x

DHAMMA ANTIVIRUS UNTUK MENGATASI VIRUS BATIN

Vāṇijova bhayaṁ maggaṁ, appasattho mahaddhano; 
Visaṁ jīvitukāmova, pāpāni parivajjaye.
Bagaikan seorang saudagar yang dengan sedikit pengawal membawa banyak harta, menghindari jalan yang berbahaya, demikian pula orang yang mencintai hidup, hendaknya menghindari racun dan hal-hal yang jahat.
(Kitab Suci Dhammapada Syair 123)

    DOWNLOAD AUDIO

Di zaman yang modern dan perkembangan teknologi ini kita tidak bisa lepas dari komputer untuk melakukan banyak aktivitas. Komputer memudahkan kita mengerjakan sesuatu, bekerja, mencari berita, dan mendapatkan informasi. Oleh karena itu, apabila komputer kita mengalami masalah, maka kita akan merasa kesal, karena semua data dan pekerjaan ada di dalamnya. Permasalahan yang sering terjadi pada komputer adalah adanya virus yang dapat mengganggu kinerja perangkat pada komputer. Untuk mengantisipasi adanya virus pada komputer, kita bisa memasang antivirus. Antivirus inilah yang akan membersihkan virus yang masuk sehingga tidak sampai merusak data dalam komputer kita.

Tidak hanya komputer saja yang dapat diserang oleh virus, tetapi kehidupan manusia juga dihadapkan oleh virus. Virus yang ada pada komputer itu sifatnya hampir sama dengan virus pada kehidupan manusia yaitu bersifat menggangu dan merusak. Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini kehidupan manusia sedang dihadapkan dengan virus yang disebut korona. Virus korona ini bersifat mengganggu, merusak, bahkan mematikan. Kehidupan kita sebagai manusia yang memiliki dua komponen yaitu batin dan jasmani. Kedua komponen ini bisa diserang oleh virus, sehingga secara jasmani kita bisa menjaga kesehatan dan kebersihan.

Tetapi tugas kita tidak hanya mengatasi virus korona yang menyerang jasmani kita, ada yang jauh lebih penting daripada sekadar menjaga jasmani. Merupakan hal yang penting tetapi justru sering diabaikan oleh kebanyakan orang, sehingga banyak orang menderita sakit karena lupa menjaga batin dari serangan virus Lobha, Dosa, dan Moha. Inilah tiga virus batin yang lebih ganas daripada virus lainnya yang membuat manusia dan semua makhluk mengalami penderitaan lahir, sakit, tua, dan mati sepanjang kehidupan. Lalu bagaimana cara mengatasi virus batin? Jangan khawatir karena obat untuk mengatasi virus batin sudah ditemukan oleh Sang Buddha yang sudah teruji kualitasnya yaitu Dhamma. Dhamma adalah antivirus untuk batin kita. Tetapi dalam hal ini disingkat menjadi SMADAV.

SMADAV batin tidak sama dengan SMADAV yang ada pada komputer pada umumnya. Jika antivirus pada komputer berbentuk aplikasi yang hanya dapat digunakan pada saat komputer dinyalakan, tetapi SMADAV pada batin ini butuh dinyalakan setiap saat dengan praktik dalam kehidupan sehari-hari. SMADAV yang dimaksudkan di sini bukanlah aplikasi, tetapi memiliki kepanjangan yaitu Sῑla, Mettā, Avihimsa, Dāna, Adhiṭṭhāna, dan Viriya. 

Sῑla adalah moralitas. Sebagai umat Buddha kita mengenal Pañcasῑla Buddhis yaitu lima aturan moralitas yang merupakan pedoman hidup yang harus dilatih dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari untuk meningkatkan latihan menuju kesucian. Apabila Pañcasῑla Buddhis ini dijalankan dengan  
baik, maka akan membawa kemakmuran, kemajuan, kehidupan surga, baik sebagai manusia maupun dewa. Jika dalam hidup tidak mengindahkan Pañcasῑla Buddhis, maka kita akan selalu diliputi oleh kekhawatiran, ketakutan, kegelisahan, dan kekacauan dalam batin kita. 

Mettā adalah cinta kasih. Cinta kasih yang Sang Buddha ajarkan ialah cinta kasih universal tanpa sekat, perbedaan, batasan, bukan hanya untuk manusia, bukan hanya untuk umat Buddha tetapi untuk semua makhluk hidup. Kita bisa memancarkan cinta kasih berawal dari diri kita sendiri, kedua orangtua, saudara, teman, para guru, dan orang yang telah berjasa dalam hidup kita dan semua makhluk. Bahkan cinta kasih bisa kita pancarkan pada orang-orang yang membenci kita dengan harapan mereka sadar akan kebenciannya sehingga tidak lagi membenci kita. Dengan demikian batin kita akan terasa damai dan bahagia.

Avihimsa adalah tanpa kekerasan. Tanpa kekerasan adalah salah satu dari sepuluh kualitas seorang pemimpin. Kita adalah seorang pemimpin bagi diri kita sendiri. Sebagai umat Buddha yang mengenal cinta kasih dan kasih sayang, maka tak sepatutnya melakukan kekerasan terhadap makhluk lain. Sudah selayaknya kita saling mengasihi antar sesama dan semua makhluk dengan tidak menyakiti orang lain, senang pada perdamaian, menjauhi sikap penghancuran hidup. Sejatinya tidak ada yang ingin disakiti, dibenci, ataupun dilukai, karena semua makhluk mencintai kehidupannya. 

Dāna adalah memberi. Memberi tidak hanya tentang materi, tetapi memberi bisa dilakukan dengan banyak cara misalnya membantu dengan tenaga, membantu dengan pikiran, membantu dengan ucapan. Kita bisa menawarkan tenaga kita untuk membantu orang lain. Selain itu kita bisa memberikan ucapan yang baik, menyenangkan hati orang lain dengan memberikan motivasi, inspirasi pada orang lain. Dan kita bisa berpikir baik pada orang lain dengan memancarkan cinta kasih, selalu menguncarkan ujaran semoga semua makhluk berbahagia.

Adhiṭṭhāna adalah tekad. Tekad merupakan salah satu dari sepuluh Paramita yang harus dikembangkan oleh Bodhisatta atau seseorang yang bercita-cita menjadi Buddha. Tekad harus dimiliki dan dijalankan dengan penuh konsisten untuk mencapai keberhasilan. Tekad harus diperbaharui setiap saat dengan tujuan agar tekad tidak padam. Tekad harus jelas dan bisa dilakukan, seperti dalam hal ini kita bertekad melakukan ke-bajikan untuk mengikis kekotoran batin kita. Tekad tidak bisa berjalan sendiri tanpa ada kekuatan semangat atau viriya.

Viriya berarti semangat. Semangat adalah salah satu faktor penting yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan suci. Viriya sering dikaitkan dalam mengupayakan usaha-usaha yang mengarah pada kebaikan dan mengikiskan hal-hal yang bersifat negatif. Di dalam Aṅguttara Nikāya. II. 16, dijelaskan tentang usaha rajin dan semangat yang merupakan usaha benar yang oleh setiap orang  harus berusaha untuk mengembangkannya di dalam diri untuk menuju pada kesucian yaitu Saṁvarappadhāna: usaha rajin agar keadaan jahat dan buruk tidak timbul di dalam diri seseorang; Pahānappadhāna: usaha rajin untuk menghilangkan keadaan-keadaan jahat dan buruk yang telah timbul; Bhāvanāppadhāna: usaha rajin untuk menimbulkan keadaan-keadaan baik di dalam diri seseorang; Anurakkhappadhāna: usaha rajin untuk menjaga keadaan-keadaan baik yang telah timbul dan tidak membiarkannya lenyap. 

Sumber: 
-Hansen, Sasanasena Seng. 2008. Ikhtisar Ajaran Buddha. Yogyakarta: Vidyasena Production.
-The Late Patriarch, H. R. H, Prince Vajirananavarorasa, Abhipanno (ed). 2002. Dhamma Vibhaga. Yogyakarta: Vidyasena Vihara Vidyaloka.  2012. Dhammapada. Diterjemahkan oleh: Phra Rajavaracariya, Buddharakkhita, Dhammavaro. Tanpa Kota: Bahussuta Society.

Dibaca : 747 kali