x

PERILAKU ORANG BAIK

Puññañce puriso kayirā, kayirāthetaṁ punappunaṁ.
Tamhi chandaṁ kayirātha, sukho puññasa uccayo’ti
Apabila seseorang berbuat baik, hendaklah ia mengulangi perbuatannya
itu dan bersuka ria dengan perbuatan itu. Sungguh membahagiakan
akibat dari memupuk perbuatan baik.
(Dhammapada 118)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam Dhammapada, gātha 183, ada kalimat yang berbunyi kusalassūpasampadā yang artinya adalah ‘senantiasa menambah kebajikan’. Di sini sangatlah jelas bahwa kita sebagai umat Buddha haruslah aktif, giat, dan semangat dalam berbuat baik. Sering juga kita mendengar quotes yang berbunyi ‘tetaplah baik sampai akhir hidup.’ Lalu seperti apakah tindakan yang disebut baik itu? Dan kepada siapakah kebaikan itu diberikan? Dalam Sappurisa Sutta, Kitab Suci Aṅguttara Nikāya Kelompok Delapan, dijelaskan bahwa orang baik itu memiliki perilaku baik kepada:

1.Mātāpitunaṁ atthāya hitāya sukhāya hoti, orang baik melakukan hal yang bermanfaat buat ayah- ibunya. Ayah-ibu adalah orang yang berjasa dalam  hidup kita, merekalah yang menjadikan kita ada. Dalam Kitab Suci Itivuttaka, Sang Buddha menyatakan “Brahmā ti mātāpitaro, pubbācariyā ti vuccare, āhuneyyā ca puttānaṁ pajāya anukampakā” ayah-ibu laksana dewa brahma, mereka adalah guru awal untuk anak-anaknya, sepantasnya anak-anak menghormati mereka. Tinggi sekali kedudukan orang tua di dalam Dhamma, karena itu orang baik hormatilah orang tuamu, cukupilah segala kebutuhannya sebagaimana mereka mencukupi kebutuhanmu saat dirimu masih kanak-kanak. Rawatlah mereka dengan baik sebagaimana mereka merawatmu dulu.

2.Puttadārassa atthāya hitāya sukhāya hoti, orang baik melakukan hal yang bermanfaat buat anak-istrinya. Umat Buddha yang berumah tangga memiliki tanggung jawab kepada anak dan istrinya. Sebagai suami atau sering disebut kepala keluarga bertanggung jawab untuk menafkahi anak-istri mulai dari makanan, tempat tinggal, pendidikan, keamanan, dan masa depan mereka.

3.Dāsakammakarāporisassa atthāya hitāya sukhāya hoti, orang baik melakukan hal yang bermanfaat buat pembantunya. Pembantu, pelayan atau pegawai adalah mereka yang bekerja untuk kita. Sebagai majikan kita tidak cuma memiliki kewajiban menggaji mereka tetapi kita juga berkewajiban mencukupi makanan dan tempat tinggal yang layak bagi mereka.

4.Mittāmaccānaṁ atthāya hitāya sukhāya hoti, orang baik melakukan hal yang bermanfaat buat teman atau kerabatnya. Kita hidup bermasyarakat memiliki teman atau  
dalam keluarga kita memiliki kerabat/family dari pihak orang tua, istri ataupun lainnya. Baiklah kepada mereka karena mereka  adalah orang-orang yang kita kenali sebagai bagian dari hidup kita. Jika mereka kesusahan dalam hidup janganlah berat untuk membantu terutama dalam hal-hal yang baik yang berguna dan bermanfaat untuk hidupnya dan keluarganya.

5.Pubbapetānaṁ atthāya hitāya sukhāya hoti, orang baik melakukan hal yang bermanfaat buat leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal. Setiap orang pasti punya leluhur atau sanak keluarga yang telah meninggal. Pada saat mereka hidup tentu mereka memiliki jasa kepada mereka, kita patut membalas jasa itu sebagai wujud terima kasih. Setelah mereka tiada kita lakukan kebajikan dan limpahkan jasa baik itu kepada mereka. Orang baik tidak akan melupakan jasa para pendahulunya. Ada ungkapan bijak yang menyatakan: ”ingatlah jasa mereka yang membuatmu berada pada posisi sekarang, jika belum bisa membalasnya, minimal sertakan mereka dalam doamu.”

6.Rañño atthāya hitāya sukhāya hoti, orang baik melakukan hal yang bermanfaat  buat raja atau pemerintah. Kita adalah umat Buddha yang tinggal di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berideologi Pancasila. Sebagai warga negara kita harus taat dan patuh pada ideologi negara dan konstitusi yang berlaku di negara ini. Jangan kita memiliki pikiran/niatan untuk mengganti ideologi negara yang sudah mengayomi dan menyerap aspirasi  masyarakat Indonesia. Di samping itu sebagai warga negara kita juga memiliki kewajiban untuk membayar pajak. Inilah wujud perilaku orang baik pada negaranya.

7.Devatānaṁ atthāya hitāya sukhāya hoti, orang baik melakukan hal yang bermanfaat buat para dewa-dewi. Budaya masyarakat mengenal tradisi puja kepada dewa-dewi atau penunggu tempat. Hal ini tidaklah dilarang dalam agama Buddha. Cuma dalam melakukan puja tersebut hindarilah pembunuhan atau penganiayaan makhluk hidup sebagai persembahan dan lakukan itu sebagai bentuk penghormatan kepada lingkungan/alam bukan permohonan.

8.Samaṇabrahmanaṁ atthāya hitāya sukhāya hoti, orang baik melakukan hal yang bermanfaat buat para petapa dan brahmana. Kebhikkhuan adalah cara hidup yang bertujuan untuk membebaskan diri dari dukkha, bhikkhu bukanlah profesi. Karenanya menjadi kewajiban para perumah tangga untuk memberikan dukungan yang berupa empat kebutuhan pokok; jubah, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan.

Kesimpulan
Orang baik adalah orang yang mau berbuat baik kepada setiap orang bukan hanya kepada sekelompok orang, dan semua kebaikan itu dia lakukan atas dasar cinta kasih, kasih sayang yang dilandasi dengan kebijaksanaan.

Sumber: 
•Dhammapada, Yayasan Dhammadipa Arama, 2000
•https://suttacentral.net

Oleh: Bhikkhu Dhammiko
Minggu, 01 Maret 2020

Dibaca : 4325 kali