x

Seni Hidup Bahagia Dengan Berdana

Dānañca dhammacariyā ca, etammaṅgalamuttamaṁ
Berdana, melakukan kebajikan, itulah berkah utama.

    DOWNLOAD AUDIO

Berbicara tentang bahagia, sudah pasti semua orang mendambakan kebahagiaan, sehingga tidak jarang segala cara dilakukan agar bisa hidup bahagia. Sebenarnya apa kebahagiaan itu sehingga semua orang mendambakan dan menginginkannya? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebahagiaan adalah kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin. Inilah pengertian kebahagiaan secara umum.

Lalu bagaimana dalam perspektif Buddhisme tentang kebahagiaan? Dalam Aṅguttara Nikāya kelompok 2, banyak diuraikan jenis-jenis kebahagiaan dan salah satunya disampaikan oleh Sang Buddha yakni; “Para bhikkhu, ada dua jenis kebahagiaan ini. Apakah dua ini? Kebahagiaan jasmani dan kebahagiaan batin. Ini adalah kedua jenis kebahagiaan itu. Di antara kedua jenis kebahagiaan ini, kebahagiaan batin adalah yang terunggul.” (AN 2.70).

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan itu tidak hanya sekadar kebahagiaan jasmani, namun ada sebuah kebahagiaan yang lebih unggul yakni kebahagiaan batin, sehingga antara kebutuhan jasmani dan batin harus seimbang agar hidup bahagia. Saat ini kita di vihāra adalah upaya melakukan kebajikan untuk memberikan makan batin agar batin tidak gersang. Jika batin sudah gersang susah untuk menumbuhkan kebijaksanaan akan pentingnya melakukan kebajikan.

Kemudian apa hubungannya seni hidup bahagia dengan berdana? Jika dilihat dengan sudut pandang umum, seseorang melihat ketika orang berdana ia kehilangan barang yang diberikan, seharusnya bukan yang berdana yang bahagia, tetapi sebaliknya yang menerimalah yang berbahagia. Lalu di mana letak kebahagiaan dari berdana itu? Inilah sebuah misteri yang akan dibahas pada hari ini.

Orang yang mengerti Dhamma, ketika berdana ada suatu perasaan sukacita yang dirasakan, perasaan ini tidak bisa digambarkan dan dijelaskan dengan kata-kata. Perasaan sukacita ini muncul dari batin yang merasa puas karena sudah melakukan kebajikan yang dilandasi pengertian benar dan penuh ketulusan. Sebab, ketika seseorang melakukan kebajikan tanpa didasari dengan pengertian yang benar dan ketulusan, kerap kali menimbulkan perasaan kecewa.

Sebagai contoh kecil; ketika sesorang berdana makanan kepada para bhikkhu, dan pada saat tersebut yang berdana tidak sedikit sehingga makanan beraneka ragam. Kemudian ada yang berdana sembari berkata; “Bhante ini saya berdana nasi goreng ya, saya yang buat sendiri lho, bhante jangan lupa makan ya”. Karena rasa penasaran, si pendana ini menunggu sejenak sampai bhante selesai makan, dengan tujuan ingin mengetahui kira-kira nasi goreng yang didanakan apakah dimakan atau tidak. Setelah dilihat, ternyata bhante tidak memakannya, yang berdana lalu merasa kecewa. Ini sebuah sikap yang keliru yang harus diluruskan.

Sangat penting untuk diketahui bahwa bagi para bhikkhu, makan juga merupakan bagian dari latihan, karena sebelum makan biasanya para bhikkhu membacakan sebuah perenungan tentang tujuan dari makanan itu sendiri yakni; untuk menunjang pelaksanaan hidup luhur dengan menghilangkan perasaan sakit yang lampau dan akan tidak menyebabkan timbulnya perasaan sakit yang baru dengan makan secara berlebih-lebihan. Dengan demikian, ketidaktercelaan dan kehidupan nyaman akan dapat diperoleh. Maka, tidak semua makanan yang didanakan dihabiskan, para bhikkhu menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Kekecewaan muncul karena berdana tanpa didasari dengan pengertian benar dan ketulusan. Sejatinya, ketika kita berdana hal itu merupakan latihan untuk mengikis kekikiran di dalam diri kita. Maka, hal ini penting untuk diketahui. Dalam Devata Saṁyutta disebutkan bahwa para dewa mencela perbuatan kikir, namun menurut mereka, kekikiran bukan satu-satunya penghalang bagi perbuatan memberi. Kelalaian dan ketidaktahuan akan hukum kamma dan kehidupan setelah kematian juga menjadi penyebab. Di sinilah pentingnya mengapa berdana harus didasari dengan pengertian yang benar dan ketulusan. (Macchari Sutta, SN 1.32).

Sehingga, penasaran kita terjawab tentang seni hidup bahagia dalam hubungannya dengan berdana. Melalui berdana seseorang mengikis kekikiran, setelah kekikiran berkurang di situ ada perasaan sukacita, perasaan sukacita inilah buah kebahagiaan langsung dari berdana. Mengapa berdana ini penting? Karena bisa menunjang kebahagiaan bagi seseorang. Jika kita melihat dan menyadari bahwa tidak sedikit di luar sana yang begitu lahir dalam kondisi serba kekurangan, sebaliknya ada yang begitu lahir sudah dalam kemewahan tanpa kekurangan sedikit pun. Sang Buddha sudah sangat jelas menyampaikan apa penyebab kondisi itu bisa terjadi.

Sang Buddha menjelaskan dalam Cūḷakammavibhanga Sutta, Majjhima Nikāya 135, bahwa seorang laki-laki atau perempuan yang tidak memberikan makanan, minuman, pakaian, dan lain sebagainya karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian ia muncul kembali dalam kondisi menderita, tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di mana pun ia terlahir kembali ia akan menjadi miskin. Demikianlah hal itu mengarah pada kemiskinan.

Sebaliknya seorang laki-laki atau perempuan yang memberikan makanan, minuman, pakaian, dan lain sebagainya karena melakukan dan menjalankan perbuatan-perbuatan demikian, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian ia muncul kembali di alam bahagia, tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di mana pun ia terlahir kembali ia akan menjadi kaya. Demikianlah hal itu mengarah pada kekayaan.

Jika ingin bahagia, maka ber-danalah dengan penuh keyakinan, pengertian yang benar, dan ketulusan. Saat kita merasakan kebahagiaan dari mendapatkan, lalu kapan kita akan bisa merasakan kebahagiaan dari melepaskan? Dari praktik berdana secara kontinu kita tidak hanya belajar mengikis kekikiran, akan tetapi kita juga bisa belajar melepas kemarahan dan kebencian dengan memaafkan agar hidup tidak terbebani oleh hal-hal buruk, sehingga hidup ini akan damai dan bahagia. Ketika melakukan kebajikan berdana, sejatinya kita sedang menanam bibit-bibit kebajikan yang kelak akan membuahkan kebahagiaan, baik saat ini maupun pada masa mendatang, inilah seni hidup bahagia dengan berdana.

Sumber:
-Early Buddhist Society of Indonesia (Berdana, Seni Memberi Menurut Sutta Pali)
-Paritta Suci edisi pembaharuan 2019 (Bhikkhu Dhammadhīro Mahāthera)
-https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kebahagiaan
-https://dhammacitta.org/teks/an/an2/an2.64-76-id-bodhi.html#an-2-70
-https://dhammacitta.org/teks/mn/mn135-id-bodhi.html

Dibaca : 1351 kali