x

Kepedulian Terhadap Keluarga Adalah Kebahagiaan

Dhῑro bhoge adhigamme, saṅgaṇhāti ca ñātake
Tena so kittiṁ pappoti, pecca sagge pamodatῑ’ti
Orang bijaksana, setelah memperoleh kekayaan, akan membantu sanak keluarga. 
Dengan membantu seperti itu, dia akan memperoleh kehormatan. 
Setelah meninggal akan berbahagia di alam surga.
(Khuddakanikāya Jātaka Chakkanipāta 27/936)

    DOWNLOAD AUDIO

Kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari kelompok manusia-manusia lainnya yang tinggal di sekitarnya sehingga kewajiban saling peduli dan membantu merupakan bentuk sosial yang hendaknya dilakukan oleh setiap orang kepada yang lain, terlebih kepada sanak saudara.

Makna dari sanak saudara adalah orang-orang yang dekat, akrab, dan saling mempercayai. Sanak saudara memiliki arti 2 macam, yaitu: 
1. Sanak saudara secara langsung, seperti buyut, kakek-nenek, paman-bibi, kakak-adik, dan sebagainya. Juga disebut sanak saudara karena hubungan dekat, akrab, seperti teman-teman yang akrab, dan lain-lain.
2. Sanak saudara dalam Dhamma, yang memiliki 4 sebab, yaitu: 
- Sebagai sanak saudara karena menjadi bhikkhu
- Sebagai sanak saudara karena menjadi sāmaṇera
- Sebagai sanak saudara karena memberikan nissaya
- Sebagai sanak saudara karena mengajarkan Dhamma.

Orang saling mengenal yang disebut sebagai sanak saudara itu bukan hanya sekadar mengenal secara fisik, namun juga ada kedekatan secara batin. Meskipun tempat tinggal berjauhan, namun ada saling perhatian untuk me-ngetahui kondisi atau kabarnya. Jika mendengar kabar tidak baik, akan selalu siap untuk membantu secara fisik maupun secara materi. Inilah yang disebut sebagai sanak saudara. 

Sebagai sanak saudara yang sesungguhnya, hendaknya memiliki hubungan dekat secara batin, baik di depan maupun di belakang. Jika hanya sekadar bersikap baik ketika sedang makmur, namun menjauh ketika kita sedang kesusahan, ini bukanlah disebut sebagai sanak saudara.

Kita dapat dengan mudah mengetahui siapa saja yang disebut sebagai sanak saudara. Siapa pun juga, ketika kita sedang sakit, mengalami kesulitan secara ekonomi, tidak memiliki kedudukan, dan lain-lain; dia akan tetap dekat dan selalu membantu kita. Ini ada-lah sanak saudara yang sesungguhnya.  

Ciri-Ciri Sanak Saudara Yang Perlu Dibantu

Beberapa orang mengatakan dirinya sebagai sanak saudara kita bahkan banyak yang mengatakan sebagai sanak saudara dalam hitungan waktu, ketika kita sedang mengalami kemakmuran, kemajuan, memiliki kedudukan di masyarakat, dan sebagainya. Bagaimanakah ciri-ciri orang yang bisa dikatakan sebagai sanak saudara itu? Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: 
1.Sebagai orang yang ringan tangan dan suka membantu dengan sungguh-sungguh, tanpa pamrih. 
2. Dapat mengkondisikan dirinya sebagai orang yang perlu dibantu, yaitu: memiliki perilaku baik, rendah hati, tahu menghormat kepada yang patut dihormat, dan sebagainya.

Orang bijaksana, ketika makmur, maju, dan memperoleh kekayaan duniawi selalu mencari kesempatan untuk membantu sanak saudaranya,  karena perbuatan ini merupakan keberkahan yang selalu diharapkan oleh semua orang, sebagaimana yang diajarkan Guru Agung Buddha Gotama dalam Maṅgala Sutta, yaitu:
Ñātakānañca saṅgaho, etaṁ maṅgalamuttamaṁ: menyokong sanak saudara, itulah berkah utama.

Meskipun menyokong sanak saudara adalah keberkahan, namun kita harus bisa melihat kondisi dan waktu yang tepat untuk membantu, yaitu: ketika mereka mengalami kesulitan ekonomi sehingga tidak mendapatkan tempat bernaung; ketika berdagang dan mengalami kerugian besar; ketika membutuhkan transportasi, ketika kekurangan perlengkapan untuk kebutuhan makan; ketika sedang sakit; ketika ada pekerjaan dalam keluarga; ketika difitnah orang; dan sebagainya. Ini adalah waktu atau kondisi-kondisi di mana kita harus siap membantu mereka.

Menyokong sanak saudara merupakan perbuatan yang mudah, tetapi sulit. Dikatakan sulit, tetapi mudah. Semua itu terletak kepada kebersamaan dan kepedulian dari masing-masing. Ada orang yang tidak peduli terhadap sanak saudara hingga akhir kehidupannya, meskipun sebagai saudara kandung. Namun tidak sedikit mereka yang siap membantu orang lain yang tidak ada hubungan darah hingga tidak mempedulikan dirinya sendiri. 

Karena itu, agar dapat dikatakan sebagai orang yang pantas untuk menerima dukungan dan bantuan dari orang lain, kita perlu mempraktikkan 4 Dhamma yang diajarkan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu:
1. Dāna, yaitu: membagi sebagian milik kita untuk menolong orang lain. Dāna merupakan praktik dasar agar kita mampu memupuk solidaritas, kepedulian dan kebersamaan dengan keluarga, teman-teman, dan masyarakat tempat kita tinggal. Seseorang yang memiliki kepedulian dengan membagi materi yang diperlukan untuk orang lain di masyarkat akan menjadi kecintaan bagi orang-orang sekitar yang akan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya.
2. Piyavācā, yaitu pembicaraan atau ucapan yang baik, sopan; ucapan yang bermanfaat; ucapan yang me-ngandung kebenaran; mengenal kata maaf, terima kasih, dan sebagainya. Kata-kata yang menyenangkan bukan hanya sekadar kata-kata yang enak didengar telinga saja, namun juga bermanfaat dan benar, tidak membual sehingga mereka yang mendengarnya akan merasa senang dan mendapat manfaat.
3. Atthacariyā, yaitu melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Sebagai orang yang tinggal di masyarakat maupun kelompok, saling membantu dan gotong royong merupakan dasar membina kebersamaan dan keharmonisan. Misalnya, mengambilkan air minum untuk orang yang sedang kehausan, memberikan payung kepada mereka yang kehujanan, dan sebagainya. 
4. Samānattatā, yaitu kemampuan memposisikan diri sama dengan orang lain. Meskipun secara pendidikan, ekonomi, kedudukan, dan lain-lain; kita memiliki kelebihan, namun jika sedang berhubungan dengan orang lain, kita hendaknya bisa meninggalkan batasan-batasan tersebut untuk mengendalikan ego sehingga orang lain yang memiliki pendidikan, ekonomi, kedudukan tidak sama dengan kita akan mampu bergaul dengan nyaman. Guru Agung Buddha Gotama mengibaratkan kehidupan para bhikkhu yang menjadi siswa Beliau sebagai air laut yang datang dari aliran sungai yang berbeda-beda. Namun ketika sampai di laut, air tersebut tidak disebutkan sebagai air sungai ini, air sungai itu, dan sebagainya. Namun orang akan menyebut air itu sebagai air laut. Dengan bersikap seperti ini, kita akan mampu mambangun persaudaraan yang baik.

Sebagaimana ada 2 sanak saudara yang dimaksud di atas, yaitu sanak saudara secara langsung dan sanak saudara dalam Dhamma. Untuk membantu sanak saudara di jalan Dhamma adalah dengan mengajak mereka untuk melakukan kebajikan-kebajikan, seperti ber-dāna, menjaga sῑla, mengembangkan batin (bhāvanā), mengajarkan Dhamma, dan sebagainya.

Orang bijaksana, ketika sedang maju, makmur, berkembang tidak akan lupa diri terhadap sanak saudaranya. Dia akan berusaha untuk membantu agar sanak saudaranya juga bisa meraih kesuksesan seperti dirinya. Orangtua kita sering menasehati kita bahwa sebagai saudara harus saling mencintai. Jika tidak saling mencintai, meskipun secara fisik sebagai saudara, namun sesungguhnya sudah memutus hubungan persaudaraan.

Orang yang menyokong dan membantu sanak saudaranya, selain merupakan keberkahan, juga akan bermanfaat dalam kehidupan sekarang, yaitu; dia akan mendapatkan kehormatan, dicintai sanak saudara, dilindungi dari bahaya-bahaya yang mengganggu, semakin eratnya persaudaraan; dan setelah meninggal, dia akan berbahagia di alam surga.

Dibaca : 2020 kali