x

Meninggalkan Kejahatan - Meningkatkan Kebajikan

Māvamaññetha pāpassa, na maṁ taṁ āgamissati,
Udabindunipātena, udakumbho pi pūrati
Pūrati bālo pāpassa, thoka thokampi ācinaṁ
Māvamaññetha puññassa, na maṁ taṁ āgamissati,
Udabindunipātena, udakumbho pi pūrati
Pūrati dhīro puññassa, thoka thokampi ācinan’ti

Jangan meremehkan kejahatan walaupun kecil, dengan berkata: “perbuatan jahat tidak akan membawa akibat.” Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula orang bodoh sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kejahatan.
Janganlah meremehkan kebajikan walaupun kecil, dengan berkata: “perbuatan bajik tidak akan membawa akibat.” bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula orang bijaksana sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kebajikan.
(Dhammapada 121-122)

    DOWNLOAD AUDIO

Setiap orang pasti mengharapkan seperti tersebut pada judul tulisan ini. Tentu termasuk setiap orang di antara kita semua, di manapun kita berada. Hal ini benar demikian. Namun, bagaimana realisasi dari pernyataan ini? Tentu, benar-benar tidak mudah bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan secara nyata hal tersebut. Benarkah demikian? Mari kita ikuti penjabaran berikut ini.

Pergilah Meninggalkan Kejahatan
Sesuai pernyataan Sang Buddha kepada para bhikkhu sebagaimana tertulis dalam kitab suci Aṅguttara Nikāya II.ii.9 tentu bahwa setiap orang harus berjuang dan berusaha untuk pergi meninggalkan segala bentuk kejahatan. Pernyataan dalam Sutta yang dimaksud adalah sebagai berikut: “Tinggalkanlah kejahatan, O para bhikkhu! Para bhikkhu, manusia dapat meninggalkan kejahatan. Seandainya saja menusia tidak dapat meninggalkan kejahatan, aku tidak akan menyuruh kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan, maka kukatakan, “Tinggalkanlah kejahatan!””

Seandainya saja meninggalkan kejahatan itu akan membawa ke-rugian dan penderitaan, aku tidak akan menyuruh kalian meninggalkan kejahatan. Tetapi karena meninggalkan kejahatan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan, maka kukatakan, “Tinggalkanlah kejahatan!”

Dari isi Sutta tersebut dapat kita pahami bahwa andai kata perbuatan jahat mungkin akan siap-siap dilakukan, tetapi jika sesaat sebelum itu diteruskan ternyata yang jadi calon pelaku menunda perbuatan jahat itu bahkan terus pergi meninggalkan tempat itu tentu kejahatan tidak jadi (batal) dilakukan. Sebab, bagaimanapun juga, faktor-faktor mendasar yang seharusnya melengkapi peristiwa kejahatan itu akan mungkin terjadi sudah tidak ada, karena yang menjadi calon pelaku sudah pergi, dan objek serta lokasi tempat sudah terpisah dengan objek dan subjek pelaku kejahatan.

Jadi, kata-kata Sang Buddha dalam sutta itu yang sangat jelas bersifat menganjurkan dan menekankan secara tegas kepada para bhikkhu, pada intinya seharusnya mereka meninggalkan kejahatan. Hal itu tentu sangat jelas bahwa justru kerugian dan penderitaan yang hampir saja menimpa si calon korban malah tidak jadi datang dan oleh karena itu justru sebaliknya mendatangkan kebahagiaan baik bagi pihak calon korban maupun si calon pelaku yang tidak jadi berbuat kejahatan karena pergi meninggalkan lokasi tempat itu.

Sikap seperti ini sangat tidak mudah, namun jika hal itu bisa dilakukan tentu sangat terpuji dan amat berharga bagi kehidupan.

Berjuanglah Mengembangkan Kebajikan
Lebih lanjut dalam kitab suci yang sama Aṅguttara Nikāya II.ii.9 juga dikatakan oleh Sang Buddha kepada para bhikkhu bahwa setelah meninggalkan kejahatan, setiap orang mestinya mengembangkan kebajikan. Dalam sutta tersebut Sang Buddha berkata, “Kembangkanlah kebajikan, O para bhikkhu! Para bhikkhu, manusia dapat mengembangkan kebajikan. Seandainya saja manusia tidak mungkin mengembangkan kebajikan, aku tidak akan menyuruh kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan, maka kukakatan, “Kembangkanlah kebajikan!””

Seandainya saja pengembangan kebajikan ini akan membawa kerugian dan penderitaan, aku tidak akan menyuruh kalian mengembangkannya. Tetapi karena mengembangkan kebajikan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan, maka kukatakan, “Kembangkanlah kebajikan!”

Dengan melihat secara benar tentang hal tersebut di atas, terkait dengan kejahatan harus ditinggal, lalu juga diteruskan dengan mengembangkan kebajikan, maka dua kali sulit juga bagi para pelaku tindakan: 1). Untuk melepaskan/meninggalkan hal-hal negatif yaitu kejahatan, dan 2). Untuk mengembangkan hal-hal positif yaitu kebajikan.

Betapa tidak, untuk merealisasikan kedua hal itu jelas membutuhkan pengertian benar dan usaha benar untuk bisa secara benar pula meninggalkan negatifnya dan mengembangkan positifnya. Apalagi sesuai dengan ayat Dhammapada 121 dan 122, tindakan-tindakan itu harus menjadi rutinitas yang berkesinambungan seperti perumpamaan tetesan air yang sedikit tetapi sering dan terus-menerus hingga memenuhi tempayan. Sehingga maksud dari perumpamaan itu tentu demikian juga perbuatan manusia yang tidak boleh dianggap remeh/sepele. Sekecil apapun itu jika sudah menjadi kebiasaan tentu tidak terasa bahwa tindakan itu juga membawa pengaruh yang cukup kuat terhadap kehidupan si pelaku dan juga lingkungan sekitar.

Semoga semua makhluk berbahagia.
Sekian dan terima kasih

Sumber:
Petikan Aṅguttara Nikāya, Vihara Buddhavaṁsa, Klaten Maret 2003.

Dibaca : 4160 kali