x

PENTINGNYA MEMPERKUAT KEYAKINAN (SADDHĀ)

Yassa saddhā Tathāgate, acalā supatiṭṭhitā
Sīlañca yassa kalyāṇaṁ, ariyakantaṁ pasaṁsitaṁ.
Saṅghe pasādo yassatthi, ujubhūtañca dassanaṁ
Adaḷiddoti taṁ āhu, amoghantassa jīvitaṁ.

    DOWNLOAD AUDIO

     Keyakinan (Saddhā) dapat menghasilkan dua hal yang berbeda, yaitu menghasilkan hal yang benar atau hal yang salah. Dengan kata lain sesuatu yang diterima berdasarkan keyakinan nantinya bisa benar atau salah, bisa merupakan fakta atau sebaliknya.

     Karena kondisi keyakinan yang dapat menghasilkan dua hal yang berbeda tersebut, maka tidak selayaknya bagi seorang bijaksana yang melestarikan atau menjaga kebenaran, untuk menyimpulkan secara pasti apa yang diterimanya melalui keyakinan tersebut dengan mengatakan, “Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah“, hingga ia membuktikan kebenarannya. Namun ia berhak untuk menyatakan, “Demikianlah keyakinan saya“.

     Terdapat dua jenis saddhā, yaitu: saddhā yang memiliki pokok alasan/berdasar (Pali: mūlikā-saddhā; Skt: mūlakā-śraddhā) dan saddhā yang tidak memiliki pokok alasan/tidak berdasar (Pali: amūlikā-saddhā; Skt: amūlakā-śraddhā).

     Mūlikā saddhā adalah keyakinan yang muncul dari penilaian yang hati-hati dari hasil verifikasi atau pemeriksaan atau penyelidikan (ehipassiko) yang memiliki alasan atau dasar (hakikat) terhadap sebuah pernyataan, ajaran, dan sebagainya. Sedangkan, Amūlikā saddhā adalah keyakinan yang muncul tanpa didahului dengan penilaian yang hati-hati dari hasil verifikasi atau pemeriksaan atau penyelidikan yang juga tanpa memiliki alasan atau dasar (hakikat) terhadap sebuah pernyataan, ajaran, dan sebagainya.

     Keyakinan (saddhā) yang mengakar secara dalam pada wawasan yang beralasan/berdasar (Pali: ākāravatā-saddhā-dassanamūlika) adalah keyakinan yang kokoh yang tidak terkalahkan oleh siapa pun. Keyakinan ini merupakan keyakinan yang didasari oleh kebijaksanaan (Pali: paññā; Skt: prajñā). Dengan kebijaksanaan atau disebut indria kebijaksanaan (Pali: paññindriya) maka keyakinan pada diri seseorang akan stabil. 

     Itulah jenis keyakinan (saddhā) yang dianjurkan dalam meyakini Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Saõgha), karena saddhā seperti itu bermanfaat untuk mengokohkan, menguatkan, memfokuskan, dan sebagai pedoman sebuah niat untuk mencapai tujuan, yang dalam konteks Agama Buddha tujuan tersebut adalah Kebebasan Sejati (Nibbāna).

     Untuk saddhā terhadap Tiratana merupakan hal yang penting pada awal perkembangan batin, dan karenanya saddhā diperumpamakan sebagai benih. Dan untuk itu juga saddhā perlu dikembangkan dengan cara berlatih dan mempraktikkan ajaran Buddha sambil mengujinya, agar seseorang dapat lebih menguatkan dan memfokuskan diri mencapai tujuan.

     Pada tingkat akhir, pada diri mereka yang telah melihat, mengetahui, menembus, mewujudkan, dan mencapai kebenaran oleh dirinya sendiri secara langsung terhadap sesuatu (misalnya salah satu ajaran Buddha), maka saddhā terhadap Tiratana tersebut tidak diperlukan lagi sehingga mereka menjadi tanpa saddhā (Pali: assaddha; Skt: aśraddhā). Hal ini sama seperti seseorang yang telah membuktikan kebenaran, melihat sebuah fakta yang nyata ada dan teruji, maka ia tidak memerlukan sebuah hipotesis (anggapan benar) lagi.

    Dari pengertian di atas, maka saddhā memiliki ciri-ciri, yaitu: merupakan hasil verifikasi berupa hipotesis, bukan kebenaran final atau akhir tetapi merupakan titik awal perjalanan menuju perwujudan kebenaran melalui pengujian, dan perlu diiringi dengan kebijaksanaan.

     Di dalam buku Vijja Dhamma terdapat empat macam Saddhā, yaitu:
1.KAMMA-SADDHĀ: Keyakinan terhadap Hukum Kamma.
2.VIPĀKA-SADDHĀ: Keyakinan bahwa suatu perbuatan yang dilakukan pasti ada akibatnya, meliputi akibat baik atau pun buruk.
3.KAMMASSAKATĀ-SADDHĀ: keyakinan bahwa semua makhluk mempunyai kamma masing-masing dan bertanggung jawab terhadap perbuatannya.
4.TATHĀGATABODHI-SADDHĀ: keyakinan terhadap pencapaian Pe-nerangan Sempurna Sang Buddha, yakin bahwa Sang Buddha adalah Yang Mahā Suci, Yang Mahā Tahu, Yang Mahā Bijaksana, Yang Mahā Pengasih dan Mahā Penyayang.

     Orang yang memiliki keyakinan (saddhā) pada Dhamma dapat dikenali dengan tiga hal:
1.Ia berhasrat untuk menemui para bijaksana,
2.Ia berhasrat untuk mendengarkan Dhamma,
3.Dengan hati yang terbebas dari kekikiran, ia hidup dengan murah hati, bekerja tanpa cela, suka berdana, suka menolong, dan berbagi dengan orang lain.  (AN.I, 150)

     Seseorang yang bersungguh-sungguh adalah orang yang yakin (akan ajaran), bukan orang yang tidak yakin; Seseorang yang bersungguh-sungguh  selalu bersemangat, tidak malas; Seseorang yang bersungguh-sungguh memiliki kesadaran kokoh, tidak kabur; Seseorang yang bersungguh-sungguh memiliki pengertian yang jelas, bukan pengertian yang membingungkan; Seseorang yang bersungguh-sungguh mempunyai kebijaksanaan yang kuat, tidak lemah.

    Di awal naskah ini saya menulis dalam Ariyadhana Gāthā bait 1 dan 2, yang artinya: Ia yang memiliki keyakinan pada Sang Tathāgata, kokoh dan tak tergoyahkan, memiliki moral (sīla) yang baik, disenangi dan dipuji oleh para Ariya. Ia yang salut pada Saṅgha, dan memiliki pandangan benar, para bijak mengatakan: ia tidak miskin, dan hidupnya penuh manfaat. 

Referensi:
-Buku Paritta Suci Saõgha Theravāda Indonesia
-Tuturan Bijak Buddha (Buddha Wacana) oleh Ven Sharasvati Dhammika.






Minggu, 12 Januari 2020
Oleh: Bhikkhu Candakaro 

Dibaca : 1749 kali