x

Fakta Hidup Tidak Perlu Dibuat Ribut

Yaṁ kammaṁ karissāmi, kalyāṇaṁ vā pāpakaṁ vā,
tassa dāyādo bhavissāmi, ti.
“Perbuatan apa pun yang akan kulakukan, baik ataupun buruk;
perbuatan itulah yang akan kuwarisi.” (Abhiṇhapaccavekkhaṇa Pāṭha)

    DOWNLOAD AUDIO

Hidup sebagai manusia tentunya tidak terlepas dari dalam kondisi duniawi yang menyelimuti. Terkadang merasa bahagia juga menderita, terkadang mendapat pujian juga celaan, terkadang mendapatkan nama baik maupun hinaan, terkadang untung berganti menjadi rugi. Ketika orang-orang mengalami kondisi-kondisi seperti bahagia, mendapat pujian, memperoleh nama baik dan keuntungan tentunya mereka menikmati dan tidak mempermasalahkannya. Sebaliknya, pada saat mengalami kondisi-kondisi yang tidak baik seperti derita, mendapat hinaan, celaan maupun kerugian, orang-orang menjadi gelisah bahkan membuat keributan.

Keributan yang dimaksud adalah keributan di dalam dirinya sendiri karena tidak mau menerima kondisi buruk yang dialami. Mereka menolak fenomena yang seharusnya terjadi dengan tinggi hati, bahkan mencurigai serta menuduh orang lain di sekitarnya sebagai dalang dari kejadian-kejadian buruk yang dialaminya. Sikap mental yang demikian adalah pertanda batin yang belum terbiasa dengan fenomena yang seharusnya terjadi.

Apabila kondisi itu terus berlangsung di dalam hidupnya setiap hari, maka akan memunculkan penderitaan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang matang berkenaan dengan fenomena-fenomena yang terjadi. Untuk menumbuhkan pemahaman yang matang dan jernih perlu ditinjau berdasarkan Dhamma atau ajaran Sang Buddha dengan melakukan perenungan-perenungan.

Perenungan-perenungan tersebut tentu tidaklah sedikit tetapi pada kesempatan ini, penyaji akan memberikan dua hal perenungan. Perenungan pertama adalah perenungan terhadap hukum kamma atau perbuatan dan kedua adalah perenungan terhadap tilakkhaṇā. Dengan sering merenungkan tentang hukum kamma dan tilakkhaṇā, maka orang-orang yang mengalami kondisi-kondisi duniawi tidak akan menjadi terlena maupun gelisah olehnya.

Perenungan terhadap kamma dalam hal ini adalah dengan merenungkan bahwa segala perbuatan yang dilakukan melalui jasmani, ucapan, maupun pikiran ada akibat yang ditimbulkan. Sang Buddha dalam Aṅguttara Nikāya (4.232) menjelaskan tentang empat jenis kamma yakni, kamma gelap dengan hasil gelap (kisah Ciñcamāṇavikā), kamma terang dengan hasil terang (musim hujan di Pāriyellakka), kamma gelap dan terang dengan hasil gelap dan terang, dan kamma bukan gelap maupun bukan terang dengan hasil bukan gelap maupun bukan terang sebagai penghancurnya kamma.

Melalui penjelasan kamma dalam khotbah ini, memberikan kita informasi bahwa setiap tindakan yang dilakukan pastinya ada akibat yang dihasilkan. Akibat yang dihasilkan bergantung dari sebab-sebab yang telah dimunculkan. Perbuatan buruk yang dilakukan tentunya akan berakibat buruk, perbuatan baik yang dilaksanakan akan menghasilkan kebaikan, perbuatan baik dan buruk dilakukan secara bersamaan maka hasilnya juga baik dan buruk, perbuatan yang bukan buruk maupun bukan baik hasilnya bukan buruk dan bukan baik yang berfungsi untuk memotong kekuatan kamma yang berpotensi untuk berbuah.

Setelah mengerti dan memahami tentang kamma itu dengan benar, maka hendaknya diri ini menjadi hati-hati dalam menjalankan kehidupan ini. Berhati-hati dalam bertindak, berucap, dan berpikir. Sebab jika tidak ada kehati-hatian dalam ketiga sumber perbuatan ini, tentunya akan memunculkan banyak masalah bagi diri sendiri maupun orang lain. Dengan perenungan terhadap kamma yang dibabarkan oleh Sang Buddha dalam khotbah ini dan kutipan di awal, maka kita akan dapat pengetahuan baru atau pemahaman baru. Pemahaman yang didapatkan dapat membantu penyelesaian konflik batin berkenaan dengan kejadian-kejadian yang dialami. Hasilnya adalah tidak akan mengeluh, mencurigai apalagi menyalahkan pihak lain berkenaan dengan ketidakberuntungan maupun ketidakbahagiaan yang dialami.

Kemudian, perenungan terhadap tilakkhaṇā atau tiga corak universal yaitu anicca (tidak kekal), dukkha (penderitaan), dan anattā (tanpa inti). Perenungaan terhadap anicca artinya merenungkan bahwa segala sesuatu yang berkondisi atau yang muncul di dunia ini pastinya akan berubah. Tidak dapat berdiri tegak dengan utuh selamanya, terus berproses walaupun tidak ada yang memproses, dan tidak tetap. Sebagai contohnya diri kita sendiri, mulai sejak lahir hingga saat ini terus berproses dan pada akhirnya nanti akan meninggalkan kehidupan sebagai manusia ini. Di sinilah hukum perubahan akan bekerja dengan sendirinya tanpa ada sesosok makhluk yang memerintahkan atau mengendalikannya.

Selanjutnya, perenungan terhadap dukkha artinya kita merenungkan bahwa hidup di dunia ini adalah tidak memuaskan. Hidup yang dijalani oleh manusia selalu ditekan oleh perubahan yang selalu berproses sehingga tidak ada satu pun yang layak dijadikan sebagai tempat pernaungan. Contohnya, diri sendiri ini yang terdiri dari berbagai rangkaian materi ini juga tidak memuaskan, tubuh ini dalam dvatiṁsakāra menjelaskan terdiri dari 32 bagian, yakni rambut, bulu, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum tulang, ginjal, jantung, hati, membram, limpa, paru-paru, usus, selaput di antara usus makanan baru, tinja, empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak, ludah, ingus, pelumas, air seni, dan otak dalam kepala. Mengetahui 32 bagian dari tubuh ini, maka tidak ada satu pun yang dapat dijadikan sebagai tempat bernaung, dengan demikian jelaslah bahwa hidup ini adalah tidak memuaskan.

Terakhir adalah perenungan terhadap anattā atau tanpa inti, perenungan terhadap anattā artinya kita merenungkan bahwa apa yang ada di dalam diri sendiri selalu berubah dan tidak memuaskan, maka tidak ada yang dapat bertahan selamanya. Kita tidak dapat memerintahkan bagian-bagian dari tubuh ini untuk dapat bertahan sesuai dengan keinginan. Oleh karena itu, setelah merenungkan tentang tilakkhaṇā atau tiga corak universal dengan penuh perhatian dan pemahaman, hendaknya mengerti bahwa apa yang dimiliki maupun dialami akan selalu mengalami perubahan, tidak memuaskan, dan tanpa inti yang dijadikan pernaungan. Berusaha menerima kejadian-kejadian yang semestinya terjadi tanpa membuat keributan, tanpa mengeluh, mencurigai orang lain, bahkan menyalahkan orang lain berkenaan dengan fenomena-fenomena yang dialami.

Sebagai konklusi dari penulisan artikel ini, penyaji ingin menyampaikan bahwa selama kita masih terkurung oleh kondisi-kondisi duniawi, maka hidup ini tidak akan selamanya baik maupun buruk. Ketika Anda mengalami kondisi-kondisi baik maupun kondisi buruk sekalipun, hendaknya selalu merenungkan bahwa kondisi tersebut diperoleh berkat perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan. Merenungkan pula bahwa apa yang dialami (kondisi baik dan buruk) akan mengalami perubahan, tidak memuaskan dan tidak akan dapat bertahan selamanya. Dengan merenungkan demikian, maka di kala kondisi baik tentunya akan bersyukur namun tidak terlena apalagi bersikap sombong. Di kala kondisi buruk tentunya tidak akan meratapi keadaan tersebut tetapi menerima dengan pengertian benar serta bersemangat untuk melewati kondisi tersebut.

Referensi
-Bodhi (penghimpun) dan Hendra. W (penerjemah). 2013. Tipitaka Tematik. Tanpa kota. Ehipassiko Foundation.
-Dhammadhīro. 2019. Paritta Suci. Tangerang Selatan: Saṅgha Theravāda Indonesia.
-Kusaladhamma. 2015. Kronologi hidup Buddha. Jakarta: Yayasan Satipaṭṭhāna Indonesia.



Dibaca : 2657 kali