x

DHAMMA SEBAGAI PEDOMAN HIDUP

Dhammaṁ care sucaritaṁ, na taṁ duccaritaṁ care; 
Dhammacāri sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi ca.
Hendaklah seseorang hidup sesuai dengan Dhamma dan tidak menempuh 
cara-cara jahat, barang siapa hidup sesuai dengan Dhamma, maka ia akan hidup
bahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.
(Kitab Suci Dhammapada Syair 169)

    DOWNLOAD AUDIO

     Kehidupan kita sebagai manusia selayaknya dijalani sesuai dengan ajaran kebajikan Dhamma yang sudah diajarkan oleh Sang Buddha, sehingga hidup menjadi tidak sia-sia. Kehidupan manusia yang bijaksana dapat dikatakan tidak sia-sia karena orang bijaksana sudah jelas memiliki Dhamma di dalam dirinya. Sedangkan Dhamma tidak akan dimiliki oleh orang yang tidak bijaksana karena ia tidak pernah merasa tertarik dengan Dhamma sehingga membuat hidupnya menjadi sia-sia karena tidak bisa memahami dan mengerti kebenaran akan hidup dan kehidupan ini.
     
     Dhamma sebagai ajaran kebenaran merupakan jalan yang sudah ditunjukkan oleh Sang Buddha sebagai jalan untuk menempuh hidup yang lebih baik dan bahagia serta untuk mencapai tujuan hidup yang lebih tinggi yaitu Nibbāna. Menjalani kehidupan sebagai perumah tangga bukan berarti tidak punya kesempatan untuk praktik Dhamma. Kehidupan ini adalah kesempatan yang paling baik karena kita lahir sebagai manusia dan bertemu dengan Dhamma. Kondisi seperti ini hendaknya dijalani dengan sebaik-baiknya untuk memperbaiki hidup kita lebih baik dan mulia saat ini dan di masa mendatang.

    Dalam kehidupan ini hendaknya Dhamma kita gunakan sebagai pedoman hidup kita yang mengharapkan kehidupan yang bahagia. Dengan begitu kita semua memiliki tugas untuk belajar dan praktik Dhamma agar hidup kita senantiasa damai dan bahagia. Dhamma itu harus kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita mendapatkan manfaat dari Dhamma. Di dalam Saṁyutta Nikāya, Sang Buddha menjelaskan bahwa ada empat Dhamma yang harus dikembangkan sebagai seorang perumah tangga dalam kehidupan sehari-hari yaitu:

      1.Sacca adalah kejujuran dan selalu menepati janji kepada orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kejujuran sulit ditemukan namun bila kita memilikinya kita akan mudah mendapatkan kepercayaan orang lain. Dalam syair Dhammapada menjelaskan kepercayaan adalah saudara yang paling baik. Jika di dalam diri kita tidak ada kejujuran maka kita akan sering berbohong, berbohong adalah sila ke-4 dari Pañcasīla Buddhis. Orang yang melanggar salah satu dari Pañcasīla Buddhis yaitu sila ke-4 yang tidak peduli dengan kehidupan mendatang, maka ia akan selalu melakukan kejahatan. Oleh karena itu, Sang Buddha juga menasihati kita dalam syair Dhammapada 223 bahwa “kalahkan kebohongan dengan kejujuran”.
 
      2.Dama adalah pengendalian pikiran yang baik. Pikiran adalah sumber dari segala perbuatan yang kita lakukan, sedangkan perbuatan itu sendiri yang menentukan diri kita bahagia atau menderita. Pikiran adalah salah satu dari tiga pintu perbuatan yaitu pikiran, ucapan, dan perbuatan jasmani. Pikiran adalah penguasa dan memiliki peran pertama dalam menentukan arah kehidupan kita. Sang Buddha mengajarkan di dalam Dhammapada syair 1 dan 2 bahwa: “pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikuti-nya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menarik-nya”. Dan sebaliknya, Sang Buddha juga menjelaskan secara gamblang pada syair ke-2 “pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran baik, maka kebahagiaan akan mengikuti-nya, bagaikan bayang-bayang yang tak akan meninggalkan bendanya”.
 
    3.Khanti adalah kesabaran dalam menghadapi setiap persoalan yang sulit. Sang Buddha menjelaskan di dalam syair Dhammapada 184 bahwa: “kesabaran adalah praktik bertapa paling tinggi”. Kesabaran dibutuhkan untuk mencapai cita-cita tertinggi atau pencerahan. Kesabaran adalah senjata kita dalam menghadapi segala bentuk fenomena yang sulit dan tidak menyenangkan. Setiap kondisi yang tidak menyenangkan adalah guru terbaik untuk melatih kesabaran kita. Kesabaran adalah salah satu dari sepuluh paramita yang harus disempurnakan oleh seorang calon Buddha untuk bisa mencapai kesempurnaan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus melatih kesabaran ketika orang lain  merendahkan kita, menghina, men-cela, menyakiti, membenci ini adalah kondisi terbaik untuk selalu bersabar dengan senantiasa ‘terima kasih anda sudah mematangkan kamma buruk saya, dan selamat anda sedang menanam kamma buruk yang baru’.
 
      4.Caga adalah kemurahan hati terhadap mereka yang membutuhkan pemberian. Kemurahan hati yang paling dasar yang tidak membutuhkan biaya mahal adalah memberikan senyuman pada orang lain, memberikan ucapan-ucapan yang me-nyenangkan pada orang lain atau dengan memberikan 3 S, yaitu senyum, sapa, dan salam, ini adalah cara yang paling mudah. Di dalam syair Dhammapada 223, Sang Buddha menasihati kita bahwa: “kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati”, kemurahan hati tidak akan dimiliki oleh orang-orang yang batinnya diliputi oleh kekikiran sehingga kita harus mengalahkannya dengan berbagi atau belajar melepas sedikit demi sedikit. Dengan cara ini kekikiran dapat kita singkirkan men-jadi dermawan. Selain itu juga di dalam Dhammapada syair 242, Sang Buddha menjelaskan bahwa: “kekikiran adalah noda bagi seorang dermawan”. Jika kita memiliki sifat belas kasih, maka kita akan memahami kondisi orang lain yang membutuhkan bantuan kita sehingga akan muncul rasa ingin membantu tetapi akan menjadi sulit bagi mereka yang memiliki noda pelit dan kikir akan sulit untuk berbagi.
 
     Dhamma adalah jalan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha dengan demikian dalam menjalani proses hidup ini kita senantiasa menggunakan Dhamma sebagai pedoman hidup untuk diterapkan dalam praktik nyata di kehidupan sehari-hari. Apabila kita ingin sampai tujuan dengan aman dan cepat, maka kita harus melewati jalan tersebut. Dhamma sebagai jalan bisa diibaratkan sebagai aplikasi GPS atau Maps. Buddha sendiri adalah pembuat aplikasi GPS-Nya, Dhamma adalah aplikasi GPS-nya, dan Saṅgha adalah orang yang menggunakan aplikasi GPS-nya dengan tepat sehingga bisa sampai pada tujuan yang diinginkan. Jika kita pengguna GPS tidak mengikuti petunjuk yang di arahkan, maka kita akan semakin jauh dari tujuan dan tidak bisa sampai pada tujuan dengan selamat. Demikian juga dengan Dhamma, bila kita menyeleweng dari Dhamma, maka kita akan semakin tersesat dan jauh dari tujuan, tetapi jika kita menjalankan mengikuti petunjuk dari Dhamma, maka kita akan bisa selamat dari derita dan memperoleh bahagia yang merupakan tujuan semua makhluk dan dapat merealisasikan kebebasan Nibbāna.

Referensi: 
-Kitab Suci Dhammapada
-Saṁyutta Nikāya

Oleh: Bhikkhu Cattaseno
Minggu, 16 Februari 2020

Dibaca : 2130 kali