x

BANJIR

Imāsaṁ kho bhikkhave, 
catunnaṁ oghānaṁ abhiññāya ariyo aṭṭhaṅgiko maggobhāvetabbo.
(Ogha Sutta; SN 45.171)

    DOWNLOAD AUDIO

Awal tahun baru ini dihiasi dengan banjir yang melanda sejumlah wilayah di ibu kota. Air hujan yang melimpah seringkali dianggap sebagai sebuah berkah, tetapi juga tidak jarang bisa menyebabkan terjadinya bencana banjir. Banyak orang menderita dan tidak terhitung banyaknya kerugian yang harus ditanggung baik secara material maupun non material. Dibutuhkan upaya berkelanjutan untuk dapat menanggulanginya sampai selesai. Namun sesungguhnya, masih ada banjir yang jauh lebih berbahaya. Banjir dahsyat dengan kekuatan yang dapat menenggelamkan banyak makhluk berulang kali tanpa hentinya, dan menyeret semuanya menuju ke jurang derita. 

Dalam Saṁyutta Nikāya, Buddha bersabda, “Para bhikkhu, ada empat banjir ini. Apakah empat ini? Banjir nafsu indriawi (kāmogha), banjir perwujudan (bhavogha), banjir pandangan (diṭṭhogha), banjir ketidaktahuan (avijjogha). Ini adalah keempat banjir itu. Jalan Mulia Berunsur Delapan harus dikembangkan demi pengetahuan langsung pada keempat banjir itu, untuk memahaminya sepenuhnya, demi kehancurannya sepenuhnya, untuk meninggalkannya.”
1.Banjir nafsu indriawi (kāmogha) yaitu nafsu keinginan terhadap lima tali kenikmatan indria. Jenis kesenangan indria yang selalu dikejar antara lain bentuk-bentuk yang indah, suara yang merdu, makanan yang enak, bau yang harum, sentuhan yang halus dan lain sebagainya.
2.Banjir perwujudan (bhavogha) yaitu mengharapkan kelahiran dengan kondisi yang selalu baik, seperti terlahir di alam bahagia. Melekat dengan kehidupan itu sendiri, sampai pada pencapaian konsentrasi tertentu yang diharap membawa kebahagiaan, padahal semuanya masih dalam lingkaran samsara. 
3.Banjir pandangan (diṭṭhogha) yaitu berkutat dengan pandangan salah seperti tidak meyakini adanya Hukum Kamma. Apa saja yang seharusnya dilakukan sehingga mendatangkan manfaat tetapi tidak dilakukan, sedangkan apa saja yang seharusnya tidak dilakukan karena merugikan justru malah dilakukan. 
4.Banjir ketidaktahuan (avijjogha) yaitu tidak memahami Empat Kebenaran Mulia. Tidak mempunyai pemahaman menyeluruh tentang dukkha, sumber dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha.

Empat macam banjir tersebut disebut juga sebagai “noda batin” atau secara harfiah “pengaliran” (āsava) atas dasar bahwa semuanya menjadi pusat bagi makhluk-makhluk terjerumus pada lingkaran kelahiran kembali yang tidak ada habisnya.

Terbebas dari Banjir

Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Kemudian, pada larut malam, satu devatā tertentu, dengan keindahan memesona, menerangi seluruh Hutan Jeta, mendekati Sang Bhagavā. Setelah mendekat, ia bersujud kepada Sang Bhagavā, berdiri di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:
“Bagaimanakah, Yang Mulia, Engkau menyeberangi banjir?” 
“Dengan tidak berhenti, Teman, dan dengan tidak mendorong, Aku menyeberangi banjir.” 
“Tetapi, bagaimanakah, Yang Mulia, bahwa dengan tidak berhenti dan tidak mendorong, Engkau menyeberangi banjir?”
“Ketika Aku diam, Teman, maka Aku tenggelam; tetapi ketika aku mendorong, maka Aku hanyut. Dengan cara inilah, Teman, bahwa dengan tidak berhenti dan tidak mendorong, Aku menyeberangi banjir.” 
“Setelah sekian lama, akhirnya aku melihat, seorang Brāhmaṇa yang telah padam sepenuhnya, yang dengan tidak berhenti, tidak mendorong, telah menyeberangi kemelekatan terhadap dunia ini.” 
Ini adalah apa yang dikatakan oleh devatā itu. Sang Guru menyetujui. Kemudian devatā itu berpikir, “Sang Guru setuju denganku,” bersujud kepada Sang Bhagavā, dan dengan Beliau di sisi kanannya, lenyap dari sana.

Pustaka Rujukan
Saṁyutta Nikāya: The Connected Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 2000.

Dibaca : 765 kali