x

KEMAJUAN SPIRITUAL

Vayadhammā saïkhārā appamādena sampādethā’ti

(Segala sesuatu yang berkondisi pasti mengalami perubahan,

berusahalah dengan penuh kesadaran)


    DOWNLOAD AUDIO

Baru saja kita melewati waisak 2564 BE (Buddhist Era)/2020 beberapa hari yang lalu, pada tahun-tahun sebelumnya, banyak umat yang hadir ketika peringatan dan perayaan waisak. Jumlah umat Buddha yang hadir ketika peringatan dan perayaan waisak biasanya melebihi dari perayaan-perayaan Buddhis yang lain, karena memang waisak mempunyai hal yang spesial bagi umat Buddha. Setiap umat Buddha pasti tahu tentang waisak, terutama kepada umat Buddha yang jarang hadir di Vihāra, akan hadir ketika peringatan ataupun perayaan waisak. Pada tahun ini 2020 ini waisak diadakan secara daring atau yang dikenal live streaming, umat merayakan waisak di rumah masing-masing.

Berbicara mengenai jumlah umat Buddha yang hadir ketika waisak, tentu banyak umat Buddha yang sudah banyak mengenal ajaran Buddha, juga banyak yang masih belum mengenal ajaran Buddha, baik yang sudah mengenal ataupun yang belum mengenal masing-masing mempunyai sebuah keinginan yaitu kemajuan spiritual dirinya.

Orang yang baru saja mengenal ajaran Buddha sering bertanya apakah seorang umat awam yang mengikuti ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari tidak terlihat bisa maju secepat bhikkhu dan mencapai tingkat pencerahan yang sama? Menurut Kitab Suci Pāḷi, tujuan tertinggi Dhamma adalah pencapaian Nibbāna: hancurnya semua kotoran batin yang bisa dicapai di sini dan saat ini juga, pencapaian Nibbāna berarti pembebasan tertinggi dari saṁsāra (kelahiran berulang). Pencapaian ini terjadi disebabkan lenyapnya nafsu keinginan dan kegelapan batin melalui praktik Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jalan Mulia Berunsur Delapan ini terbuka setara bagi bhikkhu dan bagi umat awam. Dengan demikian pentahbisan seseorang menjadi bhikkhu tidak memberikan akses istimewa dalam praktik Jalan Mulia Berunsur Delapan. Tidak ada penguatan yang membuat seorang bhikkhu pasti maju lebih cepat ketimbang pengikut awam.

Walaupun demikian, fakta kehidupan Vihāra dirancang dengan jelas untuk memfasilitasi kehidupan penuh bhakti untuk melakukan secara penuh praktik pada sang Jalan yang sering disebut moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Dengan demikian, dalam ajaran Buddha tersedia sebuah kondisi optimal untuk kemajuan spiritual.

Hidup sebagai seorang bhikkhu berakar pada meninggalkan keduniawian (Subbupadhi patinissagga). Dengan meninggalkan keluarga, harta benda, dan posisi duniawi. Bhikkhu tersebut telah menyerahkan setidaknya prinsip klaim apa pun terhadap suatu identitas sebagai miliknya. Penampilan seorang bhikkhu juga tidak berbeda dengan bhikkhu yang lain. Kehidupan seorang bhikkhu melibatkan kesederhanaan, berpuas hati dengan kebutuhan hidup yang paling mendasar, serta kemampuan untuk bersabar dalam kesulitan. Seorang bhikkhu bergantung pada kemurahan dan kebaikan hati orang lain, dan memberlakukan pada dirinya serangkaian aturan disiplin yang dirancang untuk menumbuhkan keluhuran dari meninggalkan keduniawian yaitu kesederhanaan, pengendalian diri, kemurnian, tanpa rasa bersalah, dan tanpa kekerasan. Berbagai macam keluhuran ini merupakan landasan yang tepat untuk melatih pemurnian pikiran dan pendalaman pandangan terang.

Seperti yang disampaikan di atas bahwa mencapai Nibbāna merupakan tujuan tertinggi dalam ajaran Buddha, tetapi pada praktiknya, hanya sedikit umat Buddha maupun bhikkhu yang melihat Nibbāna sebagai prospek realistis langsung. Sebagian besar umat awam maupun bhikkhu menganggap jalan tersebut sebagai praktik bertahap, dan pencapaian bertahap yang berpusat pada melakukan perbuatan berjasa dan memurnikan pikiran dengan tujuan pengumpulan jasa kebaikan yang menuju pada kelahiran kembali yang bahagia untuk mendapatkan kondisi terbaik menuju Nibbāna.

Oleh karena itu, kehidupan monastik seorang bhikkhu tidak perlu dilihat sebagai kehidupan yang eksklusif. Seorang umat Buddha yang bersungguh-sungguh bisa melakukan rutinitas normal dan menyisihkan waktu untuk mengurangi kesibukan sosial, mengabdikan waktu untuk studi mendalam dan meditasi, serta bisa mengambil waktu untuk mengikuti retret-retret panjang meditasi. Memang cara hidup monastik lebih kondusif untuk mencapai pencerahan dibandingkan kehidupan duniawi yang sibuk. Tetapi bila sampai pada tiap individu, semua kegalauan tersebut akan runtuh. Beberapa umat awam yang memiliki keluarga dan berkontribusi di sosial mampu maju dengan cepat sehingga mereka bisa memberikan bimbingan meditasi kepada sesama umat awam. Dan tidak jarang didapati bahwa bhikkhu pun bisa maju dengan perlahan dan mengalami banyak kesulitan. Kecepatan kemajuan spiritual bergantung pada usaha pribadi dan kebajikan yang dilakukannya.

Pada intinya, tidak peduli apakah dia bhikkhu atau umat awam. Jalan ke Nibbāna adalah sama yaitu praktik Jalan Mulia Berunsur Delapan. Tidak peduli bagaimana keadaan pribadi seseorang, jika dia benar-benar serius untuk merealisasikan tujuan akhir Dhamma, dia akan mengerahkan segala usaha untuk melangkah di jalan ini dengan cara yang paling cocok dengan keadaan hidupnya. Sang Buddha memuji orang yang melakukan praktik yang benar, bukan praktik yang salah, baik itu perumah tangga atau orang yang meninggalkan keduniawian (Dutiyapatipada Sutta, SN 45.24).

Dibaca : 718 kali