x

Ketidaklengahan Dalam Ketidakpastian

Appamādo amatapadaṁ, Pamādo maccuno padaṁ
Appamattā na mīyanti, ye pamattā yathā matā

Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan, kelengahan adalah jalan menuju kematian. Mereka yang sadar tidak akan mati,
mereka yang tidak sadar seperti orang mati.
(Dhammapada 21)

    DOWNLOAD AUDIO

Sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru Imlek 2563/2012 dengan tahun Naga air. Setiap tahun baru Imlek yang dirayakan oleh masyarakat Tionghoa ada makna tersendiri. Pergantian tahun baru Imlek semacam ini selain identik dengan warna merah, angpau, lampion, kue keranjang dan kembang api, pada umumnya orang juga akan mulai menafsirkan/meramalkan akan hal-hal yang akan terjadi yang berhubungan dengan shio tahun tersebut. Hal ini sudah menjadi barang umum yang sering orang tanyakan. Meliputi keberuntungan dan kesialan serta juga prediksi yang lainnya berhubungan dengan tahun tersebut. Seperti saat ini banyak sekali orang yang mulai mencari tahu tentang apa yang akan terjadi berhubungan dengan tahun lahirnya, dengan cara membaca buku yang dijual di tempat-tempat umum atau datang kepada seorang yang diyakini mampu meramal.

Apakah dalam hidup ada sesuatu yang pasti?
Banyak orang menilai bahwa ramalan itu sebagai sesuatu yang pasti akan terjadi, sehingga orang yang diramalkan beruntung, dia akan dapat menerima dengan senang hati, tetapi bagi orang yang diramalkan tidak beruntun, umumnya mulai khawatir dan cemas sehingga timbul pemikiran dalam dirinya kecenderungan berpikir yang negatif. Kita perlu kembali merenungkan bahwa yang namanya ramalan adalah sebuah prediksi, jadi yang namanya prediksi itu dapat benar dan juga dapat salah. Jadi sifatnya tidak pasti.

Memang kita hidup dalam masyarakat tentu sangat terpengaruh oleh budaya, dan budaya yang kita anut tersebut sudah turun-temurun dalam waktu yang lama, sehingga sudah mengakar kuat dan membudaya dalam masyarakat kita, maka dengan sendirinya mau atau tidak mau diri kita juga ikut terpengaruh olehnya. Tetapi ketika kita telah  mengenal Dhamma, seyogyanya memahaminya dengan pengertian yang benar dan bijaksana.

Dalam Dhamma dinyatakan bahwa “segala sesuatu yang berkondisi mengalami perubahan (Sabbe saṅkhārā aniccā)”. Demikian pula dengan perubahan tahun tentunya, juga akan mengalami perubahan. Karena prinsipnya segala bentukan/yang berkondisi cepat atau lambat akan berubah. Jadi apapun juga yang terbentuk akan berubah, termasuk diri kita, dan ini merupakan ciri dari kehidupan di dunia. Ketika kita memiliki fisik; fisik juga berubah, kita memiliki batin; batin juga berubah. Oleh karena itu jangan takut dan khawatir jika ada perubahan dalam kehidupan kita. Dan ketahuilah bahwa kehidupan itu tidak ada yang pasti dan yang pasti adalah kematian.

Kewaspadaan
Mengingat kehidupan kita yang tidak pasti ini dan agar kita dapat berhasil serta tidak mengalami hal yang tidak diinginkan dalam hidup saat ini, maka kita perlu mengembangkan dalam diri kita, salah satunya adalah dengan membangun kewaspadaan dalam diri kita/jangan lengah pada apa-pun. Dalam Dhammpada syair 21, disebutkan: Appamādo amatapadaṁ, Pamādo maccuno padaṁ, appamattā na mīyanti, ye pamattā yathā matā, artinya: Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan, kelengahan adalah jalan menuju kematian, mereka yang sadar tidak akan mati, mereka yang tidak sadar seperti orang mati. Seperti kita tahu banyak orang yang terlibat dalam perilaku buruk atau menerima hal yang tidak mengenakkan, salah satunya karena mereka mulai tidak waspada/lengah.

Pada masa-masa sulit/ menderita, orang akan mudah untuk waspada dalam hidupnya dan berusaha untuk penuh perhatian, tetapi ketika seseorang mulai merasa ada kemudahan/ kenyamanan kewaspadaan dalam diri seorang, maka kewaspadaan akan mulai berkurang. Seperti orang yang kakinya habis patah tulang, ketika dia berjalan menuruni anak tangga, ia akan berjalan dengan hati-hati dan penuh perhatian, tetapi bagi orang yang kakinya sehat, pada umumnya mereka akan berjalan dengan kurang perhatian. Pernah suatu ketika ada orang turun dari tangga sambil menerima telepon panggilan dari temannya, dia menjawab sambil berjalan dia merasa bahwa anak tangganya sudah habis ternyata anak tangganya masih satu, sehingga dia tergelincir dan jatuh di tempat itu. Dari cerita ini kita tahu penyebab dia jatuh adalah akibat dari ketidakwaspadaan.

Sebagai umat Buddha, kita semestinya memahami bahwa keberuntungan hidup dan ketidakberuntungan hidup dalam kehidupan kita lebih ditekankan pada perilaku kita. Selama kita dalam hidup menjaga perilaku kita, mewaspadai tanpa kelengahan apa yang kita ucapkan, apa yang kita lakukan dan apa yang kita pikirkan, maka kemanapun kita pergi, kita akan jauh dari segala bencana dan mara bahaya. Sang Buddha pernah menyatakan bahwa: “bukan karena kelahiran seseorang menjadi hina, bukan karena kelahiran seorang menjadi mulia, hina dan mulia tergantung apa yang dilakukannya.”

Semoga dengan memahami bahwa hidup adalah tidak ada yang pasti dan selama kita mengembangkan kewaspadaan dalam keseharian kita, maka kita akan dapat menjalani hidup dengan baik,  tanpa ketakutan, dan kekhawatiran.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Dibaca : 4774 kali