x

JENIS-JENIS MANUSIA

Pubbe ca katapuññatā, attasammāpaṇidhi ca, etaṁ maṅgalamuttamaṁ,ti.
Memiliki timbunan kebajikan di masa lampau,
dan membimbing diri dengan benar, itulah berkah utama.

    DOWNLOAD AUDIO

       Sebagai manusia, ada kalanya memiliki pemikiran kalau diri sendiri ini merasa sebagai manusia yang paling menderita di dunia. Pemikiran seperti ini muncul bukannya tanpa alasan, sebabnya ketika seseorang banyak masalah, memiliki kondisi tubuh yang tidak diinginkan, mudah sakit, kehidupan yang berkekurangan (tidak mampu), dan lain sebagainya, sehingga hal-hal itulah yang menjadi beban hidup dirasa sangat berat. Beranggapan kalau hal buruk yang menimpa dan keadaan yang dirasakan saat ini, sebagai nasib yang akan terus dirasakan selamanya. Banyak orang sulit menerima keadaan atau kondisi seperti yang sedang dirasakannya saat ini.





       Meski demikian, dalam ajaran Sang Buddha, untuk dapat lahir sebagai manusia pun adalah suatu hal yang sangat sulit. Seperti yang tertera dalam Dhammapada syair 182, Buddha Vagga, bait pertama yang tertera “Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia”. Demikian pula dalam Nakkhasikha Sutta, Opamma Saṁyutta, Saṁyuta Nikāya, Sang Buddha memberikan pertanyaan berupa perumpamaan kepada para bhikkhu tentang tanah yang ada di kuku Sang Buddha dibandingkan dengan tanah yang ada di bumi ini. Kemudian para bhikkhu menjawab kalau tanah yang ada bumi jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan tanah yang ada di kuku Sang Buddha.  Kemudian Sang Buddha menyampaikan “Demikian pula makhluk-makhluk yang kembali di antara manusia adalah sedikit. Tetapi banyak sekali makhluk-makhluk yang terlahir kembali di alam selain alam manusia.” Jadi sebagai manusia yang sudah lahir dalam keadaan atau kondisi apa pun saat ini, hendaknya tetap bersyukur.

    Meski demikian, sebagai manusia menjalani kehidupan juga tidak mudah, seperti dalam Dhammapada syair 182, bait kedua tertera “Sungguh sulit kehidupan manusia”. Hal ini bisa dilihat dalam lingkungan masyarakat bahwa kondisi, keadaan, kehidupan manusia yang berbeda-beda, suka duka yang dialami bermacam-macam, sehingga tidak jarang seseorang memiliki pemikiran membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dengan berpikir “Mengapa saya seperti ini? Sedangkan orang lain terlihat lebih bahagia.”

      Dalam ajaran Sang Buddha, apa yang sedang dirasakan setiap makhluk sesungguhnya adalah akibat perbuatannya sendiri, terwarisi perbuatannya sendiri. Seperti yang dijelaskan dalam Cūḷakammavibhanga Sutta, sutta ke 135, Majjhima Nikāya, Sang Buddha menjelaskan bagaimana kamma mempengaruhi keberuntungan dan ketidakberuntungan makhluk-makhluk. Sutta ini dijelaskan Sang Buddha karena adanya pertanyaan dari Brahmana muda bernama Subha, Putra Brahmana Todeyya yang bertanya sebab dan kondisi mengapa manusia terlihat hina dan mulia. “Orang-orang terlihat berumur pendek dan berumur panjang, berpenyakit dan sehat, cantik dan buruk rupa, berpengaruh dan tidak berpengaruh, miskin dan kaya, berkelahiran rendah dan berkelahiran tinggi, bodoh dan bijaksana, mengapa manusia terlihat hina dan mulia?” 

       Kemudian Sang Buddha menjelaskan sebab-sebabnya mengapa seseorang mengalami kondisi saat ini yang dirasakan. Sebab seseorang pendek usia karena kehidupan lampaunya adalah sebagai pembunuh, sebab seseorang berumur panjang karena kehidupan lampaunya adalah seorang yang meninggalkan pem-bunuhan makhluk-makhluk, seseorang berpenyakit karena kehidupan lampau-nya adalah seorang penyiksa, melukai makhluk-makhluk, seseorang yang memiliki kesehatan adalah orang yang meninggalkan menyiksa atau melukai makhluk-makhluk dan seterusnya. Hal inilah yang membedakan bermacam-macam jenis orang.

      Dalam Tamotama Sutta, Sutta ke 85 dari Aṅguttara Nikāya 4, Sang Buddha menjelaskan jenis-jenis orang kepada para bhikkhu. “Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini? Seorang yang mengarah dari gelap menuju gelap, seorang yang mengarah dari gelap menuju terang, seorang yang mengarah dari terang menuju gelap, dan seorang yang mengarah dari terang menuju terang”.

      “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang yang mengarah dari gelap menuju gelap? Di sini, seseorang terlahir kembali dalam keluarga rendah, keluarga caṇḍāla, pekerja bambu, pemburu, pembuat kereta, atau pemungut bunga, seorang yang miskin, dengan sedikit makanan dan minuman, yang bertahan hidup dengan susah payah, di mana makanan dan pakaian diperoleh dengan susah payah; dan ia buruk rupa, berpenampilan buruk, cebol, dan banyak penyakit, buta, pincang, timpang, atau lumpuh. Ia tidak memperoleh makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan, kalung bunga, wangi-wangian, dan salep, tempat tidur, tempat tinggal, dan penerangan. Ia melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Sebagai akibatnya, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka. Adalah dengan cara ini seseorang mengarah dari gelap menuju gelap.”

       “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang yang mengarah dari gelap menuju terang? Di sini, seseorang terlahir kembali dalam keluarga rendah, keluarga caṇḍāla, pekerja bambu, pemburu, pembuat kereta, atau pemungut bunga, seorang yang miskin, dengan sedikit makanan dan minuman, yang bertahan hidup dengan susah payah, di mana makanan dan pakaian diperoleh dengan susah payah, dan ia buruk rupa, berpenampilan buruk, cebol, dan banyak penyakit, buta, pincang, timpang, atau lumpuh. Ia tidak memperoleh makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan, kalung bunga, wangi-wangian, dan salep; tempat tidur, tempat tinggal, dan penerangan. Ia melakukan perbuatan baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Sebagai akibatnya, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam tujuan yang baik, di alam surga. Adalah dengan cara ini seseorang mengarah dari gelap menuju terang.”
    
       “Dan bagaimanakah seorang yang mengarah dari terang menuju gelap? Di sini, seseorang terlahir kembali dalam keluarga tinggi, keluarga khattiya yang makmur, keluarga brahmana yang makmur, atau keluarga perumah tangga yang makmur, seorang yang kaya, dengan harta dan kekayaan besar, dengan emas dan perak berlimpah, dengan pusaka dan kepemilikan berlimpah, dengan kekayaan dan panen berlimpah, ia rupawan, menarik, anggun, memiliki kecantikan sempurna. Ia memperoleh makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan; kalung bunga, wangi-wangian, dan salep, tempat tidur, tempat tinggal, dan penerangan. Ia melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Sebagai akibatnya, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka. Adalah dengan cara ini seseorang mengarah dari terang menuju gelap.”

    “Dan bagaimanakah seorang yang mengarah dari terang menuju terang? Di sini, seseorang terlahir kembali dalam keluarga tinggi, keluarga khattiya yang makmur, keluarga brahmana yang makmur, atau keluarga perumah tangga yang makmur, seorang yang kaya, dengan harta dan kekayaan besar, dengan emas dan perak berlimpah, dengan pusaka dan kepemilikan berlimpah, dengan kekayaan dan panen berlimpah, ia rupawan, menarik, anggun, memiliki kecantikan sempurna. Ia memperoleh makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan; kalung bunga, wangi-wangian, dan salep, tempat tidur, tempat tinggal, dan penerangan. Ia melakukan perbuatan baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Sebagai akibatnya, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian ia terlahir kembali di alam tujuan yang baik, di alam surga. Adalah dengan cara ini seseorang mengarah dari terang menuju terang.”

       Inilah jenis-jenis orang yang ada di dunia ini berdasarkan perilaku yang dilakukan di masa lalu, yang mengkondisikan kehidupan saat ini mengalami perbedaan dalam berbagai hal. Kehidupan masa lalu mempengaruhi kondisi kehidupan seseorang saat ini dan kehidupan seseorang saat ini akan mengkondisikan kehidupan yang akan datang. Maka dari itu, seseorang yang menginginkan kehidupan masa mendatang yang lebih baik, harus menanam bibit kebajikan yang berguna di masa yang akan datang.

       Dari uraian di atas bisa dipahami bahwa ketika seseorang dalam hidup saat ini melakukan hal-hal yang tidak baik, entah itu melalui pikiran, ucapan, atau perbuatan, pada saat itu pula ia sedikit demi sedikit mengkondisikan dirinya terlahir di alam menderita (kondisi gelap). Sebaliknya, ketika seseorang berusaha mengisi hidupnya dengan kebaikan, pada saat itu pula ia mengkondisikan dirinya untuk terlahir di alam yang berbahagia (kondisi terang). Oleh sebab itu, janganlah meremehkan perbuatan baik atau perbuatan buruk walaupun kecil, dengan berpikir ‘perbuatan baik atau perbuatan buruk yang kecil itu tidak akan membawa akibat’. Seperti air yang menetes, setetes demi setetes akan memenuhi tempayan dengan air bersih atau air kotor. Demikian kehidupan seseorang, sekecil apa pun perbuatan baik atau perbuatan buruk yang dilakukan maka kehidupannya akan terpenuhi dengan kebaikan atau keburukan. Semoga dengan mengerti hal ini, seseorang selalu berusaha mengisi kehidupannya dengan kebajikan. Semoga semua makhluk berbahagia.


Referensi:
-Paritta Suci, Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia, 2005.
-Dhammapada, Yayasan Dhammadipa Arama, 2019
-Dīgha Nikāya,Team Giri Mangala Publication, Team Dhamma Citta Press. 2009
-Aṅguttara Nikāya, http://Legacy.Suttacentral.net/an4
-Saṁyutta Nikāya,http://Legacy.Suttacentral.net/pi/sn20.2


Oleh: Bhikkhu Uggasilo
Minggu, 08 Desember 2019

Dibaca : 5227 kali