x

MENUMBUHKAN KEBIJAKSANAAN

Nidhῑnaṁ va pavattāraṁ, yaṁ passe vajjadassinaṁ, nigayhavādiṁ medhāviṁ, 
tādisaṁ paṇḍitaṁ bhaje, tādisaṁ bhajamānassa, seyyo hoti na pāpiyo’ti.
Seandainya seseorang bertemu orang bijaksana yang menunjukkan dan
memberitahukan kesalahan-kesalahannya seperti orang yang menunjukkan harta
 karun, hendaklah ia bergaul dengan orang bijaksana itu, sungguh baik dan 
tidak tercela bergaul dengan orang bijaksana. (Dhammapada, 76)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam sutta-sutta, jika ada orang memuji Sang Buddha, maka pujian itu isinya adalah sembilan kualitas istimewa Sang Buddha. Apakah sembilan kualitas istimewa Sang Buddha itu?

“Yang Maha Suci (Arahaṁ), Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna (Sammāsambuddho), Sempurna Pengetahuan serta Tindak Tanduk-Nya (Vijjācaraṇa-sampanno), Sempurna Menempuh Jalan ke Nibbāna (Sugato), Pengetahu Segenap Alam (Lokavidū), Pembimbing Manusia yang Tiada Taranya (Anuttaro purisadammasārathi), Guru para Dewa dan Manusia (Satthā devamanussānaṁ), Yang Sadar (Buddho), Yang Patut Dimuliakan (Bhagavā)”.

Di samping sembilan kualitas istimewa ini, terkadang dalam beberapa sutta Sang Buddha digambarkan memiliki Tiga Sifat Agung (luhur/besar), yaitu: Mahā Karuṇā (Penuh Belas Kasih), Mahā Pārisuddhi (Memiliki Kesucian Agung), dan Mahā Paññā (Penuh Kebijaksanaan). 

Jadi ketika ada orang bertanya tentang apakah yang diajarkan Sang Buddha? Kita bisa memberikan jawaban bahwa salah satu ajaran yang diajarkan Sang Buddha adalah tentang Kebijaksanaan.

Bagaimanakah menumbuhkan kebijaksanaan? Dalam Paññā Sutta Kitab Suci Aṅguttara Nikāya kelompok delapan Sang Buddha menjelaskan:

“Para bhikkhu, ada delapan penyebab dan kondisi ini yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual jika belum diperoleh dan untuk meningkatkannya, mematangkannya, dan memenuhinya melalui pengembangan jika sudah diperoleh. Apakah delapan ini?

(1)“Di sini, seorang bhikkhu hidup dengan bergantung pada Sang Guru atau seorang teman bhikkhu tertentu dalam posisi seorang guru, yang terhadapnya ia telah menegakkan rasa malu (hiri) dan rasa takut (ottappa) yang mendalam, telah menegakkan kasih-sayang dan penghormatan. Ini adalah penyebab dan kondisi pertama yang mengarah pada di-perolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual jika belum diperoleh dan untuk meningkatkannya, mematangkannya, dan memenuhinya melalui pengembangan jika sudah diperoleh.”

(2)“Ketika ia sedang menetap dengan bergantung pada Sang Guru atau seorang teman bhikkhu tertentu dalam posisi seorang guru, yang terhadapnya ia telah menegakkan rasa malu dan rasa takut yang mendalam, telah menegakkan kasih-sayang dan penghormatan, ia dari waktu ke waktu menemui mereka dan bertanya: ‘Bagaimanakah ini, Bhante? Apakah makna dari ini?’ Para mulia itu mengungkapkan kepadanya apa yang belum diungkapkan, menjelaskan apa yang tidak jelas, dan menghalau kebingungan sehubungan dengan banyak hal-hal yang membingungkan. Ini adalah penyebab dan kondisi kedua yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual …”

(3)“Setelah mendengarkan Dhamma itu, ia melakukan dua jenis pengasingan: pengasingan dalam jasmani dan pengasingan dalam pikiran. Ini adalah penyebab dan kondisi ketiga yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual …”

(4)“Ia bermoral; ia berdiam dengan terkendali oleh pātimokkha, memiliki perilaku dan kebiasaan yang baik, melihat bahaya dalam pelanggaran-pelanggaran kecil. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Ini adalah penyebab dan kondisi keempat yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual …”

(5)“Ia telah banyak belajar, mengingat apa yang telah ia pelajari, dan mengumpulkan apa yang telah ia pelajari. Ajaran-ajaran itu yang baik di awal, baik di tengah, dan baik di akhir, dengan kata-kata dan makna yang benar, yang mengungkapkan kehidupan spiritual yang lengkap dan murni sempurna—ajaran-ajaran demikian telah banyak ia pelajari, diingat, dilafalkan secara lisan, diselidiki dengan pikiran, dan ditembus dengan baik melalui pandangan. Ini adalah penyebab dan kondisi kelima yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual …”

(6)“Ia telah membangkitkan kegigihan untuk meninggalkan kualitas-kualitas tidak bermanfaat dan mendapatkan kualitas-kualitas bermanfaat; ia kuat, teguh dalam usaha, tidak mengabaikan tugas melatih kualitas-kualitas bermanfaat. Ini adalah penyebab dan kondisi keenam yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual …”

(7)“Di tengah-tengah Saṅgha, ia tidak terlibat dalam obrolan tanpa tujuan dan tanpa arah. Apakah ia sendiri yang membicarakan Dhamma, atau ia meminta seseorang lainnya untuk melakukannya, atau ia berdiam dalam keheningan mulia. Ini adalah penyebab dan kondisi ketujuh yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual …”

(8)“Ia berdiam dengan merenungkan muncul dan lenyapnya dalam kelima kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan: ‘Demikianlah bentuk, demikianlah asal-mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah perasaan … demikianlah persepsi … demikianlah aktivitas-aktivitas berkehendak … demikianlah kesadaran, demikianlah asal-mulanya, demikianlah lenyapnya.’ Ini adalah penyebab dan kondisi kedelapan yang mengarah pada diperolehnya kebijaksanaan yang mendasari kehidupan spiritual jika belum diperoleh dan untuk meningkatkannya, mematangkannya, dan memenuhinya melalui pengembangan jika sudah diperoleh.”

Sumber:
-Dhammapada, Yayasan Dhammadipa Arama
-Dhammacitta Press
-Gradual Sayings IV IV, 104-106

Dibaca : 3547 kali