x

Kehidupan Dan Kematian

Ajjeva kiccamātappaṁ, Ko jaññā maraṇaṁ suve Na hi no saṅgarantena, Mahāsenena maccunā’ti. Berusahalah hari ini juga! Siapa tahu kematian ada di esok hari. Karena, tawar-menawar dengan Sang Raja Kematian bersama pasukan besarnya tiada bagi kita. (Bhaddekaratta Sutta, Majjhima Nikāya)

    DOWNLOAD AUDIO

Dhamma, ajaran Buddha menjelaskan bahwa kematian yang merupakan bagian dari sifat alamiah kehidupan bukanlah akhir dari segalanya. Kematian begitu dekat dengan kita, seperti bayang-bayang yang selalu mengikuti ke mana benda itu bergerak. Bahkan bila diperiksa dari seluruh penjuru dunia, besar kemungkinan setiap detik ada saja manusia yang meninggal, apalagi makhluk hidup lainnya selain makhluk manusia.

Kehidupan yang sekarang kita jalani ini juga dimulai dari kematian, dan kematian akan menjadi kondisi yang baru untuk kelahiran dan kehidupan selanjutnya. Terus demikian, sampai dapat memadamkan kotoran-kotoran batin yang menjadi ’bahan bakar’ dalam daur saṁsāra. Saṁsāra dapat diartikan ’pengembaraan’, rentetan kelangsungan gugus yang tiada jedanya. Untaian kelahiran ulang tanpa awal yang diketahui, yang terus berlangsung karena kekelirutahuan dan nafsu keinginan. Dalam banyak cara dan perumpamaan, Buddha menjelaskan tentang bahayanya saṁsāra. Beliau pun selalu mendorong siswa-siswinya untuk bebas dari saṁsāra yang amat membelenggu, seperti beberapa perumpamaan ini:
Air mata. ”Para bhikkhu, saṁsāra ini tiada awal yang bisa ditemukan. Tidak tampak jelas saat pertama kali makhluk hidup mengembara dan berkelana dengan terhalangi oleh kegelapan batin dan terbelenggu oleh nafsu keinginan. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu, manakah yang lebih banyak? Cucuran air mata yang telah kalian teteskan selagi kalian mengembara dan berkelana melalui jalan yang panjang ini, seraya mencucurkan air mata dan meratap karena bertemu dengan yang tidak menyenangkan serta terpisah dari yang menyenangkan—ini ataukah air di keempat samudra luas?”

”Karena kami memahami Dhamma yang diajarkan Bhagavā. Bhante, cucuran air mata yang kami teteskan selagi kami mengembara dan berkelana melalui jalan yang panjang ini, seraya mencucurkan air mata dan meratap karena bertemu dengan yang tidak menyenangkan serta terpisah dari yang menyenangkan—ini sendiri lebih banyak daripada air di keempat samudra luas.”

”Bagus, bagus, para bhikkhu! Baguslah jika kalian memahami Dhamma yang Tathāgata ajarkan seperti itu. Cucuran air mata yang telah kalian teteskan selagi kalian mengembara dan berkelana melalui jalan yang panjang ini, seraya mencucurkan air mata dan meratap karena bertemu dengan yang tidak menyenangkan serta terpisah dari yang menyenangkan—ini sendiri lebih banyak daripada air di keempat samudra luas. Sudah lama, para bhikkhu, kalian mengalami kematian dari seorang ibu, ayah, saudara, saudari, putra, putri, hilangnya sanak saudara, hilangnya kekayaan, kehilangan karena penyakit; selagi kalian mengalaminya, seraya mencucurkan air mata dan meratap karena bertemu dengan yang tidak menyenangkan dan terpisah dari yang menyenangkan, cucuran air mata yang kalian teteskan lebih banyak daripada air di keempat samudra luas. Apa alasannya? Karena, para bhikkhu, saṁsāra ini tiada awal yang bisa ditemukan. Tidak tampak jelas saat pertama kali makhluk hidup mengembara dan berkelana dengan terhalangi oleh kegelapan batin dan terbelenggu oleh nafsu keinginan. Semuanya ini sudah cukup untuk menimbulkan rasa jijik terhadap semua bentukan, cukup untuk kehilangan nafsu keinginan terhadapnya, cukup untuk terbebas darinya.” (Saṁyutta Nikāya II, 15:3)

Bumi. ”Para bhikkhu, saṁsāra ini tanpa awal yang diketahui. Tidak terlihat awal dari makhluk yang terus-menerus berkelana dan mengembara karena terhalang oleh kegelapan batin serta terbelenggu oleh nafsu keinginan. Para bhikkhu, seandainya saja seseorang membelah bumi yang besar ini menjadi gumpalan-gumpalan tanah liat seukuran biji kurma, lalu meletakkannya (satu per satu) seraya berkata: ’Ini ayahku, ini ayah dari ayahku, dan seterusnya.’ Urutan para ayah serta para kakek dari orang tersebut belum berakhir, namun bumi yang besar ini akan terpakai semuanya dan habis. Mengapa demikian? Karena, para bhikkhu, saṁsāra ini tanpa awal yang diketahui. Tidak terlihat awal dari makhluk hidup yang terus-menerus berkelana dan mengembara karena terhalang oleh kegelapan batin serta terbelenggu oleh nafsu keinginan. Sedemikianlah lamanya, para bhikkhu, kalian mengalami penderitaan, kesedihan, dan bencana, serta memenuhi pekuburan. Cukuplah sudah agar kalian tidak lagi tertarik dengan segala bentukan, cukup sudah agar kalian tidak lagi terpikat terhadapnya, cukuplah sudah untuk terbebas darinya.” (Saṁyutta Nikāya II, 15:2)

Penjelasan tersebut telah membuktikan bahwa kelahiran dan kematian dari makhluk-makhluk amat banyak, tidak terhitung. Juga menjelaskan bahwa kematian sebagai konsekuensi kehidupan, sehingga sangat keliru bila seseorang bunuh diri. Sesulit apapun masalah yang dihadapi, janganlah melakukan bunuh diri. Mengapa? Alasan yang sederhana adalah bahwa kematian pasti akan datang, tidak perlu dicari. Kematian menjadi bagian dari kehidupan, biarkan kematian datang secara alamiah. Sebagai contoh inspiratif di dalam Dhammapada Aṭṭhakathā, tanya jawab antara Buddha dengan gadis penenun di kota Alavi. Buddha mengetahui bahwa gadis pe-nenun memiliki potensi besar untuk memahami Dhamma. Kemudian Buddha bertanya dengan singkat yang juga dijawab dengan singkat:
Pertanyaan 1    : Dari mana engkau?
Jawaban 1    : Saya tidak tahu, Bhante.
Pertanyaan 2    : Ke mana engkau akan pergi?
Jawaban 2    : Saya tidak tahu, Bhante.
Pertanyaan 3    : Tidakkah kau tahu?
Jawaban 3    : Ya, saya tahu, Bhante.
Pertanyaan 4    : Tahukah engkau?
Jawaban 4    : Saya tidak tahu, Bhante.
Mendengar jawaban itu, orang-orang berpikir bahwa gadis penenun itu sangat tidak hormat. Kemudian, Buddha meminta gadis penenun untuk menjelaskan apa maksud jawabannya, dan dia pun menjelaskan. ”Bhante! Bhante tahu saya datang dari rumah, ini bukan pertanyaan yang biasa, saya mengartikan pertanyaan Bhante, dari kehidupan yang lampau manakah saya datang. Karena itu jawaban saya, ’Saya tidak tahu’. Maksud pertanyaan kedua, pada kehidupan yang akan datang kemanakah akan saya tempuh setelah ini. Oleh karena itu jawaban saya, ’Saya tidak tahu.’ Maksud pertanyaan ketiga, apakah saya tidak tahu bahwa suatu hari saya akan me-ninggal dunia. Oleh karena itu jawaban saya, ’Ya, saya tahu.’ Maksud pertanyaan keempat, apakah saya tahu kapan akan meninggal dunia. Oleh karena itu jawaban saya, ’Saya tidak tahu’”.

Buddha sangat puas dengan penjelasannya dan berkata kepada orang-orang yang hadir, ”Banyak dari kalian yang mungkin tidak mengerti dengan maksud dari jawaban yang diberikan oleh gadis penenun. Mereka yang bodoh berada dalam kegelapan, seperti orang buta”.

Demikianlah realita kehidupan yang dibabarkan dan dijelaskan oleh Buddha, bahwa hidup tidaklah pasti, namun kematian adalah hal yang pasti!!!

Selamat memperingati Hari Raya Māgha, tahun Buddhis 2555. 
Semoga Tiratana memberkahi kita.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Sumber: 
Saṁyutta Nikāya, Nidānavagga, Anamataggasaṁyutta dan Dhammapada Aṭṭhakathā.

Dibaca : 2126 kali