x

Memerangi Diri Sendiri

Akkodhena jine kodhaṁ, asādhuṁ sādhunā jine. 
Jine kadariyaṁ dānena, saccenālikavādinaṁ.
“Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih, kalahkan kejahatan dengan kebajikan.
Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, dan kalahkan kebohongan
dengan kejujuran”. (Dhp. Kodha Vagga, 223)

    DOWNLOAD AUDIO

   Banyak manusia di dunia ini beranggapan bahwa ketidakberhasilan di dalam hidupnya disebabkan oleh faktor-faktor di luar dirinya. Misalkan, ketidakberhasilan dalam berbisnis, ketidakberhasilan dalam mendapatkan pasangan hidup, ketidakberhasilan dalam meniti karir, ketidakberhasilan dalam meraih cita-cita maupun ketidakberhasilan dalam pengembangan batin. Kebiasaan-kebiasaan seperti inilah yang banyak ditemukan di lingkungan masyarakat yang berpandangan bahwa suatu ketidakberhasilan diakibatkan oleh sebab-sebab dari luar.

    Pandangan yang demikian tentunya amat merugikan karena tidak mengetahui kejelasan sebab ketidakberhasilan, justru akan memperkeruh suasana menjadi semakin rumit. Perlu diketahui bahwa apabila umat Buddha masih ada yang berpandangan demikian, maka segeralah dibuang. Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha menerangkan kepada kita sebagai umat Buddha agar selalu menjaga diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Namun, sebaliknya mengembangkan diri dalam tindakan-tindakan kebajikan. 

     Berbicara tentang ketidakberhasilan, sesungguhnya disebabkan dari dalam diri bukan dari luar. Banyak orang yang tidak sadar bahwa ketidakberhasilan dan kemajuan spiritual dalam hidupnya disebabkan dari diri sendiri. Sang Buddha menegaskan bahwa sesungguhnya  di dalam diri sendirilah musuh tersebut berdiam, dalam diri sendirilah musuh tersebut tertanam, yakni; kemalasan, kekhawatiran, ke-gelisahan, keraguraguan, iri hati, congkak, kedengkian, kebencian, keserakahan, dan kegelapan batin.

      Selama musuh-musuh yang ada di dalam diri ini masih bercokol, masih tertanam kuat dan terus terpelihara dengan baik, maka selama itu pula ketidakberhasilan hidup maupun kemajuan spiritual tidak akan dapat diperoleh. Jika umat Buddha dan siapa pun yang ingin memperoleh keberhasilan dalam hidupnya, memperoleh kemajuan dalam perkembangan spiritualnya, perangilah diri Anda! Perangilah musuh-musuh yang menghambat ketidakberhasilan dan kemajuan spiritual di dalam diri Anda. 

      Kurangi menilai keluar atau menyalahkan objek-objek yang ada di luar diri Anda. Perbanyaklah menilai dan mengukur kualitas diri Anda dalam merespon objek-objek yang muncul. Dengan menerapkan cara yang demikian, seiring dengan semakin kuatnya perhatian dalam menganalisa objek-objek yang muncul, maka akan semakin jelas dan terang fenomena yang terjadi. Terangnya fenomena yang terlihat tentunya akan memunculkan pengetahuan terhadap kejadian yang terjadi sebagaimana apa adanya. Dengan demikian, apa yang kita alami dalam hidup ini berupa keberhasilan maupun ketidakberhasilan sesungguhnya disebabkan oleh cara kerja dalam merespon fenomena yang terjadi.

     Sehubungan dengan bagaimana cara memerangi diri untuk memperoleh keberhasilan dan menjauhkan diri dari ketidakberhasilan, penulis menyajikan salah satu syair Dhammapada yang disampaikan oleh Sang Buddha dalam Kodha vagga, syair 223 sebagai berikut: “Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih, kalahkan kejahatan dengan kebajikan, kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, dan kalahkan kebohongan dengan kejujuran”.

      Memerangi diri sendiri yang dimaksud adalah kita berusaha untuk memerangi sifat-sifat buruk yang ada di dalam diri, bukan memerangi diri dalam artian berbeda seperti menyiksa diri atau menyiksa fisik yang terlihat. Seperti contoh cerita yang tertuang dalam Dhammapada Atthakatha yang mengisahkan seorang umat awam yang bernama Uttara. Uttara adalah putri dari Punna, seorang buruh tani yang bekerja pada pria kaya di Rajagaha bernama Sumana. Suatu hari, keluarga Punna berdana kepada Bhikkhu Sariputta yang baru selesai mencapai nirodha samapatti. Sebagai buah dari kebajikannya tersebut, Punna mendadak menjadi kaya karena menemukan emas di tanah yang dibajaknya sehingga raja pun menyatakannya sebagai bankir yang besar.

     Suatu hari, keluarga Punna berdana makan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu selama seminggu dan pada hari terakhir setelah mendengarkan Dhamma dari Sang Buddha, keluarga Punna mencapai tingkat kesucian sotapatti. Singkat cerita, Uttara pun menjadi dewasa dan menikah dengan anaknya Sumana yang bukan keluarga Buddhis. Dengan demikian, Uttara bercerita kepada ayahnya bahwa dirinya tidak bahagia dan tidak memiliki kesempatan untuk berdana kepada para bhikkhu. Akhirnya, Punna memberi hadiah berupa uang 15.000 kepada Uttara dan sesuai izin dari suaminya, Uttara menggunakan hadiah tersebut untuk menyewa pelacur bernama Sirima untuk melayani suaminya selama 15 hari.

     Selama 15 hari, Uttara memberikan dana makan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu. Pada hari terakhir saat menyiapkan makanan di dapur, suaminya Uttara menilik dari jendela dan tersenyum sambil bergumam, “betapa bodohnya ia, tidak tahu caranya bersenang-senang, selalu menyibukkan diri dengan berdana.” Melihat kejadian tersebut, Sirima menjadi cemburu kepada Uttara serta lupa jika dirinya hanyalah seorang pelacur yang disewa. Kecemburuan yang telah menguasainya, memunculkan niat jahat untuk mencelakai Uttara dengan meng-ambil mentega panas. Uttara pun melihatnya tetapi Uttara merenungkan bahwa berkat bantuan Sirima lah, ia dapat melakukan kebajikan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu.

     Seketika Sirima datang dan hendak menuangkan mentega panas ke arah Uttara dan ia pun berseru, “seandainya saya memiliki niat buruk kepada Sirima, biarkanlah mentega panas tersebut melukaiku tetapi jika saya tidak ada niat jahat, maka mentega panas itu tidak dapat melukaiku.” Dikarenakan Uttara tidak memiliki niat jahat, maka mentega panas itupun tak dapat melukainya. Sirima tidak berhasil melukai Uttara, akhirnya ia mengulanginya dan dalam proses menjalankan aksinya, para pelayan Uttara menyerang Sirima dan memukulinya. Uttara menghentikan mereka dan menyuruhnya untuk mengobati luka dari Sirima.

      Sirima pun sadar dan menyesal bahwa dirinya melakukan kesalahan kepada Uttara serta meminta maaf. Uttara menjawab, “aku memiliki seorang Ayah, aku akan bertanya kepadanya apakah aku pantas menerima permintaan maafmu.” Sirima pun menyatakan siap untuk meminta maaf kepada ayahnya Uttara. Ayah yang dimaksud oleh Uttara adalah Sang Buddha bukan ayah kandungnya. Sirima juga mengatakan siap untuk bertemu dengan Sang Buddha. Sesuai rencana, akhirnya Sirima dapat bertemu dan menyerahkan dana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu.

      Usai bersantap, Sang Buddha diberitahu perihal Sirima dengan Uttara. Sirima pun mengakui bahwa dirinya telah berbuat salah pada Uttara dan meminta Sang Buddha apakah dirinya dapat dimaafkan, jika tidak Uttara tidak akan memaafkannya. Kemudian Sang Buddha bertanya kepada Uttara, “bagaimana perasaannya saat Sirima menyiramkan mentega panas ke arahnya?” Uttara menjawab, “Bhante, dikarenakan saya berhutang pada Sirima, saya sama sekali tidak memiliki niat buruk padanya, saya selalu mengembangkan cinta ke-padanya.”

     Sang Buddha berkata, “bagus Uttara! Dengan tidak ada niat jahat, engkau dapat mengatasi mereka yang berbuat kesalahan kepadamu. Dengan tidak melukai, engkau dapat mengatasi mereka yang melukai. Dengan bermurah hati, engkau dapat mengatasi orang kikir. Dengan berbicara yang jujur, engkau dapat mengatasi mereka yang berbohong. Setelah itu, Sang Buddha membabarkan syair Dhammapada syair 223 kepada Uttara, Sirima dan pembantunya Uttara. Di akhir ceramah Sang Buddha, Sirima dan 500 pelayan Uttara mencapai tingkat kesucian sotapatti.

   Melalui cerita ini dapat diambil pembelajaran bahwa hendaknya kita berusaha untuk mengendalikan diri, memerangi sifat buruk yang kemungkinan akan terjadi seperti yang dilakukan oleh Uttara terhadap Sirima. Jangan membiarkan nafsu-nafsu jahat menguasai seperti yang dialami oleh Sirima kepada Uttara karena kecemburuan yang membabi buta. Apabila dalam perjalanan menjalani hidup ini kita melakukan kesalahan kepada siapa pun, hendaknya untuk segera sadar dan mengakui kesalahan serta meminta maaf. Contoh baik yang dijelaskan dalam cerita ini dari Sirima kepada Uttara.

   Seandainya kemarahan, kejahatan, kekikiran dan kebohongan diimplemen-tasikan dalam keseharian, akibatnya akan sangat merugikan kedua elemen, elemen diri sendiri dan elemen di luar diri. Selaras dengan sabda Sang Buddha dalam Aṅguttara Nikāya, 3.17 yang menjelaskan tentang diri sendiri. Muatan khotbah dalam sutta ini menjelaskan kepada para bhikkhu bahwa ada tiga kualitas yang dapat mengarah pada penderitaan diri sendiri, penderitaan orang lain maupun keduanya. Ketiga perbuatan tersebut adalah perbuatan buruk melalui jasmani, perbuatan buruk melalui ucapan, dan perbuatan buruk melalui pikiran. Ketiga kualitas inilah yang akan mengarah pada penderitaan bagi diri sendiri, orang lain maupun untuk keduanya.

      Sebaliknya, apabila cinta kasih, kebajikan, kemurahan hati, dan kejujuran dikembangkan di dalam diri, akibatnya akan amat menguntungkan bagi diri kita sendiri maupun untuk orang-orang yang ada di luar diri ini. Penjelasan ini sesuai dengan khotbah Sang Buddha dalam Aṅguttara Nikāya, 3.17 yang menjelaskan tentang diri sendiri. Isi khotbah tersebut menguraikan kepada para siswa-Nya bahwa ada tiga kualitas (berlawanan dengan sebelumnya) yang tidak mengarah pada penderitaan bagi diri sendiri, orang lain maupun untuk keduanya. Perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan baik melalui jasmani, perbuatan baik melalui ucapan, dan perbuatan baik melalui pikiran. Ketiga kualitas inilah yang apabila diterapkan akan tidak mengarah pada penderitaan-penderitaan.
Memerangi sifat-sifat buruk yang ada di dalam diri individu menjadi tanggung jawabnya masing-masing. Tidak menggantungkannya kepada orang lain atau makhluk lain karena orang lain maupun makhluk lain juga memiliki benih-benih keburukan yang seharusnya mereka bersihkan. Oleh karena itu, marilah dari sekarang kita membersihkan diri, kita perangi hal-hal buruk yang ada di dalam diri ini seperti kemarahan, kejahatan, kekikiran, dan kebohongan. Kembangkan potensi baik yang ada agar segera memperoleh kondisi-kondisi baik.
Oleh: Bhikkhu Jayaseno
Minggu, 19 Januari 2020
 

Dibaca : 2917 kali