x

MENGHADAPI KEHILANGAN

Ratiyā jāyatī soko, ratiyā jāyatī bhayaṁ
Ratiyā vippamuttassa, natthi soko kuto bhayaṁ
Dari kemelekatan timbul kesedihan, dari kemelekatan timbul ketakutan;
bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.
(Dhammapada, Piya Vagga, syair 214)

    DOWNLOAD AUDIO

Perpisahan

Perpisahan adalah hal yang pasti. Kehilangan bisa terjadi pada siapa saja. Namun, tak semua dari kita tahu bagaimana cara menghadapi kehilangan. Tidak jarang, seseorang harus melalui proses yang cukup panjang untuk menerima suatu perpisahan. Ada beberapa hal yang perlu diketahui supaya proses penerimaan ini tidak berlarut-larut dan agar kesedihan tidak sampai membuat seseorang terpuruk.

Terkadang seseorang merasakan sakit yang amat dalam ketika mengalami kehilangan. Saat seseorang sedang dirundung duka dan kesedihan akibat kehilangan, ia bisa berubah menjadi orang yang super sensitif. Kehilangan sesuatu yang dicintai dan disayangi merupakan mimpi buruk bagi banyak orang dan mereka berusaha sekuat tenaga menghindarinya. Sekuat apa pun seseorang berusaha menggenggam, pada akhirnya akan kehilangan juga.

Melekat Karena Merasa Memiliki

Seseorang merasa kehilangan karena merasa memiliki. Seseorang bisa jadi tidak akan pernah kehilangan jika tidak pernah memiliki. Dalam ajaran Buddha, berpisah dengan apa yang dicintai dan disayangi merupakan salah satu bentuk Dukkha yang dialami manusia. Kehilangan seseorang yang dicinta, kehilangan sanak keluarga, kehilangan harta benda, kehilangan pangkat, jabatan, dan sebagainya. Ketika kehilangan, biasanya orang sedih dan menangis. 

Dalam penjelasan tentang Hukum Sebab Musabab yang Saling Bergantungan (Paticcasamuppada), ada yang namanya Upadana (kemelekatan). Kemelekatan ini yang membuat seseorang amat bersedih ketika mengalami kehilangan. Bahkan ketika seseorang kehilangan benda yang kecil sekalipun, ia bisa merasa sedih yang begitu dalam. Kehilangan hal-hal yang kecil saja membuat menderita, apalagi kehilangan hal-hal yang besar? Apalagi jika kehilangan hal-hal yang begitu berarti.

Mengapa seseorang melekat?

Kemelekatan berawal dari nafsu keinginan (Taṇhā). Karena nafsu keinginan kita jadi melekat. Karena melekat kita jadi ingin menggenggam hal-hal yang kita senangi, menggenggam hal-hal yang kita senangi begitu erat. Kita ingin mempertahankannya. Karena melekat kita jadi menderita ketika kehilangan.

Dalam Dhammapada syair 210 dikatakan, “Janganlah melekat pada apa yang dicintai atau yang tidak dicintai. Berpisah dengan mereka yang dicintai dan bertemu dengan mereka yang tidak dicintai, keduanya merupakan penderitaan.”

1.Memahami bahwa segala sesuatu adalah tidak kekal (Anicca)
Tidak hanya saya yang mengalami kehilangan, semua orang pernah mengalaminya. Lepaskanlah, segala sesuatu pasti berubah, tidak ada yang bisa kita pertahankan untuk tidak berubah. Kita tidak bisa melawan hukum alam. Buddha mengajarkan kepada kita tentang Anicca. Bahwa segala sesuatu itu tidak kekal, setelah muncul akan lenyap. Semua orang pasti pernah mengalami yang namanya kehilangan. Tidak peduli apakah ia tua, muda, kaya, miskin, laki-laki, perempuan, terkenal, maupun tidak terkenal. Kehilangan akan menerjang semuanya.

2.Memiliki ketabahan dalam menghadapi kehilangan (Khanti)
Tetap sabar, tabah, dan tegar menghadapi kehilangan. Dunia tidak serta merta hancur ketika kita mengalami kehilangan. Kehilangan justru merupakan awal yang baru dalam hidup kita. Terima perubahan, terima kehilangan, bersyukurlah dengan apa yang di miliki, maka hati akan menjadi lapang.
Kesabaran merupakan praktik bertapa yang paling tinggi, dalam Ovadapatimokha. Dalam Aṅguttara Nikāya kelompok 4, di sana juga dijelaskan bahwa dalam kemalangan, ketabahan dan kesabaran seseorang dapat diketahui. Ketika kita kehilangan sanak keluarga yang dicinta, sahabat, dan hal-hal yang kita senangi, kita tidak perlu meratap, menjadi gelisah, dan berduka. Yang perlu kita lakukan yaitu menguatkan diri agar tetap sabar dan tahan uji.

3.Memiliki sahabat sejati yang sangat peduli (Kalyanamittata)
Ketika seseorang berduka karena kehilangan, di sana ada sahabat sejati yang selalu berada di samping, mereka berusaha memberikan penghiburan. Ketika kita melihat ada teman kita yang bersedih, maka cepat-cepat kita menghiburnya. Karena bisa jadi pada saat itu, teman kita adalah orang yang paling butuh bantuan dan per-tolongan kita. Bantulah teman kita ini untuk dapat melewati kesedihannya. Bantulah ia agar ia tetap dapat berdiri tegar. Pedulilah dengan teman yang ada di sekeliling kita. Dengan begitu, kita telah menjadi sahabat sejati bagi orang lain. 

4.Lakukanlah sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain (Atthacariya)
Buat diri kita berguna bagi orang lain, berbuat baik, luangkan waktu untuk orang lain, dengan begitu seseorang akan sedikit demi sedikit dapat melupakan kesedihan yang sedang dialami. Saat sedang bersedih karena kehilangan, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah menghentikan pikiran negatif tersebut. Bergegas keluar dan lakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain. Bisa membantu bersih-bersih, memasak, membantu apa saja yang dibutuhkan orang lain. Walaupun itu perbuatan baik yang kecil sekalipun. Dengan melakukan hal-hal positif pada orang lain, kita akan merasa berguna bagi orang lain. Dengan begitu kita lupa kalau sebenarnya kita sedang mengalami kehilangan. 

Penutup

Kehilangan orang yang dicinta dan disayangi adalah hal yang wajar. Adakah seseorang yang tidak pernah mengalami kehilangan orang yang dicinta? Kehilangan ibu? Kehilangan ayah? Kehilangan sanak keluarga dan sahabat?

Kita harus ingat bahwa perpisahan akan terjadi pada siapa saja. Siap atau tidak, kita pasti akan mengalaminya. Kita tidak tahu kapan perpisahan itu bisa terjadi. Yang terpenting untuk saat ini adalah menikmati waktu yang kita punya, bersama orang-orang terkasih yang ada di sekeliling kita.

Dibaca : 477 kali