x

MENYADARI SIKAP PIKIRAN ANTARA BAIK DAN BURUK

Dunniggahassa lahuno – yatthakāmanipātino
Cittassa damatho sādhu – cittaṁ dantaṁ sukhāvahan’ti
Adalah hal baik, menjinakkan cipta/pikiran nan sulit dikekang, gesit, 
dan biasa mengembara ke objek menyenangkan. (Karena,) cipta/pikiran
 yang dijinakkan mendatangkan kebahagiaan. (Dhammapada ayat 35) 

    DOWNLOAD AUDIO

Pada dasarnya manusia sebagai insan yang berinteraksi antar sesama di tengah masyarakat, menjalani hidup dan kehidupan dalam berbagai kondisi terus-menerus bisa berubah-ubah setiap saat. Apakah kita sadar bahwa perubahan-perubahan itu terjadi? Kadangkala kita juga tidak sadar jika sedang mengalami perubahan yang sangat cepat. Mari kita cermati apa yang menjadi bahasan berikut di bawah ini.
Kecenderungan Hidup Manusia
Pada umumnya manusia menjalani hidup dan kehidupan lebih cenderung ke arah terpenuhinya segala sesuatu yang enak-enak, yang menyenangkan saja, dan cenderung menolak segala yang tidak enak. Inilah sifat manusia pada umumnya. Dengan demikian cenderung pula timbul kekecewaan, ketidakpuasan, kesedihan, kemarahan, kedengkian, kejengkelan, dendam, dan macam-macam buruk lainnya bisa muncul di pikiran. Mari kita sadari, jangan membiarkan hal-hal itu terjadi pada diri kita masing-masing. 
Sutta tentang Pemikiran Manusia
Penjelasan dan pembahasan tentang kehidupan manusia sangat banyak ditemukan dalam berbagai sutta, salah satunya adalah Vitakkasanthana Sutta, Majjhima Nikāya 20. 
Dalam Vitakkasanthana Sutta, Majjhima Nikāya 20 tersebut dikatakan oleh Sang Buddha kepada para bhikkhu bahwa tatkala seorang bhikkhu tengah berusaha mencapai pikiran luhur dari waktu ke waktu seharusnya ia memperhatikan ada lima tanda. Lima tanda yang harus diwaspadai oleh setiap orang itu, adalah:1.Tatkala seorang bhikkhu tengah memperhatikan suatu tanda, dengan begitu muncullah dalam dirinya pemikiran buruk yang jahat berkenaan dengan keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin. Jika hal itu yang terjadi, maka ia perlu memperhatikan tanda lainnya berkenaan dengan hal-hal yang baik. Dengan demikian pemikiran buruk yang jahat berkenaan dengan keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin bisa lenyap dalam dirinya, sehingga pikirannya menjadi mantap, tenang, dan terpusat. Seperti halnya seorang tukang kayu yang piawai mengeluarkan, melenyapkan, dan mencabut sebuah pasak yang besar menggantikannya dengan sebuah pasak yang halus. 2. Tatkala ia masih memperhatikan suatu tanda lainnya yang berkenaan dengan hal-hal yang baik, tetapi masih juga timbul pemikiran buruk yang jahat berkenaan dengan keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin, maka saat itu pula ia perlu menilik/mencermati ada bahaya dalam pemikiran buruk seperti itu, dengan berpikir: ‘Pemikiran-pemikiran ini buruk, tercela, menyebabkan penderitaan.’ Ketika hal itu dilakukan, pada saat itu pula pemikiran buruk apa pun yang jahat berkenaan dengan keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin akan lenyap dalam dirinya. Dengan lenyapnya pemikiran-pemikiran buruk tersebut, maka pikirannya menjadi mantap, tenang, dan terpusat. 3. Tatkala ia tengah menilik bahaya dalam pemikiran buruk seperti itu, masih juga timbul dalam dirinya pemikiran buruk yang jahat berkenaan dengan keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin, maka saat itu juga ia perlu melupakan semua pemikiran buruk seperti itu dan tidak perlu memperhatikannya lagi. Jika ia mencoba melupakan semua pemikiran buruk seperti itu dan tidak memperhatikannya lagi, maka saat itu pula pemikiran-pemikiran buruk seperti itu akan lenyap dalam dirinya. Dengan lenyapnya pemikiran-pemikiran buruk seperti itu, maka pikirannya menjadi mantap, tenang, dan terpusat. 4. Tatkala ia tengah mencoba melupakan pemikiran-pemikiran buruk itu, tetapi masih juga timbul dalam dirinya pemikiran buruk yang jahat berkenaan dengan keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin, maka saat itu pula ia perlu mengupayakan untuk meredam pembentukan dari pemikiran-pemikiran buruk seperti itu. Ketika ia mengupayakan untuk meredam pembentukan dari pemikiran-pemikiran buruk itu, maka pemikiran buruk apa pun berkenaan dengan keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin, akan lenyap dalam dirinya. Dengan demikian, maka pikirannya menjadi mantap, tenang, dan terpusat. Seperti halnya seorang lelaki yang berjalan cepat, merenung: ‘Mengapa aku berjalan cepat? Bagaimana seandainya aku berjalan perlahan?’ Dan ia berjalan perlahan. Lalu ia mungkin merenung: ‘Mengapa  aku berjalan perlahan? Bagaimana seandainya aku berdiri?’ Dan ia berdiri. Lalu ia mungkin merenung: ‘Mengapa aku berdiri? Bagaimana seandainya aku duduk?’ Dan ia duduk. Lalu ia mungkin merenung: ‘Mengapa aku duduk? Bagaimana seandainya aku berbaring?’ Dan ia berbaring. Ia melakukan hal itu dengan menggantikan setiap sikap badan yang lebih kasar dengan sikap badan yang labih halus. Demikian pula ketika seorang bhikkhu mengupayakan untuk meredam pembentukan dari pemikiran-pemikiran, dari kasar hingga menjadi lebih halus membuat pikirannya menjadi mantap, tenang, dan terpusat.5. Tatkala ia mengupayakan untuk meredam pembetukan dari pemikiran-pemikiran buruk seperti itu, namun masih juga timbul dalam dirinya pemikiran-pemikiran buruk yang jahat berkenaan dengan keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin, maka saat itu pula dengan giginya yang terkatup rapat dan lidah yang ditekan ke langit-langit mulutnya ia perlu menekan, menaklukkan dan meremukkan pikiran dengan pikiran. Ketika ia melakukan hal seperti itu, maka pemikiran buruk apa pun berkenaan dengan keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin, lenyap dalam dirinya. Dengan demikian, pikirannya menjadi mantap, tenang, dan terpusat.      
Bagaimana Seharusnya Kita Bersikap?
Bisakah kita mencoba melakukan lima hal tersebut di atas isi dari Vitakkasanthana Sutta? Sebagai manusia yang berpikir cerdas, kita tentunya sangat perlu memikirkan bagaimana sebaiknya kita mengelola hidup kita di tengah masyarakat luas. Bagaimana kita mengelola pikiran dan pemikiran kita, tentu akan tergantung apa usaha dan perjuangan kita sendiri pribadi masing-masing.
Bagaimana kita bisa melakukan hal-hal yang terkait dengan perjuangan yang memang terkesan berat dan sulit namun sangat penting untuk kita lakukan agar hidup kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Bagaimana kita bisa menyadari sepenuhnya bahwa pemikiran-pemikiran buruk, sikap-sikap buruk yang kita perbuat melalui pikiran, ucapan, dan jasmani membawa malapetaka bagi hidup dan kehidupan kita, perlu kita sikapi dengan membuangnya jauh-jauh atau mengikisnya sedapat mungkin dan menggantikannya dengan pemikiran-pemikiran yang baik, sikap-sikap yang baik dan berguna bagi kita. Meskipun hal ini sangat sulit, tetapi tetap harus kita lakukan perubahan jika hal buruk muncul kita harus membuangnya, meninggalkannya dan menggantikannya dengan pemikiran-pemikiran dan sikap-sikap yang baik dan benar. Karena begitu cepatnya pikiran dan pemikiran kita berubah, yang tadinya sudah berpikir baik bisa dengan sangat cepat berlari lagi ke hal-hal yang buruk dan jahat. Kita harus tahu jika pemikiran kita cenderung ke hal-hal buruk, maka kita harus dengan cepat pula untuk menarik membawa kembali ke pemikiran-pemikiran yang baik, benar dan berguna bagi kita dan orang lain. Kita harus berusaha untuk menyadari agar setiap gerakan pemikiran kita sendiri dapat kita katahui dan melakukan suatu perbaikan mengalihkan ke pemikiran yang baik dan benar ketika saat-saat tertentu itu pemikiran buruk dan membawa bahaya sedang melanda diri kita.  
Selamat mencoba! Semoga kita berhasil!Sekian dan terima kasih
Sumber: 1). Tipitaka Tematik, Ehipassiko Foundation, Cetakan II Februari 2010.2). Pustaka Dhammapada Pali – Indonesia, Saṅgha Theravāda Indonesia, Cetakan Kedua 2019. 

 









 

Dibaca : 3715 kali