x

Memaknai Kehidupan Sebagai Manusia Dengan Benar

Kiccho Manussapaṭilābho, kicchaṁ maccāna jivitaṁ.
Kicchaṁ saddhammassavanaṁ, kiccho buddhānamuppado.
“Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia, sungguh sulit kehidupan manusia. Sungguh sulit untuk dapat mendengarkan ajaran benar, begitu pula, sungguh sulit 
munculnya seorang Sammāsambuddha”. (Dhp. Buddha Vagga, 182)

    DOWNLOAD AUDIO

Berkenaan dengan ceramah pada kesempatan ini, saya akan mengawalinya dengan sebuah cerita yang melatar-belakangi syair Dhammapada yang telah saya kutip di awal. Cerita ini bagus dan menarik untuk dibaca sehingga memberikan manfaat dalam bentuk inspirasi bagi kita semua sebagai pembaca. Marilah lihat dan dengarkan dengan saksama, fokuskan perhatian Anda pada cerita yang akan disajikan berikut ini.
Kisah Raja Naga Erakapatta
Ada seekor raja naga yang bernama Erakapatta. Dalam salah satu kehidupannya yang lampau di zaman Buddha Kassapa, ia telah menjadi seorang bhikkhu untuk waktu yang tidak sedikit. Disebab-kan melakukan pelanggaran-pelanggaran kecil dan menjadi gelisah, akhirnya setelah meninggal, ia terlahir menjadi seekor naga. 
Sebagai seekor naga, maka ia harus menunggu kemunculan seorang Buddha yang baru. Erakapatta memiliki seorang putri yang cantik dan memanfaatkannya untuk tujuan menemukan Sang Buddha. Ia menyuruh putrinya menari di tempat terbuka dan mengajukan empat pertanyaan, bagi siapa pun yang dapat menjawab pertanyaannya berhak untuk memperistrinya. Empat pertanyaan yang diajukan oleh putri naga adalah sebagai berikut:
1.Siapakah penguasa?
2.Apakah seseorang yang diliputi oleh kabut kekotoran moral dapat disebut seorang penguasa?
3.Penguasa apakah yang terbebas dari kekotoran moral?
4.Orang seperti apakah yang disebut tolol?
Banyak pelamar yang datang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan berharap untuk memilikinya tetapi tidak ada seorang pun yang memberikan jawaban yang benar karena hanya seorang Buddha yang mampu menjawab dengan benar. Suatu hari, Sang Buddha melihat pemuda yang bernama Uttara dalam pandangan-Nya. Beliau juga mengetahui bahwa Uttara berpotensi untuk mencapai tingkat kesucian Sotāpatti.
Pada saat itu pemuda Uttara telah siap dalam perjalanannya untuk bertemu dengan Putri Naga. Sang Buddha menghentikannya dan mengajari tentang bagaimana cara menjawab sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh Putri Naga. Pemuda Uttara pun merasa senang dan gembira karena diberikan jawaban berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Demikianlah jawaban keempat pertanyaan yang diajukan oleh Putri Naga;
1.Ia yang dapat mengontrol keenam indranya adalah seorang penguasa.
2.Seseorang yang diliputi oleh kabut kekotoran moral tidak dapat disebut seorang penguasa, tetapi ia yang bebas dari kemelekatan disebut seorang penguasa.
3.Penguasa yang bebas dari kemelekatan adalah yang bebas dari kekotoran moral.
4.Seseorang yang menginginkan kesenangan-kesenangan nafsu adalah yang disebut tolol.
Usai mendapatkan jawaban-jawaban tersebut, pemuda Uttara mencapai tingkat kesucian Sotāpatti dan tidak lagi mem-punyai keinginan untuk memiliki Putri Naga. Walaupun demikian, pemuda Uttara tetap pergi ke tempat putri naga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan demi manfaat untuk banyak makhluk. Mendapatkan jawaban yang benar dari pemuda Uttara, putri naga langsung memberitahukan jawaban tersebut kepada ayahnya, Raja Naga Erakapatta.
Singkat ceritanya, Erakapatta langsung meminta pemuda Uttara untuk mengantarkannya menghadap Sang Buddha. Saat bertemu dengan Sang Buddha, Erakapatta menceritakan dirinya pernah menjadi seorang bhikkhu pada masa Buddha Kassapa. Menceritakan sebab-sebab atau pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan sehingga mengakibatkan dirinya terlahir sebagai seekor naga. Setelah mendengarnya, Sang Buddha mengatakan kepada Erakapatta tentang Dhammapada, Buddha Vagga, syair 182 ini. Erakapatta sebagai seekor naga tidak dapat mencapai kesucian setelah khotbah Dhamma berakhir.
Kita yang saat ini terlahir sebagai manusia hendaknya bersyukur karena untuk terlahir sebagai manusia tidaklah mudah melainkan sangat sulit. Seperti contoh dalam atthakatha menerangkan, seorang bhikkhu karena kelengahannya di masa lampau, terlahir menjadi seekor naga dalam waktu yang lama serta menunggu kemunculan Buddha yang baru untuk dapat mendengarkan khotbah tentang Dhamma.
Melalui cerita ini dapat menginspirasi bagi kita sebagai manusia yang mengenal Dhamma. Walaupun dalam teks menerangkan tidak mudah menjadi manusia, tidak mudah hidupnya manusia, tidak mudah mendengarkan ajaran kebenaran dan tidak mudah muncul seorang Sammāsambuddha. Namun, kondisi-kondisi yang sulit tersebut sudah terkondisi di dalam kehidupan saat ini. Oleh karena itu, mari menggunakan kesempatan terlahir sebagai manusia yang dinyatakan sangat sulit dengan benar demi kebaikan diri sendiri, keluarga, lingkungan masyarakat, bahkan dunia ini.
Memaknai kehidupan manusia dengan benar, penulis menggunakan pendekatan dengan salah satu syair Dhamma istimewa. Syair Dhamma istimewa yang telah diajarkan oleh Sang Buddha ini dapat ditemukan dalam Dhammapada syair 183 sebagai inti ajaran Beliau. “sabbapā-passa akaraṇaṁ, kusalassūpasam-padā, sacittapariyodapanaṁ, etaṁ buddhāna sāsanaṁ.” ‘Tidak melakukan segala bentuk kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan, membersihkan batin, inilah ajaran para Buddha’.
1.Sabbapāpassa akaraṇaṁ (tidak melakukan segala bentuk kejahatan).
Penerapan nyata tidak melakukan segala bentuk kejahatan adalah dengan menjaga kemurnian praktik sīla dalam keseharian. Misalkan melaksanakan pañcasīla Buddhis tanpa melanggar salah satu dari kelimanya. Melatih diri melaksanakan aṭṭhasīla dan bisa mengikuti program kesāmaṇera-an bahkan dapat berlatih untuk menjadi seorang bhikkhu. Dengan selalu melatih diri untuk tidak melakukan kesalahan, maka akibatnya akan merasakan kenyamanan, kedamaian, serta keluhuran.
2.Kusalassūpasampadā (senantiasa mengembangkan kebajikan).
Lahir sebagai manusia saat ini, hendaknya berusaha mengembangkan potensi-potensi kebajikan yang ada di dalam dirinya. Kebajikan dapat dilakukan melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan jasmani. Sebagai contoh, seseorang datang ke vihāra dengan niat baik untuk melakukan puja kepada Sang Tiratana, berdana makanan kepada Saṅgha, melayani orangtua dengan penuh hormat dan cinta kasih. Dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti ini, secara otomatis kebajikan melalui sumber pikiran, ucapan, dan badan jasmani telah dilaksanakan.
3.Sacittapariyodapanaṁ (membersihkan batin).
Pikiran seseorang akan menjadi suci apabila dibersihkan oleh dirinya sendiri bukan oleh orang lain atau makhluk lain. Sang Buddha telah mengajarkan Dhamma tentang cara membersihkan batin dari pengotor-pengotornya yakni dengan bermeditasi yang benar. Semakin tekun seseorang bermeditasi dengan benar, maka kualitas batin orang tersebut akan semakin maju dan dapat melihat kebenaran sebagaimana apa adanya. Kemunculan fenomena batin dan jasmani, keberlangsungan dari fenomena tersebut dan lenyapnya fenomena.
Pengetahuan seperti ini yang harus direalisasi sebagai langkah awal untuk memurnikan batin atau menyucikan batin dari kemelekatan-kemelekatan. Sampai akhirnya karena perjuangan yang tidak pernah berhenti untuk bermeditasi, orang tersebut merealisasi magga dan phala yakni pengetahuan jalan dan buah kesucian. Apabila sudah merealisasi tataran kesucian, maka orang tersebut dikatakan aman dan sudah memanfaatkan hidupnya sebagai manusia dengan benar. Inilah yang seyogiyanya dilakukan oleh kita sebagai umat Buddha untuk memaksimalkan kelahiran sebagai manusia yang singkat ini.

Kesimpulan
Sebagai kesimpulan dari artikel ini, setelah mengetahui begitu sulitnya terlahir sebagai manusia, sulitnya hidup sebagai manusia, sulitnya mendengarkan Dhamma, dan sulitnya kemunculan seorang Buddha. Namun, kondisi itu bagi kita tidak meng-alami kesulitan saat ini, sebab kita semua di sini adalah manusia, walaupun hidup sulit tetapi masih bisa bertahan, ajaran kebenaran masih eksis walaupun Sang Buddha telah parinibbāna. Oleh karena itu, maknailah hidup Anda sebagai manusia saat ini untuk semangat belajar dan mempraktikkan Dhamma. Menghindari segala bentuk kejahatan, senantiasa melakukan kebajikan, dan menyucikan pikiran masing-masing agar kenyamanan, kedamaian, serta pembebasan dari pengotornya batin dapat diperoleh.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Referensi:
-
Tim Penerjemah Vidyasena. 1997. Dhammapada Atthakatha, Kisah-kisah Dhammapada.  Yogyakarta: Vidyasena.
Oleh: Bhikkhu Jayaseno
Minggu, 18 Agustus 2019

Dibaca : 1928 kali