x

Menyikapi Epidemi Corona Menurut Kitagiri Sutta

Passa cittakataṁ bimbaṁ, Arukāyaṁ samussitaṁ.
Āturaṁ bahusaṅkappaṁ, Yassa natthi dhuvaṁ ṭhiti.
Lihatlah tubuh yang indah ini, banyak orang menganggapnya sangat berharga
dan dirawat dengan sungguh-sungguh. Tetapi sesungguhnya tubuh ini tidaklah kekal, penuh luka, ditopang oleh sekumpulan tulang dan mudah sekali diserang penyakit.
Dhammapada BAB XI: Jarā Vagga 147

    DOWNLOAD AUDIO

Wabah Epidemi Corona masih menjadi perbincangan publik di seluruh dunia sampai sekarang. Jumlah kasus yang terinfeksi dan meninggal terus bertambah dari waktu ke waktu. Salah satu yang menjadi sumber penyebaran virus ini adalah Pasar Seafood di Huanan, Wuhan yang menjual berbagai jenis daging hewan liar. COVID-19 pertanggal 05 Maret 2020, minimum 95.832 yang telah terkonfirmasi, 80.410 terjadi di daratan Tiongkok. Jumlah penderita yang sembuh 51.233 serta meninggal dunia mencapai 3.286 kasus. Kematian di luar Tiongkok terjadi di Iran, Italia, dan Korea Selatan. 

Wabah ini telah dinyatakan sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia (PHEIC) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 30 Januari 2020. Terdapat 87 Wilayah Negara yang terkena dampak Epidemi Corona tersebut, sebagian besar mereka yang meninggal merupakan pasien yang lebih tua sekitar 80% kematian yang tercatat berasal dari mereka yang berusia di atas 60 tahun. Sedangkan 75% memiliki kondisi kesehatan yang sudah ada termasuk penyakit kardiovisular dan diabetes.

Menurut ajaran Buddha, sumber wabah dikarenakan perilaku mengkonsumsi hewan liar yang berlebihan dan kurangnya memahami proses sebab akibat yang terjadi. Diuraikan dalam Abhidhamma mengenai lima jenis hukum alam (Pañca Niyama), jika segala apa yang kita lakukan (Kamma Niyama) akan mempengaruhi iklim dunia (Utu Niyama). Misalkan, kamma negatif yang dihasilkan dari penyebab keserakahan ataupun kebencian umat manusia seperti penebangan liar terlalu berlebihan akan terjadi gangguan pada alam sekitar ataupun ekosistem yang dapat berubah. Seperti musim hujan tidak datang pada waktunya, musim kemarau terlalu panjang, disusul dengan badai hujan yang terlalu ekstrem sehingga terjadinya bencana alam banjir bandang, tanah longsor, ataupun kebakaran hutan serta bencana lainnya. 

Wabah Epidemi CORONA menjadi contoh bagaimana terjadinya interdependensi antara Bῑja Niyama dengan Kamma Niyama yang dihasilkan dari pembunuhan binatang liar secara terus-menerus (Kamma Niyama) ketika munculnya wabah penyakit baru. Kasus tersebut menjelaskan kepada kita mengapa di zaman modern muncul berbagai penyakit baru yang berasal dari kuman baru (Bῑja Niyama) karena makan binatang liar. Kekhawatiran merebaknya kuman baru dari COVID-19 membuat banyak orang mengatakan bahwa ini merupakan buah kamma dari orang-orang yang mengabaikan kesehatan lingkungan. 

Dalam sudut pandang ajaran Buddha, menekankan kesehatan sebagai keuntungan terbesar yang dimiliki setiap manusia (ārogyaparamā lābhā) (Dhammapada 204). Dengan hidup sehat, maka setiap manusia dengan tekun berlatih Dhamma, tanpa kesehatan sangat sulit rasanya setiap manusia akan berlatih Dhamma dengan baik.

Seperti penjelasan yang tertulis pada Kitagiri Sutta (Majjhima Nikāya 4), ketika Sang Bhagavā sedang berkelana di Negeri Kasi bersama kelompok besar Saṅgha Bhikkhu, kemudian Sang Bhagavā mengatakan: “Saya berpantang makan di malam hari. Dengan melakukan hal ini, saya akan bebas dari penyakit ataupun penderitaan. Saya akan menikmati kesehatan, kekuatan maupun kediaman yang nyaman. Kemudian Sang Bhagavā mengajak para bhikkhu untuk berpantang makan malam. Dengan melakukan praktik ini, kalian akan bebas dari penyakit ataupun penderitaan, serta akan menikmati kesehatan, kekuatan, dan kediaman yang nyaman.

Kemudian, setelah Sang Bhagavā berkelana dari Negeri Kasi, Beliau sampai di suatu Kota Kasi bernama Kitagiri. Pada kesempatan itu, terdapat dua bhikkhu bernama Assaji dan Punabbasuka. Kedua bhikkhu tersebut makan di petang hari, di pagi hari, dan di siang hari di luar jam yang pantas. Dengan melakukan hal ini kedua bhikkhu tersebut berpandangan akan terbebas dari penyakit serta penderitaan. Menikmati kesehatan, kekuatan, maupun kediaman yang nyaman. Mengapa kami harus meninggalkan manfaat yang sudah kami jalani dan kini untuk mengejar suatu manfaat yang akan dicapai di masa depan? Kami akan makan di petang hari, di pagi hari, dan di siang hari di luar jam yang pantas.

Karena para bhikkhu tersebut berbeda pandangan dengan Sang Bhagavā, kemudian Sang Bhagavā mengundang kedua bhikkhu untuk datang dan memberitahu mereka berdua. Sang Bhagavā memberikan penjelasan mengenai Dhamma dengan cara seperti berikut:

“Apa pun yang dialami setiap orang, tidak peduli apakah yang menyenangkan atau menyakitkan atau bukan menyenangkan pun bukan menyakitkan, keadaan-keadaan yang tak bajik berkurang di dalam dirinya dan keadaan-keadaan bajik akan bertambah.”

“Para bhikkhu, bukankah kalian mengetahui saya mengajarkan Dhamma dengan cara seperti berikut: 

“Bila seseorang merasakan suatu jenis perasaan menyenangkan tertentu, maka keadaan-keadaan tak bajik meningkat di dalam dirinya dan keadaan-keadaan bajik berkurang. Tetapi, jika seseorang merasakan suatu jenis perasaan menyenangkan yang lain, keadaan-keadaan tak bajik berkurang di dalam dirinya dan keadaan-keadaan bajik bertambah.”

“Bila seseorang merasakan suatu jenis perasaan yang menyakitkan tertentu, keadaan-keadaan tak bajik meningkat di dalam dirinya dan keadaaan-keadaan bajik berkurang. Tetapi jika seseorang merasakan jenis perasaan menyakitkan yang lain, keadaan-keadaan tak bajik berkurang di dalam dirinya dan keadaan-keadaan bajik meningkat. 

Di sini ketika seseorang merasakan suatu jenis perasaan yang bukan menyakitkan ataupun bukan menyenangkan tertentu, keadaan-keadaan tak bajik meningkat di dalam dirinya dan keadaan-keadaan bajik berkurang. Tetapi ketika seseorang merasakan jenis perasaan yang bukan menyakitkan ataupun bukan menyenangkan yang lain, keadaan-keadaan tak bajik berkurang di dalam dirinya dan keadaan-keadaan bajik akan meningkat.

Referensi:
-Madyamiko, Gunarko Hartoyo. “Pembelajaran Virus Corona?” https://hariansib.com.15 Februari 2020. 05 Maret 2020.
-“Wabah Penyakit Coronavirus 2019-2020?” id.m.wikipedia.org 05 Maret 2020.
-Sasanasena, Hansen. “Mantra Tara vs. Virus Corona” buddhazine.com/mantra-tara-vs-virus-corona 09 Februari 2020. 05 Maret 2020.
-Majjhima Nikāya 4: Kitagiri Sutta. Oleh: Dra. Wena Cintiawati, Dra. Lanny Anggawati, Penerbit: Vihāra Bodhivamsa, Wisma Dhammaguna 2007.
-Ikhtisar Ajaran Buddha. Oleh: Upa. Sasanasena Seng Hansen, Penerbit Insight Vidyasena Production, September 2008.

Dibaca : 2690 kali