x

10 UPAYA UNTUK MENGIKIS KEKOTORAN BATIN

Yo sahassaṁ sahassena, saṅgame mānuse jine,

ekañ ca jeyya mattānaṁ, sa ve saṅgāmajuttamo.


Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, 

namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri.

(Dhammapada Sahassa Vagga, VII,103)


    DOWNLOAD AUDIO

Sesuatu yang paling berharga dalam hidup manusia adalah kedamaian batin. Sesuatu yang sangat sulit untuk ditaklukkan adalah diri sendiri. Seringkali orang lebih mudah untuk mengomentari kesalahan dan keburukan orang lain, tetapi justru lupa dengan kesalahan dan keburukan diri sendiri. Bukan hanya tentang kesalahan dan keburukan saja, tetapi tentang kebahagiaan pun orang-orang masih mencarinya di luar diri. Padahal sejatinya, untuk menemukan kedamaian batin dan juga menaklukkan diri adalah dengan melihat ke dalam diri masing-masing.

Banyak di antara kita masih berpikir bahwa dengan terpenuhinya semua kebutuhan dan keinginan maka akan memunculkan kebahagiaan. Semua bentuk kesenangan dari pencarian dan pemuasan dari sebuah keinginan bukanlah tidak ada, mereka sudah ada di belakang itu dan akan disertai dengan rentetan penderitaan akibat terpenuhinya semua keinginan itu. Ibaratnya seorang yang ketika haus dan meminum air laut, maka semakin ia minum justru semakin ia haus dan akhirnya dia akan mati keracunan atau mati tersedak oleh air laut itu. Hal seperti inilah yang menjadikan seseorang sulit untuk menaklukkan dirinya sendiri.

Menaklukkan diri sendiri sangat sulit dibandingkan dengan berbuat baik. Orang pada umumnya tidak bisa melakukan perubahan yang lebih baik karena tidak ada niat yang baik untuk mengubahnya. Membina diri adalah kewajiban kita sebagai umat Buddha. Kita harus sadar bahwa hidup di alam manusia ini sungguh singkat dan waktu untuk melakukan kebaikan sangat sedikit. Kita pun tidak pernah tahu sampai kapan bisa bertahan hidup, karena usia yang tidak pasti. Lalu apa yang harus kita latih untuk mengikis kotoran batin dan menaklukkan diri?

Di dalam Sammādiṭṭhi Sutta, Majjhima Nīkaya I, Sang Buddha menjelaskan ada 10 hal yang membawa manfaat. Kesepuluh hal ini dilandasi oleh tiga akar yaitu, tidak serakah, tidak mem-benci, dan kebijaksanaan. Ketiga akar ini merupakan pondasi untuk melenyapkan kegelapan batin. Apabila kegelapan batin mampu dilenyapkan dan mampu mengembangkan pengetahuan benar, maka akan mampu mengakhiri penderitaan. Apakah kesepuluh hal yang membawa manfaat itu?
1.Tidak membunuh makhluk hidup. 
Sebagai makhluk hidup yang memiliki hak untuk bertahan hidup, hendaknya kita tidak merampas hak mereka untuk bertahan hidup juga. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh Sang Buddha bahwa kita dianjurkan untuk memiliki cinta kasih dan kasih sayang yang universal serta mampu menghargai hak hidup makhluk lain. Tidak membunuh makhluk hidup berarti kita sudah ber-usaha untuk tidak membenci makhluk hidup yang lain.
2.Tidak mengambil apa yang tidak diberikan. 
Menghargai kepemilikan orang lain adalah salah satu bentuk latihan untuk mengurangi keserakahan dalam diri. Karena sesuatu yang merupakan milik orang lain tidak patut kita ambil tanpa sepengetahuan pemiliknya. Apabila kita mengambil barang milik orang lain itu artinya kita telah merugikan orang lain dan diri sendiri.
3.Tidak memuaskan nafsu dengan cara yang salah. 
Memuaskan nafsu secara berlebihan dan tidak mengindahkan etika yang berlaku adalah perbuatan buruk. Tetapi jika kita mampu tidak memuaskan nafsu dengan cara yang salah, maka tidak ada cela bagi kita. Karena sesungguhnya salah satu kebahagiaan adalah kebahagiaan tanpa cela.
4.Tidak berdusta. Ucapan benar adalah ucapan yang bebas dari dusta. 
Dengan tidak berdusta maka kita sudah berusaha untuk menjadi orang yang jujur dan menjunjung tinggi kejujuran. Dengan kata lain, dengan tidak berdusta kita sudah menjaga ucapan kita dari hal-hal yang kurang tepat. Bahkan dengan tidak berdusta kita sudah melakukan satu kebajikan yang sangat besar.
5.Tidak memfitnah. 
Berkomunikasi dengan tujuan untuk memberikan stigma negatif adalah salah satu bentuk pelanggaran. Tidak memfitnah merupakan salah satu bentuk dari ucapan benar. Hal ini juga menjadi pilar yang harus dipegang teguh untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan hidup bermasyarakat.
6.Tidak berkata kasar. 
Setiap orang pasti menginginkan mendengar sesuatu yang lembut dan menyenangkan. Oleh karena itu perlu untuk selalu tidak berkata kasar di manapun tempatnya dan dengan siapa pun. Mengendalikan ucapan juga merupakan upaya untuk mengendalikan diri secara utuh.
7.Tidak bergunjing. 
Membicarakan kesalahan dan keburukan orang lain adalah sesuatu yang tidak bermanfaat, tetapi jika dilakukan justru akan menimbulkan kebencian yang besar. Oleh karenanya perlu ditekankan untuk tidak bergunjing tentang apa pun dan siapa pun. 
8.Tidak serakah. 
Salah satu sumber penderitaan adalah keserakahan. Ketika kita memiliki keserakahan, maka tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang diperoleh dan dimiliki. Jika menginginkan kebahagiaan dalam hidup, maka perlu untuk melenyapkan keserakahan ini, karena keserakahan adalah akar yang sangat kuat untuk menimbulkan penderitaan.
9.Tidak membenci. 
Membenci adalah sebab-sebab timbulnya penderitaan yang berkepanjangan. Hari-hari yang dipenuhi dengan rasa benci akan terasa menyedihkan. Cinta kasih yang mampu membantu melenyapkan rasa benci. Karena membenci adalah sungguh tidak bermanfaat, baik bagi pelaku maupun objek. Oleh karena itu lebih baik tidak membenci daripada membenci.
10.Tidak memiliki pandangan salah. 
Menganggap sesuatu yang benar sebagai sesuatu yang benar dan menganggap sesuatu yang salah sebagai sesuatu yang salah. Memahami pengetahuan benar dan berwawasan luas. Hal ini merupakan upaya untuk memiliki pandangan benar dan bebas dari pandangan salah. Dari berbagai hal yang tidak membawa manfaat ini, memiliki pandangan salah adalah yang paling berbahaya. Karena jika seseorang sudah berpandangan salah, maka setiap perbuatan baik yang dilakukan tidak didasari oleh pengetahuan yang benar. Oleh karena itu, sangat penting untuk memiliki pandangan benar untuk menunjang kemajuan batin dari segala aspek.

Berdasarkan hal ini, maka apabila kita melakukan suatu perbuatan yang dapat melemahkan nafsu, kebencian, dan kebodohan, maka perbuatan tersebut dikatakan sebagai perbuatan yang membawa manfaat. Selain itu dengan melakukan kesepuluh hal yang membawa manfaat ini, maka kita sudah berusaha untuk menaklukkan diri kita dari tiga akar yang sangat berbahaya yaitu lobha, dosa, dan moha. Dengan melemahkan tiga akar yang berbahaya itu kita sudah mengikis sedikit demi sedikit kotoran batin sehingga membantu praktik untuk memperoleh kemajuan batin.

Sebagai kesimpulan bahwa, semua makhluk ingin kehidupannya lebih damai dan sejahtera, seyogyanya kita harus menjaga perbuatan lewat tubuh jasmani, perkataan, dan pikiran setiap saat. Bahkan dengan melaksanakan perbuatan baik lewat pikiran, ucapan, dan tindakan jasmani tersebut, kekotoran batin kita akan semakin berkurang.

Sumber:
-Majjhima Nikāya I
-Dhammapada

Dibaca : 1774 kali