x

Begitu Singkat Kehidupan Ini

Amoghaṁ divasaṁ kayirā, appena bahukena vā;
Yaṁ yaṁ vijahate rattiṁ, tadūnaṁ tassa jīvitaṁ.
Jadikanlah harimu produktif, apakah sedikit atau banyak. 
Karena setiap siang dan malam yang berlalu, kehidupanmu berkurang sebanyak itu.
(Theragāthā, 451) 

    DOWNLOAD AUDIO

      Kehidupan saat ini, kita memiliki kesempatan terlahir sebagai manusia berkat kekuatan paramī dari kehidupan masa lampau dan juga bisa bertemu dengan Buddha sāsanā. Kesempatan ini tidak mudah, melainkan sangat sulit untuk memiliki kesempatan seperti ini. Namun walaupun sulit, sekarang kita bisa memiliki kesempatan seperti ini.  Kehidupan saat ini adalah kesempatan untuk mengkondisikan tumimbal lahir di masa mendatang yang lebih baik dan mulia, dan juga kehidupan ini dapat mencegah kelahiran di alam rendah yang lebih menyedihkan daripada kehidupan sekarang ini. Kehidupan ini juga dapat memberikan kesempatan untuk merealisasikan kebebasan (Nibbāna). 

      Kehidupan ini terus berproses mulai dari lahir, sakit, dan mati, sehingga begitu singkat kehidupn ini. Kehidupan yang dimaksud di sini adalah usia. Saat ini kita sedang menjalani sisa-sisa kehidupan, diyakini bahwa setiap abad yang berlalu, usia rata-rata manusia berkurang satu tahun dari usia rata-rata di zaman Sang Buddha. Sekarang ini sudah sekitar 26 abad sejak Sang Buddha parinibbāna, sehingga usia rata-rata manusia saat ini adalah 74 tahun. Kita bisa merenungkan dalam batin masing-masing jika pada hari ini kita berusia 60 tahun, maka kita masih memiliki sisa kehidupan selama 14 tahun lagi. Hari ini sudah masuk tanggal 1 Desember, sehingga tersisa 30 hari lagi maka tahun 2019 akan berakhir, artinya bahwa usia kita berkurang lagi satu tahun, begitu seterusnya berkurang dan berkurang sehingga tanpa disadari kita termakan oleh waktu.

     Kalau bukan saat ini kapan lagi kita berusaha memperbaiki kehidupan kita, karena kehidupan mendatang ditentukan oleh kesempatan saat ini,  sehingga kalau kita lalai saat ini, maka kesempatan kita akan terbuang dengan sia-sia. Apalagi kehidupan ini singkat, kalau kita biarkan berlalu dengan sia-sia dan tidak melakukan hal-hal yang berguna, maka kita akan terus bertumimbal lahir lagi dan lagi tanpa henti. Sang Buddha memberikan perumpamaan tentang singkatnya kehidupan ini, dalam Aṅguttara Nikāya VII, 74 Sang Buddha menjelaskan bahwa: “Dahulu kala, hiduplah seorang guru spiritual bernama Araka, yang bebas dari nafsu indera. Araka mempunyai beratus-ratus murid. Inilah doktrin yang diajarkan oleh Araka kepada murid-muridnya: “Sungguh pendek kehidupan manusia, para brahmana, sungguh terbatas dan singkat. Kehidupan ini penuh dengan penderitaan, penuh dengan pusaran. Hal ini harus dipahami dengan bijaksana. Orang harus melakukan hal yang baik dan menjalani kehidupan yang murni. Tak seorang pun yang pernah terlahir dapat lolos dari kematian.”

      “Bagaikan setetes embun di ujung helai rumput akan dengan cepat lenyap ketika matahari terbit dan tidak bertahan lama, demikian pula, para brahmana, kehidupan manusia adalah seperti setetes embun. Terbatas dan cepat berlalu; memiliki banyak penderitaan, banyak kesengsaraan. Seseorang harus memahami hal ini dengan bijaksana. Ia harus melakukan apa yang bermanfaat dan menjalani kehidupan spiritual; karena tidak ada yang terlahir yang dapat mem-bebaskan diri dari kematian.”
Sang Buddha kemudian melanjutkan: “Tetapi pada saat itu, masa hidup manusia adalah 60.000 tahun dan pada usia 500 tahun gadis-gadis dapat dinikahkan. Pada zaman itu jenis penyakit yang dimiliki orang hanya ada enam, yaitu kedinginan, kepanasan, kelaparan, kehausan, kotoran, dan kencing. Walaupun orang-orang hidup amat lama dan memiliki amat sedikit penderitaan, Araka memberikan ajaran seperti itu kepada para muridnya: “sungguh pendek kehidupan manusia.”

      Walaupun kehidupan kita sebagai manusia saat ini singkat, tetapi tersedia kesempatan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang istimewa yang dapat membuat kita hidup lebih bahagia. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menggunakan kesempatan ini untuk mengkondisikan kelahiran di masa mendatang yang jauh lebih baik dan mulia daripada kehidupan sekarang ini, dan jika mau berjuang dan berlatih saat ini juga kita bisa merealisasikan kebebasan dari derita dengan belajar dan praktik Dhamma Sang Buddha. Karena hanya dengan kita praktik Dhamma, dapat menutup alam-alam rendah dan mencapai kebebasan, selama tidak ada Buddha yang muncul di dunia ini, maka kita tidak dapat mempraktikkan Dhamma yang merupakan jalan menuju kesucian. Oleh karena itu kehidupan ini adalah kehidupan yang mulia.

    Untuk menjadikan kehidupan ini mulia, kita sendirilah yang harus ber-usaha dengan menggunakan kesempatan ini untuk berbuat baik, Sang Buddha hanya sebagai penunjuk jalan. Sang Buddha telah mengajarkan Dhamma sebagai jalan menuju kebahagiaan dan kesucian. Perbuatan baik itu bisa dilakukan setiap saat seperti halnya menjaga pikiran untuk selalu baik, berucap baik, dan bertindak baik. Kita tidak perlu menunggu kesempatan yang besar untuk melakukan kebaikan, ketika ada peluang walaupun kecil, segeralah lakukan. Karena kebajikan yang kecil apabila sering dilakukan berulang-ulang akan menjadi besar. Ingatlah nasihat Sang Buddha di dalam syair Dhammapada 122: “Janganlah meremehkan kebajikan walaupun kecil dengan berkata ‘Perbuatan bajik tidak akan membawa akibat’ Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang jatuh setetes demi setetes. Demikian pula orang bijaksana sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kebajikan.”

      Jika kebajikan-kebajikan yang kecil ini sudah mampu kita lakukan, maka kita bisa melatih diri untuk melepas keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin yang merupakan tiga akar kejahatan yang membelenggu hidup kita. Ketika kita mampu melepas ketiga hal ini, maka yang ada adalah kedermawanan, cinta kasih dan kasih sayang, serta kebijaksanaan, sehingga hidup kita akan menjadi baik dan mulia, karena tidak ada lagi akar-akar yang akan membuat kita tumbuh subur lagi. Walaupun ini tidak mudah, tetapi kita harus berusaha dan latihan karena menjadi baik itu butuh latihan. Karena itu, bergegaslah melakukan kebajikan. Sang Buddha mengatakan di dalam syair Dhammapada 116: “Bergegaslah berbuat kebajikan dan bersihkan pikiranmu dari kejahatan; karena mereka yang enggan berbuat kebajikan, menjadi senang akan kejahatan.” Oleh karenanya kita berusaha untuk selalu menggunakan kesempatan ini untuk berlatih mendekatkan diri kita dengan kebajikan, karena kebajikan adalah sumber kebahagiaan. Waktu akan terus berlalu, oleh karena itu gunakan hari-harimu dengan produktif, apakah sedikit atau banyak. Karena setiap siang dan malam yang berlalu, kehidupanmu berkurang sebanyak itu.

Sumber:
-Petikan Aṅguttara Nikāya, khotbah-khotbah numerikal Sang Buddha
-Khuddaka Nikāya, Theragāthā
-Dhammapada 


Oleh: Bhikkhu Cattaseno
Minggu, 01 Desember 2019
 

Dibaca : 886 kali