x

Teman Sebaya Sebagai Pahlawan Mulia

Sace labhetha nipakaṁ sahāyaṁ, saddhiṁ caraṁ sādhuvihāridhīraṁ
Abhibhuyya sabbāni parissayāni, careyya tenattamano satīmā.
No ce labhetha nipakaṁ sahāyaṁ, saddhiṁ caraṁ sādhuvihāridhīraṁ
Rājāva raṭṭhaṁ vijitaṁ pahāya, eko care mātaṅgaraññeva nāgo.
Apabila anda berhasil bertemu dengan orang yang berkelakuan baik, bijaksana, 
maka anda harus bergaul dengannya sehingga anda akan hidup berbahagia 
dan berhati-hati mengatasi semua mara bahaya.
Apabila anda tidak berhasil bertemu dengan orang yang tidak berkelakuan baik dan bijaksana, maka anda harus pergi sendirian, seperti raja meninggalkan kerajaannya yang telah ditaklukkan musuh. Hidup dalam pengasingan, atau seperti gajah Mātaṅga 
yang hidup sendirian dalam hutan. 
(Nāga Vagga, Bab XXIII:328-329)

    DOWNLOAD AUDIO

Definisi Teman Sebaya 

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, teman sebaya diartikan sebagai kawan, sahabat atau orang yang sama-sama bekerja atau berbuat. Menurut Santrock (2007) mengatakan bahwa kawan-kawan sebaya adalah anak-anak atau remaja yang memiliki usia atau tingkat kematangan yang kurang lebih sama. Dari beberapa pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa teman sebaya adalah hubungan individu pada anak-anak atau remaja dengan tingkat usia yang sama serta melibatkan keakraban yang relatif besar dalam kelompoknya. 

Pertemanan adalah suatu tingkah laku yang dihasilkan dari dua orang atau lebih yang saling mendukung. Pertemanan dapat diartikan pula sebagai hubungan antara dua orang atau lebih yang memiliki unsur-unsur seperti kecenderungan untuk menginginkan apa yang terbaik bagi satu sama lain, simpati, empati, kejujuran dalam bersikap, dan saling pengertian (Irwan Kawi, 2010). 
Dengan berteman, seseorang dapat merasa lebih aman karena secara tidak langsung seorang teman akan melindungi temannya dari apa pun yang dapat membahayakan temannya. Selain itu, sebuah pertemanan dapat dijadikan sebagai adanya hubungan untuk saling berbagi dalam suka ataupun duka, saling memberi dengan ikhlas, saling percaya, saling menghormati, dan saling menghargai. 

Peran Teman Sebaya 

Hubungan pertemanan memiliki kebutuhan yang kuat untuk disukai dan diterima kawan sebaya atau kelompok. Sebagai akibatnya, mereka akan merasa senang apabila diterima, dan sebaliknya akan merasa sangat tertekan dan cemas apabila dikeluarkan dan diremehkan oleh kawan-kawan sebayanya. Setiap hubungan pertemanan, menurut pandangan teman sebaya terhadap dirinya merupakan hal yang paling penting. Menurut Santrock (2007) mengatakan bahwa peran terpenting dari teman sebaya adalah: 
1.Sebagai sumber informasi mengenai dunia di luar keluarga. 
2.Sumber kognitif, untuk pemecahan masalah dan perolehan pengetahuan.
3.Sumber emosional, untuk mengungkapkan ekspresi dan identitas diri. 

Fungsi Pertemanan 

Menurut Gottman dan Parker dalam Santrock (2003), mengatakan bahwa ada enam fungsi perteman yaitu: 
1.Berteman (Companionship)
Berteman akan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menjalankan fungsi sebagai teman bagi individu lain ketika sama-sama melakukan suatu aktivitas. 
2.Stimulasi Kompetensi (Stimulation Competition)
Pada dasarnya, berteman akan memberi rangsangan seseorang untuk mengembangkan potensi dirinya karena memperoleh kesempatan dalam situasi sosial. Artinya melalui teman, seseorang memperoleh informasi yang menarik, penting dan memicu potensi, bakat ataupun minat agar berkembang dengan baik. 
3.Dukungan Fisik (Physicial Support)
Dengan kehadiran fisik seseorang atau beberapa teman, akan menumbuhkan perasaan berarti (berharga) bagi seseorang yang sedang menghadapi suatu masalah.
4.Dukungan Ego 
Dengan berteman akan menyediakan perhatian dan dukungan ego bagi seseorang, apa yang dihadapi seseorang juga dirahasiakan, dipikirkan dan ditanggung oleh orang lain (temannya).  
5.Perbandingan Sosial (Social Comparison)
Berteman akan menyediakan kesempatan secara terbuka untuk mengungkapkan ekspresi, kompetensi, minat, bakat dan keahlian seseorang.  
6.Intimasi/Afeksi (Intimacy/Affection)
Tanda berteman adalah adanya ketulusan, kehangatan, dan keakraban satu sama lain. Masing-masing individu tidak ada maksud ataupun niat untuk menyakiti orang lain karena mereka saling percaya, menghargai dan menghormati keberadaan orang lain.

Jenis-jenis Pertemanan

Secara umum, pertemanan dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu pertemanan yang baik dan pertemanan yang tidak baik. Pertemanan yang baik adalah pertemanan di mana banyak teman yang selalu mendukung pada per-tumbuhan hal-hal yang positif, yang bersifat mutualisme. Aṅguttara Nikāya menyebutkan apa yang disebut pertemanan yang baik. 

Dikatakan bahwa di desa atau di kota mana pun seseorang tinggal, ia berteman, bercakap-cakap, dan terlibat dalam diskusi dengan para perumah tangga dan putra-putranya, baik muda ataupun tua, yang penuh dengan keyakinan, tingkah laku yang bermoral, dermawan, dan bijaksana. Ia bercakap-cakap dengan mereka dan berdiskusi dengan mereka, ia meniru mereka sehubungan dengan pencapaian mereka dalam hal keyakinan, kemoralan, kedermawanan, dan kebijaksanaan, ini yang disebut pertemanan yang baik, Sedangkan pertemanan yang tidak baik adalah pertemanan di mana banyak teman yang menjadi penghambat dalam kemajuan hal-hal yang positif, tetapi malah membuat hal-hal negatif menjadi berkembang. Seorang figur teman atau sahabat yang merupakan media persahabatan sangat penting untuk dipertimbangkan, karena kepada siapa pun seseorang bergaul adalah manifestasi dari terbentuknya karakter seseorang.




Oleh karena itu, seseorang perlu selektif dan pandai dalam menempatkan diri di dalam pertemanan yang baik. Selektif dalam memilih pertemanan tidak bisa dipandang secara sepintas atau dengan penilaian di waktu itu juga, tetapi perlu melalui proses untuk dapat mengetahui watak dan karakter sesungguhnya dari orang yang hendak dijadikan teman pergaulan. Sebagai solusinya, Aṅguttara Nikāya memberikan cara yang dapat digunakan untuk menilai watak seseorang. Keluhuran orang yang bijaksana dapat diketahui setelah lama tinggal dengannya. Integritasnya dapat diketahui setelah banyak berurusan dengannya. Ketegarannya dapat diketahui dengan mengamati ketika menghadapi masalah. Kebijaksanaannya dapat diketahui dengan segi pembicaraan dalam kurun waktu yang cukup lama. Dengan cara itu, seseorang tidak akan memandang secara sepintas tentang watak dan karakter orang lain.

Tiga Kriteria Jenis Pertemanan

Selektif dalam memilih pergaulan, Sang Guru Buddha menyebutkan bahwa ada tiga jenis orang yang terdapat dalam dunia ini berdasarkan Sevitabba Sutta. Berdasarkan rincian yang dibuat oleh Buddha, tiga jenis orang tersebut antara lain:
1.Orang yang tidak boleh dijadi-kan teman, tidak boleh diikuti, dan tidak boleh dilayani.
Jenis orang ini adalah orang yang lebih rendah dalam hal perilaku moral, rendah dalam konsentrasi, dan rendah dalam kebijaksanaan daripada kita. Orang demikianlah yang hendaknya tidak diikuti sebagai tolok ukur atau teladan, tidak boleh dijadikan teman kecuali demi rasa belas kasihan dan simpati kita kepada mereka.
2.Orang yang harus dijadikan teman, harus diikuti, dan harus dilayani. 
Jenis orang ini adalah ia yang setara dalam hal perilaku moral, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Orang yang seperti demikian yang hendaknya diikuti. Alasannya adalah:
-Karena setara dalam hal perilaku moral, maka ketika seseorang berdiskusi tentang perilaku bermoral, diskusi tersebut dapat diikuti dengan lancar.
-Karena setara dalam hal konsentrasi, maka ketika seseorang berdiskusi tentang konsentrasi, diskusi itu akan berjalan dengan lancar.
-Karena setara dalam hal kebijaksanaan, maka ketika seseorang berdiskusi tentang kebijaksanaan, diskusi itu akan berjalan dengan lancar.
3.Orang yang harus dijadikan teman, harus diikuti, dan harus dilayani dengan penghormatan dan penghargaan. 

Jenis orang ini adalah mereka yang lebih tinggi dari kita dalam hal perilaku moral, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Orang ini seharusnya dijadikan teman, harus diikuti, harus dilayani dengan rasa hormat dan penghargaan. Alasannya adalah untuk membantu menutup kekurangan seseorang dalam hal perilaku moral, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Dengan adanya teman seperti ini, seseorang akan mudah untuk dapat menjadi lebih baik dalam hal moral, konsentrasi, dan kebijaksanaan.  

Di akhir khotbah tersebut, Buddha memberikan pesan bahwa seorang yang bergaul dengan orang rendah akan mengalami kemunduran; seorang yang bergaul dengan orang yang setara tidak akan mengalami kemunduran; dengan melayani seorang yang luhur, maka seseorang akan berkembang dengan mudah. Oleh karena itu, Buddha sangat menitikberatkan untuk senantiasa bergaul dengan orang yang akan memudahkan seseorang untuk menutup kekurangan dengan mudah.

Dibaca : 1867 kali