x

Membuka Pandangan Benar Dengan Dhamma

Appamādo amatapadaṁ, pamādo maccuno padaṁ, appamattā na mīyanti, ye pamattā yathā matā
Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan; kelengahan adalah jalan menuju kematian. Orang yang waspada tidak akan mati, tetapi orang yang lengah seperti orang yang sudah mati.
(Dhammapada II. Appamada vagga, I. Kewaspadaan)

    DOWNLOAD AUDIO

Pandangan benar dapat mempengaruhi cara berpikir menjadi benar, dan berpikir benar dapat mempengaruhi ucapan dan perbuatan menjadi benar. Demikian sebaliknya, ketika seseorang memandang sesuatu dengan keliru, tidak waspada, maka ini akan dapat mempengaruhi cara berpikir menjadi keliru, dan cara berpikir yang keliru itu juga akan dapat mempengaruhi ucapan dan perbuatan yang diambil menjadi keliru. Betapa amat berbahaya bila seseorang dalam berbuat sesuatu diawali dengan pandangan yang keliru atau salah. Pernahkah kita memikirkan akibat yang ditimbulkan dari perbuatan-perbuatan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari dengan pandangan keliru dan tidak waspada? Mengapa kita bisa melakukan perbuatan-perbuatan dengan tidak waspada?

Sang Buddha pernah menjelaskan, bahwa terdapat bahaya besar ketika seseorang dalam keadaan lengah, “Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang mengarah pada bahaya besar selain daripada kelengahan. Kelengahan mengarah pada bahaya besar”, “Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang mengarah pada manfaat besar selain daripada kewaspadaan. Kewaspadaan mengarah pada manfaat besar” (Aṅguttara Nikāya I. IX, 82(1), 83(2) ).

Dengan kewaspadaan, memungkinkan suatu ucapan dan perbuatan akan membawa manfaat yang besar, baik bagi si pelaku maupun orang lain. Contoh sederhana yang nyata bisa kita lihat ketika seseorang mengendarai mobil di jalan raya. Saat orang itu menjaga kewaspadaannya dari mulai mengambil kunci kontak yang biasa tersimpan di laci meja, hati-hati, penuh perhatian menghidupkan mesin, sepanjang jalan ia waspada, maka ia akan dapat sampai tujuan dengan selamat. Inilah manfaat besar yang dapat diperoleh dari selalu menjaga kewaspadaan dan pandangan benar, sebagai buahnya adalah keselamatan. Keselamatan yang ia dapatkan bisa digunakan untuk menambah lebih banyak lagi perbuatan-perbuatan baik dan bermanfaat pada orangtua, sanak-saudara, lingkungan, dan masyarakat luas dengan kejujuran serta ketulusan. Tetapi keadaannya menjadi lain bila ia mengendarai mobil dengan tidak waspada, tidak hati-hati, tanpa perhatian, maka ada kemungkinan besar kecelakaan dapat terjadi kapan saja. Dia bisa saja menabrak atau ditabrak oleh pengendara lain, atau bahkan mobil masuk ke saluran air, masuk ke jurang, dan lain sebagainya. Memandang dengan benar dan waspada, baik sebelum berucap dan berbuat dengan tubuh jasmani, maupun saat melakukan suatu perbuatan dengan penuh perhatian adalah sangat penting.

Pandangan benar ada dua macam yaitu, lokiya dan lokuttara. Pandangan benar lokiya juga terbagi menjadi dua yaitu, pandangan bahwa kamma menghasilkan buahnya, yang dianut oleh baik para Buddhis maupun di luar Buddhis, dan pandangan yang sesuai dengan Empat Kebenaran Mulia, yang eksklusif pada Ajaran Buddha. Pandangan benar lokuttara yaitu, pemahaman atas Empat Kebenaran Mulia yang dicapai melalui penembusan empat jalan dan buah kesucian. Pertanyaan yang diajukan oleh Yang Mulia Sariputta adalah sehubungan dengan sekha yaitu siswa dalam latihan yang lebih tinggi, yang memiliki pandangan benar yang satu arah menuju kebebasan.

YANG BERMANFAAT DAN YANG TIDAK BERMANFAAT

Seseorang bisa saja masih berpandangan tidak benar atau keliru terhadap sesuatu hal, dan sebagai akibatnya ia bahkan tidak pernah tahu bahwa yang ia lakukan selama ini masih keliru, menggunakan cara yang tidak tepat, dan ia akan lakukan itu sepanjang hidupnya. Selama pengertiannya belum diubah, ia menganggap bahwa perbuatannya itu tidak menimbulkan kerugian atau penderitaan bagi dirinya dan makhluk lain. Contohnya adalah membunuh makhluk hidup, dan berbagai macam perbuatan buruk lainnya. Menurut cara pandang Buddhis, pandangan benar perlu memperhatikan aspek manfaat dan tidak bermanfaatnya suatu perbuatan. Di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika, Yang Mulia Sāriputta menjelaskan kepada para bhikkhu berkaitan dengan pandangan benar, “Dalam cara bagaimanakah seorang siswa mulia ber-pandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan tak-tergoyahkan dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati?”, “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami yang tidak bermanfaat dan akar dari yang tidak bermanfaat, yang bermanfaat dan akar dari yang bermanfaat, dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan tak-tergoyahkan dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati ini” (Majjhima Nikāya I. 9).

Dari pernyataan tersebut mengandung makna bahwa, cara seseorang agar bisa memiliki pandangan benar adalah perlu sekali memperhatikan aspek manfaat dan akarnya, serta yang tidak bermanfaat dan akarnya. Itu berarti, bisa dikatakan bahwa dari mana datangnya atau munculnya suatu perbuatan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat itu menjadi dasar pemikiran kita dalam berpandangan benar. Untuk apakah seseorang melakukan suatu perbuatan jika hal itu tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain, tetapi justru penderitaan yang didapatkan? Yang Mulia Sāriputta kemudian menjelaskan lebih lanjut bahwa yang tidak bermanfaat adalah:
1.Membunuh makhluk hidup (pāṇātipātā)
2.Mengambil apa yang tidak diberikan (adinnādānā)
3.Perilaku salah dalam hal kenikmatan indria (kāmesumicchācārā)
4.Kebohongan (musāvādā)
5.Mengucapkan fitnah (pisuṇā vācā)
6.Berkata-kata kasar (pharusā vācā)
7.Bergosip (samphappalāpa)
8.Ketamakan (abhijjhā)
9.Permusuhan (byāpāda)
10.Pandangan salah (micchādiṭṭhi)
Di sini yang tidak bermanfaat (akusala) dijelaskan melalui sepuluh perbuatan tidak bermanfaat. Tiga pertama berhubungan dengan perbuatan tubuh jasmani yang tidak sesuai dengan Dhamma yaitu, membunuh makhluk hidup; ia adalah pembunuh, bertangan darah, terbiasa memukul dan bertindak dengan kekerasan, tanpa belas kasih pada makhluk-makhluk hidup. Ia mengambil apa yang tidak diberikan; ia dengan cara mencuri. Ia melakukan perbuatan salah dalam kenikmatan indria; ia melakukan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan yang dilindungi oleh ibu, ayah, ibu dan ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau sanak saudara mereka, yang memiliki suami, yang dilindungi oleh hukum, dan bahkan dengan mereka yang mengenakan kalung bunga sebagai tanda pertunangan (Majjhima Nikāya I. 41). Empat berikutnya berhubungan dengan ucapan, dan tiga terakhir berhubungan dengan pikiran. Dan akar dari sepuluh hal yang tidak bermanfaat tersebut adalah keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan delusi (moha). Tiga akar ini disebut akar yang tidak bermanfaat karena mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat.

Dan sebaliknya, sepuluh perbuatan yang bermanfaat adalah menghindari pem-bunuhan makhluk-makhluk hidup; menghindari mengambil apa yang tidak diberikan; menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria; menghindari kebohongan; menghindari mengucapkan fitnah, menghindari berkata-kata kasar, menghindari bergosip; ketidaktamakan; tidak bermusuhan; pandangan benar, inilah yang disebut dengan yang bermanfaat. Ketika seorang siswa mulia memahami yang tidak bermanfaat dan akarnya, yang bermanfaat dan akarnya, maka ia sepenuhnya meninggalkan kecenderungan tersembunyi pada nafsu, ia menghapuskan kecenderungan tersembunyi pada penolakan, ia memadamkan kecenderungan tersembunyi pada pandangan dan keangkuhan ‘aku,’ dan dengan meninggalkan ketidaktahuan dan membangkitkan pengetahuan sejati, ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara ini juga seorang siswa mulia menjadi seorang yang berpandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan tak-tergoyahkan dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

Empat Kebenaran mulia adalah adanya dukkha, asal-mula dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan untuk menghakhiri dukkha. Pemahaman siswa atas empat hal ini (yang tidak bermanfaat dan akarnya, serta yang bermanfaat dan akarnya) dikaitkan melalui Empat Kebenaran Mulia yaitu:
1.Semua perbuatan adalah kebenaran penderitaan
2.Akar tidak bermanfaat dan tidak bermanfaat adalah kebenaran asal-mula
3.Tidak terjadinya perbuatan itu dan akar-akarnya adalah kebenaran lenyapnya
4.Jalan mulia yang mencapai lenyapnya adalah kebenaran sang jalan.

MAKANAN

Dalam kehidupan sehari-hari, orang membutuhkan makanan. Dengan makanan yang dikonsumsi inilah maka mereka bisa terus mempertahankan kehidupannya dengan baik dan berkembang. Makanan di sini dijelaskan tidak hanya berupa makanan untuk fisik saja, tetapi juga ada jenis makanan untuk batin/mental, agar muncul pandangan benar bahwa bagaimana hendaknya kita memandang suatu makanan dan memperlakukannya dengan sewajarnya. Ada cara lain yang mana seorang siswa menjadi berpandangan benar yaitu dengan memahami makanan, asal-mula makanan, lenyapnya makanan, dan jalan menuju lenyapnya makanan. Dengan cara itulah seorang siswa menjadi berpandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan tak-tergoyahkan dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

Ada empat jenis makanan untuk memelihara makhluk-makhluk untuk yang telah lahir dan untuk menyokong mereka yang akan lahir yaitu:
1.Makanan fisik (kabalinkāra āhāra) sebagai makanan, kasar atau halus, merupakan kondisi yang penting bagi tubuh fisik
2.Makanan kontak (phassa) adalah bagi perasaan
3.Makanan kehendak pikiran (mano-sañcetanā) adalah bagi kesadaran
4.Makanan kesadaran (viññāṇa) adalah bagi batin dan jasmani.
Dengan munculnya keinginan maka muncul pula makanan. Dengan lenyapnya keinginan maka lenyap pula makanan. Jalan menuju lenyapnya makanan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan. Keinginan disebut asal-mula makanan dalam hal bahwa keinginan dari kehidupan sebelumnya adalah sumber dari individu sekarang dengan ketergantungannya pada konsumsi terus-menerus akan empat makanan dalam kehidupan ini.

Dengan memahami makanan, asal-mula, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya makanan, maka seorang siswa mulia sepenuhnya meninggalkan kecenderungan tersembunyi pada keserakahan, menghapuskan kecenderungan tersembunyi pada penolakan, ia memadamkan kecenderungan tersembunyi pada pandangan dan keangkuhan ‘aku,’ dan dengan meninggalkan ketidaktahuan, dan membangkitkan pengetahuan sejati, ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara ini juga seorang siswa mulia menjadi seorang yang berpandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan tak-tergoyahkan dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati ini. 

Secara harafiah, istilah āhāra mengandung arti apa saja yang menghasilkan suatu akibat, karena istilah āhāra (faktor-faktor yang mempertahankan) berarti apa saja yang mempertahankan proses-proses kehidupan. Makanan sudah jelas sebagai faktor mempertahankan yang mutlak bagi kelangsungan badan jasmani. Kontak harus dimengerti sebagai memiliki suatu pengertian khusus seperti,  sesuatu kumpulan kata benda yang menunjukkan kumpulannya bersama-sama, yaitu mata, objek yang dapat dilihat, dan kesadaran mata timbulnya dari itu. Ini dituliskan dalam bentuk sutu persamaan sebagai berikut: kesadaran mata + mata + objek yang dapat dilihat = kontak. Seluruh persamaan itu adalah disebut kontak mata. Demikian juga kontak dapat timbul melalui lima indria lainnya; telinga, hidung, lidah, badan, dan pikiran. ‘Kontak’ yang demikian juga merupakan faktor yang mempertahankan kehidupan lainnya. Kehendak yang terjadi pada satu saat setelah kontak adalah suatu sebab dari pikiran, dan kemudian, ucapan serta perbuatan sebagai ekspresi atau manifestasi kehidupan. Inilah cara kerja pikiran yang dikondisikan oleh sebab-sebab yang mendahului. Viññāṇa adalah dasar yang terpenting dan merupakn inti kehidupan sesungguhnya. Dalam suatu arti ada dua kategori; kesadaran keindriaan (vīthi viññāṇa) dianggap sebagai salah satu dari istilah-istilah yang telah disebutkan dalam persamaan di atas, dan kesadaran kelahiran kembali (paṭisandhi viññāṇa) merupakan arti yang dimaksudkan di sini. Jenis kesadaran yang kedua ini adalah yang meletakkan dasar bagi kehidupan berikutnya. Itu adalah sebab mula dari apa yang disebut nāma dan rūpa, atau dalam istilah yang kurang teknis, badan dan embrio, yang berkembang dalam kandungan ibu. Ini sesuai dengan salah satu dari rumusan-rumusan Hukum Sebab dan Akibat yang saling bergantungan (paṭiccasamuppāda); ‘karena adanya kesadaran maka timbullah nāma dan rūpa’.

EMPAT KEBENARAN MULIA

Seorang siswa mulia memahami penderitaan, asal-mula penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan, dengan cara inilah ia menjadi berpandangan benar. Kelahiran, penuaan, sakit, dan kematian adalah penderitaan. Ketagihan, yang memperbarui penjelmaan, disertai oleh kenikmatan dan nafsu, dan kenikmatan akan ini dan itu; yaitu, ketagihan pada kenikmatan indria, ketagihan untuk menjelma, ketagihan untuk tidak menjelma. Ini disebut asal-mula penderitaan. Lenyapnya penderitaan adalah peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya, dihentikannya, dilepaskannya, ditinggalkannya, dan ditolaknya keinginan yang sama itu. Dan inilah Jalan Mulia Berunsur Delapan itu: pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

PENUAAN DAN KEMATIAN

Seorang siswa mulia juga memahami penuaan dan kematian, asal-mulanya, lenyapnya, dan jalan menuju lenyapnya penuaan dan kematian. Ciri dari penuaan adalah seseorang bertambah usia, gigi tanggal, rambut memutih, dan kulit keriput. Dengan munculnya kelahiran maka muncul pula penuaan dan kematian. Demikian sebaliknya, dengan lenyapnya kelahiran maka lenyap pula penuaan dan kematian. Jalan menuju lenyapnya penuaan dan kematian adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan.

KELAHIRAN

Seorang siswa mulia memahami kelahiran, asal-mula kelahiran, lenyapnya kelahiran, dan jalan menuju lenyapnya kelahiran. Kelahiran makhluk-makhluk adalah berbagai urutan kehidupan, akan lahir, berdiam dalam rahim, pembentukan, perwujudan kelompok-kelompok unsur kehidupan, memperoleh landasan-landasan kontak, yaitu: landasan-mata, landasan-telinga, landasan-hidung, landasan-lidah, landasan-badan, landasan-pikiran (manāyatana) adalah kata gabungan untuk segala jenis kesadaran. Satu bagian landasan ini—“rangkaian kehidupan” (bhavanga) atau kesadaran bawah sadar—adalah “pintu” munculnya kesadaran pikiran.

Seorang siswa juga memahami penjelmaan, kemelekatan, ketagihan, perasaan, kontak, enam landasan, batin-jasmani, kesadaran, bentukan-bentukan, ketidaktahuan, noda-noda. Dengan memahami faktor-faktor tersebut melalui Empat Kebenaran Mulia, maka seorang siswa mulia dapat mengakhiri penderitaan, menjadi berpandangan benar, yang memiliki keyakinan tak-tergoyahkan dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.
Sumber: 
-Bhikkhu Bodhi.1995.DhammaCitta Press.Jakarta Barat.2013.Majjhima Nikāya I.9.
-Bhikkhu Jeto.Dhamma Vibhāga.2013.

Dibaca : 1588 kali