x

U P O S A T H A

U P O S A T H A

    DOWNLOAD AUDIO

Kata “uposatha” berasal dari kata ‘upavasatha’ yang memiliki makna berdiam dalam, berdiam dekat, mengamalkan, menjaga, merawat. Kadang-kadang uposatha juga disebut sebagai posatha. Kata puasa dalam Bahasa Indonesia diduga berasal dari akar kata yang sama. Pada masa kehidupan Buddha, beberapa petapa menggunakan bulan penuh dan bulan baru untuk mengajarkan ajaran-ajaran mereka. Hari uposatha ditetapkan oleh Buddha atas permintaan Raja Seniya Bimbisāra, dan Buddha menginstruksikan para bhikkhu untuk memberikan pengajaran kepada umat awam pada hari tersebut dan para bhikkhu membacakan pātimokkha setiap dua kali uposatha.  

Dalam teks Pali dikatakan bahwa hari uposatha jatuh pada hari ke-8 dan ke-14 atau ke-15 dari paruh terang atau paruh gelap (cātuddasi pañcadasī aṭṭhamī ca pakkhassa). Jika paruh bulan (pakkha) tersebut memiliki 615 hari maka yang dipakai adalah hari ke-15, tetapi bila hanya memiliki 14 hari maka yang dipakai adalah hari ke-14. Jadi, dalam satu bulan ada empat hari uposatha.

Uposatha-sīla adalah sila yang dilaksanakan pada hari uposatha, biasanya secara khusus merujuk ke aṭṭhasīla (8 sila) tetapi terkadang juga merujuk ke navasīla (9 sila). Bila diamalkan di hari biasa (bukan hari uposatha), maka cukup disebut menjalankan aṭṭhasīla (aṭṭhaṅgikasīla) saja. Uposatha-sīla biasanya diambil pada pagi hari sebelum matahari terbit. Boleh mengambilnya dari seorang bhikkhu atau orang yang memahami seluk-beluk 10 sila. Kalau tidak memungkinkan maka boleh ber-adhiṭṭhāna sendiri dengan mengucapkan satu per satu sila atau cukup ber-adhiṭṭhāna, “Hari ini saya akan menjalankan uposatha-sīla.”              
                                                                                   
Buddha menyanjung setiap orang yang melaksanakan uposatha-sīla. Dalam Gaṅgamāla Jātaka, Buddha pernah berkata, “Para upāsaka, perbuatan kalian ini bagus sekali. Ketika seseorang melaksanakan laku uposatha, mereka seharusnya memberikan derma, menjaga sila, tidak pernah menunjukkan kemarahan, menunjukkan kebaikan, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban dari uposatha. Bahkan orang bijak di masa lampau mendapatkan kejayaan yang besar dari setengah hari menjalankan laku uposatha tersebut.”   
                                                                                                           
Kemudian Buddha mengisahkan riwayat masa lalunya ketika menjadi pelayan seorang saudagar kaya bernama Suciparivāra yang sangat gemar berdana dan melakukan kebajikan lainnya. Istri dan anak-anaknya, seluruh anggota dalam rumah tangganya, pelayan, serta penggembala sapinya melaksanakan enam hari uposatha setiap bulan. Meskipun Bodhisatta tidak mengetahui uposatha sebelumnya, namun dengan tekad yang kuat ia tetap menjalankan uposatha-sīla semaksimal mungkin sampai akhirnya meninggal dunia karena menahan sakit yang tiada tara. Berkat pelaksanaan uposatha-sīla selama setengah hari, maka Bodhisatta terlahir kembali menjadi anak raja yang memiliki menguasai dengan sempurna semua ilmu pengetahuan.       
                             
Reputasi orang yang giat melaksanakan uposatha-sīla akan tersebar luas seperti penjelasan dalam Makhādeva Sutta. Raja Nimi selalu menjalankan uposatha-sīla pada hari ke-8, 14, dan 15 setiap bulannya sehingga membuat para dewa Tāvatiṃsa ingin bertemu dengannya. Sakka, raja para dewa, bahkan mengirim kereta kencana yang ditarik seribu ekor kuda keturunan murni untuk menjemputnya ke alam surga.          
                                                                                                                  
Dalam Uposatha Sutta, Buddha memberikan analogi yang indah terkait pelaksanaan uposatha, “Seseorang tidak boleh membunuh makhluk-makhluk hidup atau mengambil apa yang tidak diberikan; ia seharusnya tidak berkata bohong atau meminum minuman memabukkan; ia harus menahan diri dari aktivitas seksual, dari perbuatan tidak luhur; ia tidak boleh makan di malam hari atau pada waktu yang tidak tepat; ia tidak boleh mengenakan kalung bunga atau mengoleskan wangi-wangian; ia harus tidur di tempat tidur (yang rendah) atau alas tidur di lantai; ini, mereka katakan, adalah uposatha berfaktor delapan yang dinyatakan oleh Buddha, yang telah mencapai akhir penderitaan.    
                                                                                                                                              
Sejauh matahari dan rembulan berputar, memancarkan cahaya, begitu indah dipandang, penghalau kegelapan, bergerak di sepanjang cakrawala, bersinar di angkasa, menerangi segala penjuru. Kekayaan apa pun yang ada di sini mutiara, permata, dan beryl yang baik, emas tanduk dan emas gunung, dan emas alami yang disebut haṭaka semua itu tidak sebanding dengan seperenam belas bagian dari uposatha yang lengkap dengan delapan faktor, seperti halnya sekumpulan bintang (tidak dapat menandingi) cahaya rembulan. Oleh karena itu, seorang perempuan atau laki-laki yang bermoral, setelah menjalankan uposatha yang lengkap dengan delapan faktor, dan setelah melakukan jasa yang menghasilkan kebahagiaan, pergi tanpa cela menuju alam surga.”         
                                                                                                                                       
Tatkala hari uposatha atau hari-hari lainnya, umat Buddha dianjurkan untuk menjernihkan pikiran yang tercemar dalam cara yang benar. Buddha mendorong setiap manusia untuk memberi penghormatan kepada orangtua mereka pada hari-hari semacam ini, melakukan pekerjaan yang benar, melewatkan waktu dalam perenungan yang hening, dan mematuhi aṭṭhasīla. Menjalani uposatha dengan aktivitas demikian ibarat memoles sebuah cermin yang bernoda.       
                         
Pustaka Rujukan:
• Aṅguttara Nikāya: The Numerical Discourses of the Buddha. Boston: Wisdom Publications, 2012.
• Jātaka: Stories of Buddha’s Former Births. New Delhi: Munshiram Manoharlal, 2015.
• Majjhima Nikāya: The Middle Length Discourses of the Buddha. Boston: Wisdom Publications, 1995

Dibaca : 1094 kali