x

SENI BERBICARA POSITIF

Mavoca pharusaṁ kañci, vuttā paṭivadeyyu taṁ, 
dukkhā hi sārambhakathā paṭidaṇḍā phuseyyu taṁ.  
Jangan berbicara kasar kepada siapa pun, karena mereka yang 
mendapatkan perlakuan demikian akan membalas dengan cara yang sama.
 Sungguh menyakitkan ucapan kasar itu, yang pada gilirannya akan melukaimu. 
(Dhp. Daṇḍa vagga X: 133)

 

    DOWNLOAD AUDIO

Secara harfiah kata“berbicara” dalam KBBI mempunyai arti“berkata, bercakap berbahasa”. Berbicara atau berucap berfungsi sebagai penghubung antara kita dengan orang lain saat melakukan komunikasi, dengan berucap atau berbicara maka maksud dan tujuan kita dapat ditangkap oleh lawan berbicara kita. Berbicara atau berucap merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, hampir tidak bisa kita hindari untuk tidak menggunakan ucapan dalam kehidupan kita, karena ucapan hampir setiap hari dalam berinteraksi terhadap orang lain agar maksud dan tujuan kita dapat dipahami. Ucapan bisa dalam bentuk positif dan juga bisa dalam bentuk negatif, tergantung dari orang yang berbicara, jika orang tersebut dalam kondisi baik maka ucapan bisa baik, dan jika orang tersebut dalam kondisi tidak baik maka ucapannya bisa tidak baik, hanya sebagian orang yang mampu tetap memiliki ucapan positif dalam kondisi yang tidak baik. Tidak semua orang mampu mempunyai ucapan baik dalam kondisi baik dan tidak semua orang mampu mempunyai ucapan baik dalam kondisi tidak baik, maka seseorang memerlukan keterampilan berbicara baik atau seni berbicara positif. Dengan keterampilan berbicara baik, maka seseorang akan mampu memiliki ucapan benar, bahkan dalam kondisi tidak baik.

Seni berbicara positif sangat penting untuk dilatih, dipahami dan dikembangkan dalam situasi apa pun. Oleh karena itu, sangat penting mempunyai keterampilan berbicara baik, karena dengan keterampilan berbicara baik akan dapat melahirkan ucapan-ucapan yang benar. Ucapan benar inilah yang dapat mendamaikan manusia, dengan ucapan benar maka kita semakin jauh dari pertengkaran dan konflik, sehingga yang didapatkan adalah keharmonisan, persaudaraan, ketenangan, dan kebahagiaan. 

Buddhisme mengajarkan tentang “Sammāvācā: ucapan benar”, ucapan benar terdiri dari dua kata yaitu  “sammā” yang berarti “secara pantas, benar, sesuai, menyeluruh, seutuhnya, betul, terbaik, sempurna” dan “vācā” yang berarti “kata, ucapan, tuturan, perkataan”. “Sammāvācā: ucapan benar” merupakan kelompok moralitas dalam “Ariya Aṭṭhaṅgika Magga: jalan ariya berunsur delapan”, di mana yang harus dipraktikkan dan dijalankan sebagai pemeluk agama Buddha. Untuk mempunyai keterampilan ucapan benar seseorang harus berlatih, karena hanya dengan latihan maka keterampilan akan didapatkan, tanpa latihan maka hanya angan-angan mempunyai ucapan benar yang akan diperoleh.

Vācā Sutta dalam Aṅguttara Nikāya V, 198 menyebutkan jika ucapan memiliki lima tanda, para bhikkhu berarti ucapan itu disampaikan dengan baik, tidak disampaikan dengan buruk, tak ternoda dan tak tercela oleh para bijaksana. Apakah lima tanda ini? 

Ucapan itu diucapkan pada waktu yang tepat

Ucapan yang baik adalah ucapan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi. Terkadang ucapan kita tidak salah, namun malah menyinggung orang lain, dan hal tersebut dikatakan ucapan itu diucapkan tidak pada waktu yang tepat walaupun ucapan kita benar, hal ini karena tidak sesuai dengan kondisi saat itu. Orang yang dipengaruhi dengan pikiran yang negatif cenderung tidak menerima apa pun yang baik, bahkan yang baik akan bisa menjadi tidak baik bagi orang yang dikuasai oleh pikiran buruk, sehingga tidak jarang ketika kita menasihati seseorang yang sedang marah, orang tersebut cenderung tersinggung. Berhati-hatilah ketika berucap dengan orang yang kondisinya tidak baik, bisa saja bukan kita menyadarkan tetapi justru sebaliknya yaitu  memabukkan, ‘bagaikan api yang disiram dengan bahan bakar bensin’. Ucapan benar mengajarkan bahwa kita perlu waspada dalam ucapan agar sesuai dengan kondisi dan tepat waktu.

Apa yang dikatakan adalah benar

Kata-kata yang diucapkan haruslah sesuai dengan kenyataan. Ini artinya jelas, kita berucap apa adanya. Buddha mengatakan, “Mengenai hal ini, seorang tidak lagi berbohong dan selamanya menghindarinya. Bila dia bersaksi di pengadilan warga, pertemuan warga, rukun warga, atau mahkamah agung, dan ditanya: “Katakan pada kami, orang yang baik, apa yang engkau ketahui?” Bila dia tidak tahu, dia berkata: “Saya tidak tahu,” dan bila dia mengetahui, dia berkata: “Saya tahu.” Apabila dia tidak melihat, dia berkata: “Saya tidak lihat,” dan apabila dia melihat, dia berkata: “Saya lihat.” Dia tidak akan sengaja berbohong, baik untuk keuntungan dirinya sendiri, keuntungan orang lain ataupun demi kesenangan duniawi lainnya.” (MN 41.13).

Ucapan itu diucapkan dengan lembut

Guru agung kita Sang Buddha ucapannya tenang dan lembut. Kebiasaan berucap lembut akan mempengaruhi batin atau pikiran kita menjadi lebih lembut dan tidak kejam. Jika kita terbiasa berucap dengan kasar tidak lembut, maka tanpa kita sadari benih-benih kekejaman telah tumbuh dalam diri kita. Orang yang sering berucap kasar ia akan memiliki keterampilan berucap kasar, orang yang sering berucap lembut ia akan memiliki keterampilan berucap lembut. Sebuah keterampilan itu muncul karena sering melakukannya, semakin sering maka akan semakin terampil.

Apa yang dikatakan adalah bermanfaat

Perkataan yang bermanfaat adalah tidak saling menyakiti. Contoh ucapan ini adalah memberi nasihat kepada teman atau seorang anak kecil, ucapan yang membuat orang lain secara langsung terhindar dari penderitaan. Ucapan dalam memberikan suatu pandangan kebenaran (dhamma) yang secara langsung memberikan manfaat langsung, ucapan yang membuat orang lain tidak melakukan kejahatan. Contoh lain dari ucapan yang bermanfaat adalah mendiskusikan pelajaran di sekolah atau kampus. Sebuah ucapan menjadi bermakna ketika mempunyai tujuan atau alasan di balik ucapan yang kita lakukan. Bertujuan juga mengindikasikan ada manfaat dari ucapan yang kita lakukan. Ketika melihat teman sedang lesu, dengan ucapan kita dapat menyemangatinya. Ucapan tersebut memang bertujuan untuk membantu dan terlihat manfaatnya dengan jelas.

Ucapan itu diucapkan dengan pikiran cinta kasih

Ucapan benar yang didasari dengan pikiran benar. Ketika pikiran penuh dengan cinta kasih, maka ucapan seseorang akan menjadi lembut dan menyenangkan. Kata-kata yang penuh cinta kasih tidak akan terwujud menjadi umpatan-umpatan yang kasar, melainkan menjadi kata-kata yang baik dan menyenangkan. Kata-kata yang didasari dengan pikiran cinta kasih akan menyatukan dan menimbulkan keharmonisan. Contoh ucapan ini adalah dorongan dan motivasi kepada teman yang sedang menghadapi masalah.

Subhāsita Sutta dalam Sutta Nipāta 3.3 menyebutkan “Ucapan yang memiliki empat kualitas adalah diucapkan dengan baik, bukan diucapkan dengan buruk, dan tanpa cela, bukan tercela, di antara para bijaksana. Apakah empat ini? (1) apa yang diucapkan dengan baik, bukan apa yang diucapkan dengan buruk;  (2) apa yang merupakan dhamma, bukan apa yang bukan-dhamma; (3) apa yang menyenangkan, bukan apa yang tidak menyenangkan; (4) apa yang benar, dan bukan apa yang salah. Ucapan ini adalah diucapkan dengan baik, bukan diucapkan dengan buruk, dan tanpa cela, bukan tercela di antara para bijaksana”. 

Pentingnya memiliki keterampilan berbicara dengan baik, karena dengan kemampuan demikian maka ketika kita berbicara akan menggunakan kata-kata yang baik. Keterampilan akan didapatkan apabila kita sering berlatih, begitu juga keterampilan berbicara positif akan kita peroleh apabila kita sering berlatih berbicara positif. Hal yang harus diperhatikan untuk memulai berbicara baik adalah tahu apa manfaat dari berbicara baik, berbicara baik akan menimbulkan ucapan benar dan ucapan benar inilah yang mampu melahirkan kata-kata baik, selian itu kita juga harus mengerti apa itu ucapan dan kata-kata baik. Ucapan dan kata-kata baik adalah ketika kita berucap dengan baik, berbicara tentang kebenaran, berbicara apa yang menyenangkan dan berbicara dengan benar. Semua ucapan baik ini bisa muncul apabila didasari dengan pandangan benar dan pikiran penuh cinta kasih. Semoga dengan latihan yang sering kita latih, akan membuahkan keterampilan berbicara positif di setiap laku dalam diri kita masing-masing. 

Referensi:
Dhammadhīro, Bhikkhu. 2019. Paritta Suci. Tangerang Selatan: Saṅgha Theravāda Indonesia.
Vidhurdhammabhorn, Bhikkhu. 2019. Kitab Suci Dhammapada. Jakarta Pusat: Yayasan Dhammadipa Arama.
Yandi Wijaya, Willy. 2010. Ucapan Benar. Yogyakarta: Vidyāsenā Production Vihāra Vidyāloka.
https://legacy.suttacentral.net/id/an5.198diakses 18 Desember 2019
https://legacy.suttacentral.net/id/snp3.3diakses 18 Desember 2019

Dibaca : 2194 kali