x

Memahami Dukkha Jalan Menuju Pencerahan

Ye ca kho sammadakkhāte, dhamme dhammānuvattino, 
te janā pāramessanti, maccudheyyaṁ suduttaraṁ.
Mereka yang hidup sesuai dengan Dhamma, yang telah diterangkan dengan baik, 
akan mencapai Pantai Seberang, menyeberangi alam kematian yang amat sukar diseberangi. (Dhammapada 86)

    DOWNLOAD AUDIO

     Memang tidak dipungkiri, mendapat apa yang diinginkan, seperti mendapatkan keturunan bisa mendatangkan kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga. Orang umumnya gembira, bersuka cita dengan lahirnya seorang anak yang sangat diidam-idamkan.

     Tetapi perlu diingat bahwa kebahagiaan seperti demikian masih terus berubah (aniccā), seketika bisa menjelma menjadi penderitaan. Dhammacakkappavattana Sutta menjelaskan tentang penderitaan (dukkha). Kesedihan, ratap-tangis, derita (jasmani), derita batin, dan keputusasaan adalah penderitaan (sokaparideva-dukkhadomanassupāyāsāpi dukkhā), berkumpul dengan yang tidak disenangi adalah penderitaan (appiyehisampa-yogo dukkho), terpisah dari yang disenangi adalah penderitaan (piyehi-vippayogo dukkho), tidak mendapat apa yang diinginkan adalah penderitaan (yampicchaṁ na labhati tampi dukkhaṁ). Singkatnya, lima gugusan pembentuk penyebab kemelekatan adalah penderitaan (saṅkhittena pañcu-pādānakkhandhā dukkhā). (S.N.56. Dhammacakkappavattanavagga)
     Sekalipun seseorang dilahirkan di alam Surga, di alam Brahma, dengan menikmati banyak kemegahan, keindahan dan kebahagiaan dalam rentang waktu yang begitu panjang, selama masih ada nafsu keinginan, kegandrungan atau kesenangan terhadap segala sesuatu demi bertahannya samsāra, selama itu semuanya akan berubah. Para makhluk mengalami kemunculan, perkembangan, penyusutan, dan kehancuran.

     Dalam Majjhima Nikāya 82, Raṭṭhapāla Sutta, tercatat ada empat macam kehilangan:
1.Kehilangan melalui penuaan,
2.Kehilangan melalui penyakit,
3.Kehilangan melalui kekayaan,
4.Kehilangan melalui sanak keluarga.
 
     Buddha mengajarkan empat ringkasan Dhamma, dan disampaikan oleh Yang Mulia Raṭṭhapāla (yang mulanya putra perumah tangga dari Thullakoṭṭhita, di negeri Kuru) kepada Raja Koravya di Taman Migācīra milik raja tersebut, yaitu:
1.Kehidupan di alam mana pun tidaklah kekal, kehidupan itu tersapu berlalu. Melemahnya kekuatan fisik seseorang yang mulanya kuat, kokoh, tetapi usia semakin tua, renta, dibebani tahun-tahun kehidupan, lanjut usia dalam kehidupan, sampai pada tahap akhir.
2.Kehidupan di alam mana pun tidak memiliki naungan dan pelindung. Seseorang ketika sakit, meskipun berharap bisa berbagi rasa sakit pada orang lain agar rasa sakitnya bisa berkurang, tetapi tetap saja ia harus menanggung rasa sakit itu sendirian.
3.Kehidupan di alam mana pun tidak memiliki apa pun dari alamnya sendiri; orang harus meninggalkan semuanya dan melanjutkan kehidupan. Kekayaan materi seseorang tidak bisa dibawa mati, pada kehidupan yang akan datang. Orang lain akan mengambil alih kekayaan itu, sementara ia harus melanjutkan kehidupan sesuai dengan tindakan-tindakannya.
4.Kehidupan di alam mana pun adalah tidak lengkap, tidak memuaskan, budak nafsu keinginan. Sebanyak apa pun kekayaan yang dimiliki, orang selalu merasa kurang, tidak pernah terpuaskan, selalu ingin menuruti nafsu keinginan, lagi dan lagi, hingga tidak menyadari bahwa ia telah dibelenggu oleh nafsu keinginan.

     Demikian yang dikatakan oleh Y.M. Raṭṭhapāla, kemudian Beliau berkata dalam beberapa bait syair, di antaranya: “Sebagian orang juga, tidak hanya raja, menemui kematian dengan nafsu keinginan yang tak reda. Dengan rencana-rencana yang masih tak selesai meninggalkan mayat; nafsu-nafsu tetap tak terpuaskan di dunia ini”. “Orang kaya maupun miskin sama-sama harus me-rasakan sentuhan kematian. Orang tolol dan orang bijak harus merasakannya juga; tetapi sementara si tolol terbaring dipukul oleh ketololannya, tak ada orang suci yang gemetar dengan sentuhan itu”.

     Memiliki keinginan tentu wajar, tetapi tidak semua keinginan harus dipenuhi. “Bagaikan hujan yang tidak menembus ke dalam rumah beratap baik, demikian pula nafsu tidak dapat menembus ke dalam pikiran yang dikembangkan dengan baik” (Dhp. 14). Mengendalikan nafsu menjadi satu cara awal agar batin tidak terjebak dalam mengumbar hawa nafsu (kāma sukhallikānuyoga), dan penyiksaan diri (atta kilamathā nuyoga), kedua hal ini harus dilatih dengan ketat agar selalu melangkah di Jalan Tengah (majjhimā paṭipadā) supaya terhindar dari pandangan keliru dan mengatasi penderitaan karena menyadari bahwa tidak ada kehidupan yang kekal, dan tidak ada kondisi yang bertahan selamanya. Kelompok-kelompok unsur kehidupan terlahir kembali dan mati, lagi dan lagi. (Khuddakanikāya, Theragāthā 121).

     Karena itulah, Buddha mengajarkan tentang penderitaan (dukkha) yang sudah tentu bertujuan bukan untuk menakut-nakuti para siswa-Nya, atau orang lain yang mengenal ajaran-Nya supaya menjadi berkecil hati atau pesimis, tetapi mengajak kita semua menyadari kenyataan hidup, Dhamma merupakan kebenaran nyata. Menyadari apa yang kita dapatkan sifatnya tidak kekal, tidak bisa bertahan selamanya, suatu saat akan berpisah, dan pengertian benar tentang penderitaan seperti ini mulai dipahami, karena penderitaan patut dilihat, dengan melihat akan timbul pengetahuan, dengan pengetahuan akan timbul kebijaksanaan, dengan timbul kebijaksanaan akan timbul ilmu, dan dengan timbul ilmu akan timbul sinar terang. Dengan batin yang terang inilah seseorang dapat melihat segala sesuatu yang muncul karena faktor pembentuk, semuanya itu sewajarnya mengalami kemusnahan (yaṅkiñci samudayadhammaṁ, sabbantaṁ nirodhadhammaṁ). (Dhammacakkappavattana Sutta).

     Dapatkah supaya batin tidak menderita, dapat dimulai dari memiliki cara pandang yang benar (sammādiṭṭhi), dan cara berpikir yang benar (sammā-saṅkappo), melihat kehidupan ini sebagaimana yang sebenarnya (yathā-bhūta ñāṇadassana), (Dhammacakkappavattana Sutta), dengan cara ini batin akan timbul penyadaran tentang hakikat kenyataan hidup sehingga timbul kejenuhan terhadap derita, dan di saat yang sama berusaha melepas kemelekatan (upadana) karena tidak satu pun yang bisa kita genggam bisa bertahan selamanya. Yang menggenggam tidak kekal, dan yang di-genggam pun tidak kekal. Mengapa terus dilekati?

    Kemelekatan timbul karena adanya keinginan, keinginan timbul karena adanya perasaan, perasaan timbul Karena adanya kontak indra-indra pada objek-objek indra (S.N. 16/1). Bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran mata muncul. Pertemuan ketiganya adalah kontak. Dengan kontak sebagai kondisi, perasaan menjadi ada. Karena melihat demikian, siswa mulia yang terpelajar mengalami kemuakan terhadap mata, bentuk, kesadaran mata, kontak mata, dan terhadap perasaan. Karena mengalami kemuakan, dia menjadi kehilangan nafsu. Melalui hilangnya nafsu, pikiran terbebas. Dengan pembebasannya dia memahami: ‘Kemelekatan telah sepenuhnya dipahami olehku’ (S.N.35/60). Meskipun indra-indra kita kontak dengan objek, seperti mata melihat benda, telinga mendengar suara, kontak tidak bisa dihindari. Tetapi cobalah untuk tidak melekati objek-objek tersebut. Saat melihat hanya melihat, saat mendengar hanya mendengar (diṭṭhe diṭṭhamattaṁ bhavisatti, sutte sutamattaṁ bhavisatti). Melihat dengan kesadaran, mendengar dengan kesadaran. Menggunakan semua indra dengan dilandasi perhatian yang bijaksana (yoniso-manasikāra). Kesadaran inilah yang dapat mengurangi kotoran-kotoran batin tidak berkembang biak, bertumpuk menjadi timbunan sampah batin yang menimbulkan penderitaan tiada akhir. Sampai kapan kita bersenang-senang dalam penderitaan? Mencapai pembebasan dengan praktik Jalan Tengah, menjadi tujuan para makhluk.

Sumber:
-Dhammapada. Bahussuta Society. Win Vijāno. 2012.
-Majjhima Nikāya. Bhikkhu Ñānamoli dan Bhikkhu Bodhi. Wisma Sambodhi. Dra. Wena Cintiawati, Dra. Lanny Anggawati, Endang Widyawati, S.Pd. 2008.
-Paritta Suci. Saṅgha Theravāda Indonesia. 2016.
-Saṃyutta Nikāya. Bhikkhu Bodhi. Wisma Sambodhi. Dra. Wena Cintiawati, Endang Widyawati, S.Pd. Dra. Lanny Anggawati. 2010.
-Kamus Baru Buddha Dhamma. Panjika N. Perawira. 1993




Oleh: Bhikkhu Upasanto
Minggu, 28 Juli 2019

Dibaca : 4894 kali