x

HARAPAN DI TAHUN BARU

Orang yang penuh semangat, selalu sadar, murni dalam perbuatan,
memiliki pengendalian diri, hidup sesuai dengan Dhamma, dan selalu waspada,
maka kebahagiaannya akan bertambah.
(Dhammapada, Appamada Vagga Syair 24)

    DOWNLOAD AUDIO

Setiap pergantian tahun di berbagai tempat untuk menyambut Tahun Baru Masehi ataupun Tahun Baru Imlek, tidak sedikit orang-orang merayakan pergantian tahun dengan perayaan yang mewah dan meriah serta banyak makanan dan minuman disediakan untuk bisa disantap bersama. Bahkan momen pergantian tahun atau menyambut tahun baru belum lengkap jika belum menyalakan dan terdengar suara petasan. Suara petasan menjadi pertanda bahwa tahun baru telah tiba.

Biasanya pada tahun baru setiap orang memiliki sebuah pengharapan dan keinginan agar di tahun ini bisa menjadi kenyataan. Mengenai keinginan atau pengharapan, Sang Buddha di dalam Iṭṭhasutta, Aṅguttara Nikāya 5.43, menyampaikan mengenai lima hal yang diharapkan namun jarang didapatkan di dunia ini kepada perumah tangga Anāthapiṇḍika. “Perumah tangga, ada lima hal ini yang diharapkan, diinginkan, disukai, dan jarang diperoleh di dunia ini. Apakah lima ini? Umur panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan alam Surga.

Tentunya dalam upaya memperoleh kelima hal itu dalam kehidupan ini, Sang Buddha sendiri telah berpesan bahwa kelima hal itu tidak akan didapatkan hanya sebatas melalui doa-doa atau pengharapan tanpa ada upaya atau mempraktikkan jalan yang mengarah pada pencapaian umur panjang, kecantikan, kebahagiaan, kemasyhuran, dan alam surga. Adapun praktik atau upaya yang bisa dilakukan antara lain:
1.Usaha penuh semangat
Tanpa adanya semangat untuk berusaha, maka keinginan atau pengharapan itu hanya sebatas harapan semata tanpa bisa terealisasi menjadi nyata. Untuk itu, usaha penuh semangat harus dimiliki oleh seseorang yang memiliki harapan dan keinginan agar bisa menjadi kenyataan.
2.Selalu sadar
Dengan praktik kesadaran terhadap setiap aktivitas yang dilakukan, maka seseorang telah mengarahkan segenap perhatian dengan demikian pekerjaan ataupun aktivitas lainnya bisa diselesaikan dengan maksimal.
3.Murni dalam perbuatan
Hendaknya seseorang senantiasa memurnikan pikiran, ucapan, dan perbuatan dalam keseharian agar terhindar dari masalah. Kendati masalah itu selalu ada selama seseorang hidup, paling tidak dengan pikiran, ucapan, dan perbuatan yang murni masalah yang datang tidak membuat seseorang tertekan.
4.Hidup sesuai dengan Dhamma 
Dengan menjadikan Dhamma sebagai pedoman hidup, maka seseorang akan berupaya mempraktikkan hiri (malu berbuat jahat) dan ottappa (takut akan akibat perbuatan jahat). Hiri dan ottappa disebut juga Dhamma pelindung dunia (lokapala). Jika setiap orang di dunia ini selalu mengembangkan rasa hiri dan ottappa, maka tidak akan ada tindakan yang membuat kerugian bagi orang lain.
5.Selalu waspada 
Selalu waspada setiap saat dengan menyadari jika ada niat buruk yang muncul kita harus berupaya menghilangkan niat buruk itu dengan mengalihkan perhatian pada hal yang positif. Jika yang muncul adalah niat baik, maka hendaknya kita mengembangkan dan bersemangat mempraktikkannya melalui tindakan.

Dengan praktik penuh semangat, selalu sadar, murni dalam perbuatan, memiliki pengendalian diri, hidup sesuai dengan Dhamma, dan selalu waspada, niscaya harapan atau keinginan yang diharapkan bisa menjadi kenyataan.

Kisah 4 Lilin

Ada 4 Lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.

Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.

Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.” “Saya ngaku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan menganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia menangis tersedu-sedu.

Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
Jangan takut, janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:
“Akulah HARAPAN.”
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita…. dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apa pun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!

Sumber:
https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/appamada-vagga/
https://suttacentral.net/an5.43/id/anggara
https://www.beritaunik.net/renungan/kisah-4-lilin.html

Dibaca : 5566 kali