x

E K U I L I B R I U M

(Phuṭṭassa lokadhammehi, cittaṁ yassa na kampati,
asokaṁ virajaṁ khemaṁ, etaṁ maṅgalamuttamaṁ`ti)

    DOWNLOAD AUDIO

Ekuilibrium merupakan sebuah keadaan yang mantap karena kekuatan yang berlawanan atau sepadan, pada dasarnya ekuilibrium adalah sebuah keadaan yang seimbang. Ekuilibrium diambil dari bahasa Inggris (equilibrium) yang kemudian diserap dalam bahasa Indonesia menjadi ekuilibrium.

Ekuilibrium sendiri terdapat di dalam ilmu pengetahuan yang sudah ada selama ini, sebagai contoh; di dalam biologi ada istilah Equilibrioception yaitu rasa keseimbangan hadir pada manusia dan hewan. Dalam ilmu kimia terdapat istilah ekuilibrium thermal yaitu sebuah keadaan di mana suatu benda dan sekitarnya bertukar energi dalam bentuk panas, yaitu mereka berada pada suhu yang sama. Dalam ilmu ekonomi, ekuilibrium merupakan sebuah titik perpotongan antara kurva demand dan kurva supply, sehingga menghasilkan harga dan jumlah yang seimbang di mana faktor-faktor lain dianggap tetap.

Dalam praktik Dhamma, keseimbangan juga sangat ditekan-kan dalam berlatih. Sebagai contoh ketika melatih samādhi, samādhi bisa menyebabkan efek positif dan efek negatif, efek negatif dari samādhi bisa mengarah pada kemalasan (kosajja). Yang dimaksud kemalasan di sini adalah ketika samādhi telah dicapai, batin menjadi tenang, ketenangan tersebut bisa menimbulkan kemalasan. Kemalasan bisa membawa pada keinginan untuk tidak melakukan apa pun. Ini merupakan hal umum ketika seseorang gembira dan nyaman, seseorang tidak mau melakukan apa pun. Dalam kasus seperti ini, seseorang harus melatih untuk tetap seimbang dengan mengembangkan lima kualitas.

Mengembangkan lima kualitas adalah bagian yang tidak bisa di-pisahkan ketika berlatih, lima kualitas tersebut terdiri dari: keyakinan (saddhindriya), usaha (viriyindriya), perhatian (satindriya), konsentrasi (samādhindriya), dan kebijaksanaan (paññindriya).
a.Keyakinan dan Kebijaksanaan
Pada umumnya batin kita berorientasi pada objek yang dipercayai. Batin kita mudah dipengaruhi oleh emosi. Kualitas dari keyakinan membangun energi pada diri kita, orang yang mempunyai keyakinan, maka dia mempunyai percaya diri yang kuat. Keyakinan membutuhkan dukungan dari faktor lain yaitu kebijaksanaan, yang mengerti akan sebab dan akibat, serta hakekat sesungguhnya dari alam, mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Jika keyakinan berdiri sendiri, maka keyakinan tersebut gampang sekali dipengaruhi oleh emosi dan salah dalam menilai. Akibatnya, orang-orang bisa menjadi liar atau terlibat dalam sebuah masalah dikarenakan keyakinan belaka. Memperhatikan begitu besarnya energi dari sebuah keyakinan, kita diingatkan untuk tetap terkontrol oleh kebijaksanaan. Sebaliknya juga, kebijaksanaan jika berdiri sendiri, maka hal tersebut bisa berbahaya juga, hanya mengetahui ini dan itu. Tetapi tidak ada keyakinan untuk membantu memahami hakekat sesungguhnya. Ketika seorang praktisi Dhamma telah mencapai tujuannya, maka keyakinan tidak membutuhkan lagi dukungan dari kebijaksanaan. Karena keyakinan yang benar tersebut otomatis sudah menjadi indria bagi dirinya sendiri.
b.Usaha dan Samādhi
Usaha mempunyai kecenderungan untuk maju terus, untuk menguasai, untuk melewati apa pun yang menghadangnya, pada dasarnya usaha adalah kemauan untuk sukses. Karakteristik dari usaha adalah maju secara terus-menerus (continuously). Jika usaha hanya berdiri sendiri, maka ia mengarah kepada keragu-raguan, tidak stabil, dan meleset dari tujuan praktik Dhamma.  Untuk itulah, samādhi dibutuhkan untuk mendukung usaha. Samādhi membawa ketenangan. Dengan cara seperti ini, maka terbentuk keseimbangan di antara keduanya. Dalam kasus yang sama, samādhi tanpa adanya usaha untuk melanjutkan, maka orang tersebut  hanya menikmati ketenangan dan tidak mau mencapai tujuan dari praktik Dhamma. Seperti yang disampaikan dalam paragraph 3 bahwa samādhi bisa mengarahkan seseorang untuk cenderung tidak melakukan apa pun. Usaha dibutuhkan agar bisa mengarahkan seseorang untuk tetap berlatih hingga mencapai tujuan akhir dari praktik Dhamma. Seperti yang telah dicontohkan oleh Sang Buddha. Ketika Beliau mencapai tingkat samādhi yang sangat dalam. Beliau memahami bahwa ini bukanlah menuju pada akhir dari penderitaan. Oleh karena itu Beliau masih berjuang terus-menerus dengan cara Beliau hingga mencapai akhir dari pen-deritaan.
c.Perhatian (sati) 
Dari 4 kualitas batin di atas, perhatian menjadi pengawas untuk kualitas batin yang lain, perhatian memberikan sinyal kepada kita ketika latihan kita tidak seimbang. Perhatian membuat kita selalu waspada ketika salah satu kualitas tidak muncul, maka dimunculkan, jika salah satu kualitas berlebihan, maka dikurangi.

Perhatian menjadi kualitas di tengah-tengah kualitas yang lainnya, dan ia berdiri bersama sampajañña (Pengetahuan). Ketika kelima kualitas batin ini bekerja bersama, maka keseimbangan terbentuk dalam latihan. Di dalam keseimbangan, praktik Dhamma kita tentu akan cepat meningkat dan sukses dalam mencapai tujuan dari seorang Buddhis yaitu bebas dari penderitaan (Nibbāna). Kualitas-kualitas batin ini dibangun seperti sebuah obat untuk menyembuhkan, bukan untuk melekat terhadap obat tersebut. Dengan kata lain, kualitas-kualitas batin ini dibangun untuk terbebas dari akhir penderitaan. Dengan demikian, seseorang walaupun batinnya dipengaruhi oleh kondisi dunia, batinnya tidak akan tergoyahkan, penuh kedamaian.

Dibaca : 4096 kali