x

Menjadi Anak Yang Baik


Mātāpitu upaṭṭhānaṁ, Etammaṅgalamuttamaṁ’ti
“Membantu ayah dan Ibu adalah berkah utama.”
(Maṅgala Sutta, syair 8)


    DOWNLOAD AUDIO

Sebagai manusia tentunya memiliki orangtua karena manusia tidak dilahirkan melalui telur, kelembaban ataupun secara spontan, tetapi melalui kandungan. Orangtua berusaha merawat anak-anaknya dengan berbagai macam rintangan dilalui tanpa memedulikan kesehatan mereka, asalkan anak-anaknya terpenuhi kebutuhannya dan sejahtera hidupnya. Demikianlah pengorbanan orangtua yang sangat besar sehingga layak mereka dikatakan sebagai pahlawan dalam kehidupan kita sebagai anak.

Sebagai anak milenial walaupun kemajuan teknologi berkembang dengan semaraknya, tetaplah menjadi anak yang baik dan patuh terhadap orangtua. Ingatlah kepada mereka, kenanglah masa-masa di mana mereka menghabiskan waktunya bersama kita. Tidak membuat perilaku yang tidak patuh terhadap orangtua, apalagi asyik dengan dunia sendiri tanpa mau diganggu oleh orang lain termasuk orangtua. Perilaku yang tidak patuh hanya akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari, lebih-lebih kepada ayah dan ibu. Mengingat begitu besar jasa orangtua kepada kita sebagai anak-anaknya, maka perilaku seorang anak harus mencerminkan rasa bakti dan terima kasih dengan berperilaku yang baik.

Sebagai rujukan sikap hormat dan bakti kepada orangtua, dapat ditemukan di beberapa petikan khotbah Sang Buddha, yakni Sabrahma Sutta (Aṅguttara Nikāya, 4. 63), menjelaskan bahwa para keluarga yang ada di rumahnya, orangtua dihormati oleh anak-anaknya. Mereka berdiam dalam brahma, berdiam dengan para guru kuno, berdiam dengan para dewata kuno, berdiam bersama para suciwan. Istilah brahma, para guru kuno, para dewata kuno, dan para suciwan adalah sebutan seorang ayah dan ibu. Berdasarkan petikan khotbah Sang Buddha ini, maka sebagai anak sepatutnya untuk menghormati orangtua seperti perumpamaan digunakan oleh Sang Buddha dalam khotbah ini.

Korelasi khotbah Sang Buddha yang menerangkan tentang sikap hormat dan bakti kepada orangtua dapat pula ditemukan dalam Itivuttaka 4.7. Khotbah tersebut menjelaskan tentang seorang ayah dan ibu yang penuh welas asih terhadap keluarga mereka juga disebut brahma dan sebagai guru pertama. Melalui kutipan ini mengindikasikan bahwa orangtua layak mendapatkan dukungan atau pemberian dan penghormatan dari anak-anaknya.

Selain memberikan dukungan atau pemberian berupa kebutuhan kepada orangtua, anak-anak seharusnya melakukan tindakan-tindakan terpuji lainnya seperti mencuci kaki orangtua dan merawat orangtua di kala sedang sakit. Siapa pun anak yang melakukan perbuatan-perbuatan ini kepada orangtuanya, maka ia akan dipuji oleh para bijaksana. Anak yang memiliki kebiasaan baik kepada orangtua semasa hidupnya, setelah meninggal akan menemukan dirinya di alam bahagia.

Apabila orangtua sedang membutuhkan bantuan dan sebagai anak-anaknya tidak menjalankan tanggung jawabnya, maka sikap yang demikian adalah salah satu sebab kemerosotan, kemerosotan dalam hal tindakan atau perilaku-perilaku terpuji maupun hal-hal yang berhubungan dengan materi. Penjelasan ini disampaikan oleh Sang Buddha dalam parabhāva sutta bahwa apabila anak-anak tidak menjalankan kewajibannya merawat orangtua, hal tersebut adalah sebab kemerosotan.

Sehubungan dengan anak-anak yang tidak memedulikan kewajiban terhadap orangtua. Vasala Sutta menjelaskan bahwa manusia yang seperti itu adalah hina atau berbudi rendah. Supaya kita tidak dikatakan sebagai orang hina, anak yang berbudi rendah atau manusia rendah dalam hal perilaku dan tidak menjadi merosot kehidupannya, jalankanlah kewajiban dan tanggung jawab Anda sebagai anak terhadap orangtua dengan ketulusan.

Selain penjelasan di atas, ada beberapa cara anak-anak mempraktikkan kewajiban terhadap orangtua yang dijelaskan di dalam Sigālaka Sutta. Melalui penjelasan dalam sutta ini memaparkan ada lima cara seorang anak menjalankan kewajibannya terhadap orangtua.
1.Merawat orangtua ketika sedang sakit
Ketika orangtua terbaring sakit di usia yang sudah tidak muda lagi, tentunya peran anak-anaknya sangat diperlukan. Anak-anak sepatutnya menyokong kebutuhan mereka, baik berupa kebutuhan pokok maupun kebutuhan pendukungnya. Hal itu supaya orangtua yang sakit maupun yang sudah usia tua dapat menjadi sehat sehingga dapat beraktivitas dengan orang normal. 
2.Membantu mereka ketika mengalami kesulitan
Menjalani kehidupan sebagai manusia tidaklah mudah, tentu banyak tantangan yang akan dihadapi. Demikian juga dengan orangtua kita, dalam menjalankan kehidupannya tentu banyak tantangan atau masalah yang mereka alami. Di situlah kehadiran sebagai anak-anaknya diperlukan untuk memberikan dukungan supaya permasalahannya dapat teratasi. Apabila permasalahan yang dialami oleh orangtua dapat diselesaikan dengan baik, tentunya mereka akan dapat merasakan kehadiran kita sebagai anaknya yang baik.
3.Menjaga kehormatan orangtua
Semasa tinggal bersama orangtua, mereka selalu mengajarkan kepada anak-anaknya berkenaan dengan perilaku-perilaku yang terpuji. Orangtua tahu bahwa dengan berperilaku yang terpuji akan memberikan rasa aman kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, ketika berinteraksi di lingkungan keluarga maupun masyarakat, hendaknya berperilaku yang baik sebagai upaya menjaga kehormatan dari orangtua.
4.Menjaga warisan dari orangtua
Sebagai anak hendaknya mengondisikan dirinya agar layak untuk mendapatkan warisan dari orangtua, yakni dengan memiliki rasa hormat terhadap orangtua, bersikap lemah lembut dan memberikan kenyamanan dalam segala hal yang diperlukan. Ketika orangtua telah mewariskan harta kepada anak-anaknya, sebagai anak seharusnya menjaga warisan tersebut dengan baik, menggunakan harta tersebut sesuai kebutuhan, bukan menggunakan harta tersebut sesuai keinginan. Selain itu, dapat juga dipergunakan untuk melakukan kebajikan dengan berderma kepada orang-orang yang membutuhkan.
5.Setelah orangtua meninggal, anak melakukan pattidāna kepada mereka
Kehidupan di dunia ini tidaklah pasti adanya, namun kematian itu pasti dialami. Demikian halnya dengan orangtua, cepat atau lambat pasti akan mengalami kematian. Ketika orang-orang yang dicintai seperti ayah dan ibu telah meninggal, maka seorang anak selayaknya untuk melakukan pelimpahan jasa atau pattidāna. Berbuat kebaikan kepada siapa pun yang membutuhkan, setelah berbuat baik, jasa tersebut kemudian dilimpahkan kepada orangtua yang telah meninggal. Inilah cara yang dapat dilakukan untuk orangtua yang telah meninggal supaya dapat terbantu lahir di alam bahagia.

Demikianlah lima cara yang seharusnya dilakukan oleh seorang anak terhadap orangtua sebagai bentuk rasa bakti dan terima kasih kepadanya. Anak yang memiliki budi pekerti luhur tentunya akan selalu menjaga dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Menjalankan tugas dengan memberikan dukungan atau melayani orangtua adalah amat terpuji, hal ini selaras dalam Maṅgala Sutta yang menerangkan apabila seorang anak membantu ayah dan ibu, maka akan memperoleh berkah utama.

Mengetahui begitu besarnya jasa atau kebajikan yang telah diberikan oleh orangtua kepada anak-anaknya, sebagai anak selayaknya melakukan tugas-tugas atau kewajiban terhadap orangtua supaya menjadi anak yang berbudi pekerti luhur. Menjalankan kewajiban sebagai anak terhadap orangtua hendaknya sesuai dengan ajaran Sang Buddha, yakni dengan merawat orangtua ketika sakit ataupun di hari tua mereka, membantu kesulitan-kesulitan yang dialami oleh orangtua, menjaga kehormatan orangtua, menjaga warisan dari orangtua, dan melakukan pattidāna atau pelimpahan jasa setelah orangtua meninggal dunia. Siapa pun anak yang telah menjalankan kewajiban dengan baik terhadap orangtua, maka anak tersebut memperoleh berkah utama seperti yang tertuang dalam Maṅgala Sutta: mātāpitu upaṭṭhānaṁ etammaṅgalamuttamaṁ. Oleh karena itu, mari kita menyayangi orangtua tercinta dan tersayang dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai anak supaya tidak timbul penyesalan di kemudian hari.

Referensi:
-Dhammadhīro. 2019. Paritta Suci. Tangerang Selatan: Sāṅgha Theravāda Indonesia.
-Vijjānanda, Handaka. 2017. Bakti Kepada Orangtua. Tanpa kota: Ehipassiko Foundation.

Dibaca : 2222 kali