (ini lebih mirip perdagangan, bukan pemberian. Kita menawarkan bantuan dan mengharapkan sesuatu sebagai imbalannya). Beberapa orang merasa bingung dengan gagasan memberi. Mereka berharap si penerima selalu memberi sesuatu pada mereka sebagai balasan. Keadaannya tidak selalu seperti itu. Penghargaan bisa datang dari orang atau tempat lain.
Jika pengetahuan tentang betapa pentingnya memberi telah ada, maka setiap ada pintu kesempatan untuk memberi terbuka lebar dengan sendirinya berbekal pemahaman yang diketahuinya tersebut akan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Buddha menjelaskan tentang betapa pentingnya memberi, ‘Jika makhluk-makhluk mengetahui, seperti yang aku ketahui, hasil dari memberi dan berbagi, mereka tidak akan makan tanpa sebelumnya memberi dahulu, ataupun akan membiarkan noda kekikiran mengotori pikirannya. Meskipun itu adalah gigitan terakhir, suapan terakhirnya, mereka tidak akan makan tanpa sebelumnya memberi dahulu, jika ada seseorang yang bisa menerima pemberiannya. Tetapi karena makhluk-makhluk lain tidak mengetahui, seperti yang aku ketahui, hasil dari memberi dan berbagi, mereka makan tanpa sebelumnya memberi. Noda kekikiran menguasai pikirannya.

Menipiskan Keserakahan
Agama mengajarkan kita untuk tidak rakus dan berlebihan. Sifat serakah menjadi berbahaya karena mendorong kita untuk mendapatkan sesuatu yang seharusnya lebih dari cukup bagi kita seperti yang dijelaskan oleh Buddha ‘lobho dhammānaṁ paripantho, vayo rattindivakkhayo’ (keserakahan adalah rintangan bagi kondisi yang bermanfaat). Di sisi lain, sifat takut dan ragu-ragu juga bisa sama berbahayanya dengan sifat serakah. Ketakutan kita sering kali menghambat kita dalam mengambil risiko. Padahal, tanpa adanya keberanian mengambil risiko, hidup kita tak lebih hanya berjalan di tempat. Berani mengambil risiko yang terukur sesuai kemampuan kita, bisa membawa kita kepada kehidupan yang lebih baik.
Sifat serakah tidak akan pernah berdampak baik. Serakah hanya akan membawa petaka. Orang serakah biasanya tidak suka akan kemajuan yang dicapai orang lain. Ia tidak pernah dihinggapi rasa puas sehingga selalu ingin lebih. Orang serakah mungkin berlimpahan secara materi, namun hidupnya kosong. Orang serakah tidak mungkin hidup bahagia, mereka biasanya akan sulit mendapatkan teman yang berhubungan dengan mereka atas dasar ketulusan. Orang serakah pasti tidak disenangi orang lain. 
Sifat serakah ini dapat kita kikis secara bertahap lewat kemauan kuat untuk mau melihat ke bawah, menengok orang yang belum seberuntung kita. Selanjutnya kita bersyukur dengan apa yang telah kita miliki dengan memberikan santunan kepada mereka yang membutuhkan. Oleh sebab itu, buanglah jauh-jauh sifat serakah karena serakah merupakan salah satu bentuk egoisme yang hanya membawa pada kehancuran hidup kita.

Memulai Merintis Jalan untuk Berbagi
Kita bisa memahami orang lain dengan baik ketika kita telah memahami diri kita sendiri dengan baik. Kita akan tahu apa yang terbaik bagi orang lain ketika kita mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita sendiri. Kita bisa bersimpati kepada orang lain ketika kita bersimpati pada diri kita sendiri. Jadi dalam Buddhisme, pengembangan spiritual seseorang berkembang cukup alami menjadi kepada perhatian terhadap kesejahteraan orang lain. Kehidupan Sang Buddha menggambarkan prinsip ini dengan sangat baik. Beliau menghabiskan enam tahun berjuang untuk mengakhiri penderitaan, setelah itu baru kemudian Beliau mampu membawa manfaat bagi seluruh umat manusia. Seperti layaknya nyala api dari satu lilin dapat menghidupkan lilin-lilin lain tanpa kekurangan cahayanya, melainkan justru menambah terangnya cahaya. Demikian pula, kebahagiaan yang kita rasakan tidak akan berkurang dengan berbagi. Bagaikan dalam suatu peperangan, sedikit prajurit pemberani mengalahkan banyak orang pengecut. Demikian pula, seseorang yang memiliki keyakinan, dalam memberi bahkan pemberian kecil, menggilas banyak kekikiran dan memperoleh buah berlimpah.

Referensi:
-    Amstrong, Karen. 2005. Buddha. Yogyakarta: Bentang.
-    Klemmer, Brian. 2008. The Compassionate Samurai. Tangerang: Penerbit Gemilang.
-    Mehm Tin Mon. 2011. Karma Pencipta Sesungguhnya. Tanpa Kota. Yayasan Hadaya Vatthu.
-    Sastrapratedja, M. 2002. Etika dan Hukum.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
-    Sasmita, Suryadi. 2003. Top Secret Of Success. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo.
-    Saṁyutta Nikāya, Sādhu Sutta.
-    Aṅguttara Nikāya, Vaccha Sutta.
-    Khuddaka Nikāya, Itivuttaka. 
-    http://dhammacitta.org/dcpedia/Pertanyaan_Baik_Jawaban_Baik_(Dhammika)#Kebijaksanaan_dan_Welas_Asih [diakses: Sabtu, 1 September 2012]
-    http://www.accesstoinsight.org/ [diakses: Sabtu, 1 September 2012]

Dibaca : 4693 kali