x

MEREDAM KEBENCIAN DALAM DIRI

Na hi verena verāni, sammantῑdha kudācanaṁ
Averena ca sammanti, esa dhammo sanantano
Kebencian tidak akan pernah berakhir, apabila dibalas dengan kebencian. 
Tetapi, kebencian akan berakhir, bila dibalas dengan tidak membenci.
Inilah satu hukum abadi. (Dhammapada I.5)

    DOWNLOAD AUDIO

       Seperti yang diketahui, kehidupan saat ini tidak sedikit dan tidak jarang ditemukan orang-orang yang saling membenci antara satu dengan yang lain, terlebih di lingkungan bermasyarakat ataupun di suatu komunitas yang dikatakan terbaik sekalipun pasti ada yang saling membenci antara satu sama lainnya. Mengingat hal seperti ini tidak sepatutnya menumbuhkan hal semacam itu, dikarenakan kita semua saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya karena kita semua ini makhluk sosial yang seharusnya saling membantu dan mendukung bukan untuk saling membenci, sehingga tidak selayaknya kita membenci orang-orang yang ada di sekeliling kita, sebab orang-orang tersebut juga ikut berperan dalam kelangsungan hidup kita.

       Hal seperti ini menjadi sebuah perbincangan yang hangat di publik, baik di media cetak ataupun di media sosial dikarenakan ketidakcocokan dan ketidaksamaan, maka timbullah kebencian tersebut, sehingga ingin melakukan hal-hal yang kurang baik, hal yang tidak berkenan terhadap orang tersebut dan ingin menjatuhkan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Di dalam Mettā Sutta, Sang Buddha menjelaskan bahwa “tak selayaknya karena marah dan benci mengharap yang lain celaka”. Dan inilah yang patut untuk dikembangkan di dalam diri agar  tidak saling membenci antara yang satu dengan yang lainnya karena semua sebenarnya ingin hidup tenang, bahagia, dan bebas dari hal-hal saling membenci. Dalam Aṅguttara Nikāya V, 161, Sang Buddha bersabda ada lima cara untuk meredam kebencian, yaitu:

1.Mettā: cinta kasih harus dikembangkan. 
      Karena ketika mengembangkan cinta kasih setiap saat, maka hal-hal buruk akan bisa dikendalikan dalam pikiran. Terlebih hal seperti ini bisa kita jaga dan dikembangkan setiap saat, maka hal buruk sekecil apa pun akan terhindar, seperti ingin membenci orang lain akan bisa terhindar dalam pikiran. Ketika timbul ketidaksukaan atau kebencian kadang tidak mengingat bahwa kita memiliki cinta kasih. Jadi hendaknya cinta kasih terus dilatih agar ketika ada hal-hal yang memicu kebencian tidak terbakar secara cepat. Selain itu, di dalam Mettā Sutta juga dijelaskan ‘kembangkanlah pikiran cinta kasih tanpa batas’. Artinya, janganlah batasi cinta kasih. Dengan cinta kasih muncul, akan semakin tahu bahwa semua orang ingin bahagia.

2.Karuṇā: welas asih/belas kasihan harus dikembangkan. 
         Dikarenakan bahwa semua makhluk yang ada di dunia ini pasti tidak ingin hidupnya menderita, terlebih lagi dibenci orang lain, karena sudah mengerti bahwa hidup ini sudah menderita. Oleh sebab itu, ketika muncul kebencian dalam diri, berusahalah untuk dikendalikan agar tidak sampai terjadi, terlebih ketika  membenci orang lain, kita sendiri adalah orang yang paling pertama menderita. Seperti menggenggam bara api yang membara, akan membakar tangannya sendiri sebelum ia melemparkannya. Jadi, dengan welas asih ini kita semakin sayang pada diri dan tidak menimbulkan kebencian pada orang lain karena semua ingin hidup tanpa menyimpan kebencian.

3.Upekkhā: keseimbangan batin harus dikembangkan. 
      Keseimbangan batin atau ketenangan sangat membantu diri kita saat sedang mengalami kebencian, sebab ketenangan dan keseimbangan ini dapat mencegah dorongan-dorongan emosional seseorang, ibarat api yang disiram dengan air. Seperti itulah ketenangan dan keseimbangan akan meredakan kebencian yang mulai dalam diri seseorang. Hal semacam ini perlu dilatih dengan melakukan meditasi setiap saat agar lebih terlatih mengendalikan batin dan pikiran yang penuh dengan kebencian.

4.Asati-amanasikara: berusaha melupakan kebencian itu. 
       Terkadang setiap orang memiliki cara untuk bisa melupakan kebencian tersebut dan kadang kala ada juga yang sulit untuk melupakan kebencian dikarenakan belum bisa melupakan kejadian yang membuat dirinya menjadi sangat menyakitkan. Ketika hal seperti ini muncul dalam pikiran, berusahalah untuk tidak mengingat-ingat kejadian yang sudah lewat, yang terpenting saat ini dan detik ini, karena kalau mengingat hal yang sudah berlalu akibatnya tambah benci dan tambah menderita. Momen terpenting adalah bagaimana cara melupakan kejadian tersebut, yaitu dengan melakukan hal-hal baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang-orang sekitar agar tidak berpikiran pada kejadian yang sudah-sudah. Dengan demikian kebencian itu bisa dilupakan.

5.Kammasakata: merenungkan tentang kepemilikan kamma masing-masing (tanggung jawab kamma). 
         Dengan merenungkan tentang kepemilikan kamma masing-masing, akan jauh lebih membantu menghilangkan kebencian yang ada dalam diri. Sebab dengan merenungkan kamma masing-masing akan membantu agar tidak memunculkan pikiran untuk saling membenci satu sama lainnya, karena hal seperti ini hanya membawa kerugian bagi diri sendiri, jadi buat apa saling membenci kalau sudah mengetahui bahwa kita ini adalah pemilik kamma masing-masing. Maka dari itu hendaknya harus sadar diri dari sekarang agar tidak saling membenci. 

        Inilah lima cara untuk meredam  kebencian yang ada di dalam diri. Dengan melakukan lima cara ini, maka niat untuk saling membenci satu sama lainnya akan bisa terhindarkan karena sudah mengetahui cara-cara untuk menjauhkan diri agar tidak membenci orang yang ada di sekeliling kita. Semoga bisa bermanfaat dan bisa dipahami di kehidupan sehari-hari. 
Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia.

Sumber:
-Aṅguttara Nikāya: Kitab suci Agama Buddha.Dhammacitta press.2012
-Dhammapada: The Buddha’s Path of Wisdom. Bahussuta Society.2012


Oleh: Bhikkhu Atthaseno
Minggu, 15 Desember 2019

Dibaca : 1851 kali