x

Siapakah Saya?

Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya, maka ia dapat dikatakan bijaksana. 
Tetapi orang bodoh yang menganggap dirinya bijaksana, sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh. 
(Dhammapada syair 63)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam pergaulan sehari-hari kita sering kali mendengar kata-kata bodoh dan bijaksana. Siapakah sesungguhnya orang bodoh dan siapakah orang bijaksana itu? Dan kita ini termasuk dalam kelompok orang-orang bodoh ataukah kelompok orang-orang bijaksana? Mari kita simak uraian di bawah ini. Dalam Bālapaṇḍita Sutta, Majjhima Nikāya, dijelaskan tentang hal ini. 

Orang Bodoh/Bāla 
Ada tiga karakteristik dari orang bodoh, tanda-tanda orang bodoh, sifat-sifat orang bodoh, yaitu orang yang memikirkan pikiran-pikiran buruk, mengucapkan kata-kata buruk, dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Jika orang bodoh tidak demikian, bagaimana mungkin para bijaksana dapat mengenalinya sebagai berikut: ‘Orang ini adalah seorang bodoh, seorang bukan manusia sejati’? Tetapi karena orang bodoh adalah orang yang memikirkan pikiran-pikiran buruk, mengucapkan kata-kata buruk, dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk, maka para bijaksana mengenalinya sebagai berikut: ‘Orang ini adalah seorang bodoh, seorang bukan manusia sejati.’
Orang bodoh merasakan kesakitan dan kesedihan di sini dan saat ini dalam tiga cara:
1.    Jika orang bodoh duduk dalam suatu pertemuan, di sana sedang mendiskusikan persoalan-persoalan yang berhubungan dan berkaitan dengan perilaku buruk, maka, jika si bodoh itu adalah seorang yang selalu melanggar kemoralan, ia berpikir: 'Orang-orang ini sedang mendiskusikan persoalan-persoalan yang berhubungan dan berkaitan dengan perilaku buruk; hal-hal ini terdapat dalam diriku, dan aku terlihat sedang melakukan hal-hal tersebut.' Ini adalah jenis pertama kesakitan dan kesedihan yang dirasakan oleh orang bodoh di sini dan saat ini.
2.    Ketika orang bodoh menyaksikan seorang yang melakukan kejahatan tertangkap, dan dijatuhkan berbagai jenis hukuman, kemudian si bodoh berpikir:  ‘Karena melakukan kejahatan, ia dijatuhkan berbagai jenis hukuman, hal-hal ini juga terdapat dalam diriku, dan aku terlihat sedang melakukan hal-hal tersebut.’  Ia menjadi cemas dan takut, ini adalah jenis ke-dua kesakitan dan kesedihan yang dirasakan oleh orang bodoh di sini dan saat ini.
3.    Ketika orang bodoh sedang beristirahat, kemudian perbuatan-perbuatan jahat yang ia lakukan di masa lalu, perilaku salah secara jasmani, ucapan dan pikiran meliputinya, menyelimutinya, dan membungkusnya. Kemudian si bodoh berpikir: ‘Aku tidak pernah melakukan apa yang baik, aku tidak pernah melakukan apa yang bermanfaat, aku tidak pernah menjadikan diriku sebagai perlindungan dari penderitaan. Aku telah melakukan apa yang buruk, aku telah melakukan apa yang kejam, aku telah melakukan apa yang jahat.’ Ia berdukacita, sedih, dan meratap, ia menangis dengan memukul dadanya dan menjadi putus asa. Ini adalah jenis ke-tiga kesakitan dan kesedihan yang dirasakan oleh orang bodoh di sini dan saat ini.
Ia yang berperilaku salah dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, dan setelah melakukan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Jika pada suatu saat, di akhir suatu masa yang lama. Si bodoh itu terlahir kembali menjadi manusia, adalah di dalam keluarga rendah, ia terlahir kembali dalam keluarga yang miskin dan kekurangan makanan dan minuman, yang bertahan hidup dengan kesulitan, di mana ia sulit memperoleh makanan dan pakaian; dan ia buruk rupa, tidak indah dilihat, dan cacat, berpenyakit, buta, dengan tangan dan kaki yang timpang, atau lumpuh.

Orang Bijaksana/Paṇḍita
Ada tiga karakteristik dari orang bijaksana ini, tanda-tanda orang bijaksana, sifat-sifat orang bijaksana, yaitu orang yang memikirkan pikiran-pikiran baik, mengucapkan kata-kata baik, dan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Jika orang bijaksana tidak demikian, bagaimana mungkin para bijaksana dapat mengenalinya sebagai berikut: ‘Orang ini adalah seorang bijaksana, seorang manusia sejati’? Tetapi karena orang bijaksana adalah orang yang memikirkan pikiran-pikiran baik, mengucapkan kata-kata baik, dan melakukan perbuatan-perbuatan  baik, maka para bijaksana mengenalinya sebagai berikut: ‘Orang ini adalah seorang bijaksana, seorang manusia sejati.’
Orang bijaksana merasakan kenikmatan dan kegembiraan di sini dan saat ini dalam tiga cara.
1.    Jika orang bijaksana duduk dalam suatu pertemuan, di sana sedang mendiskusikan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan perilaku buruk/kejahatan, tetapi si bijaksana itu adalah seorang yang selalu menjaga kemoralan, ia berpikir: 'Orang-orang ini sedang mendiskusikan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan perilaku buruk/kejahatan, hal-hal ini tidak terdapat dalam diriku, dan aku tidak terlihat sedang melakukan hal-hal tersebut.’  Ini adalah jenis pertama kenikmatan dan kegembiraan yang dirasakan oleh orang bijaksana di sini dan saat ini.
2.    Ketika orang bijaksana menyaksikan seorang yang melakukan kejahatan tertangkap, dan dijatuhkan berbagai jenis hukuman, kemudian si bijaksana berpikir:  ‘Karena melakukan kejahatan dan tertangkap, ia dijatuhkan berbagai jenis hukuman, hal-hal ini tidak terdapat dalam diriku, dan aku tidak terlihat sedang melakukan hal-hal tersebut.’ Ini adalah jenis ke-dua kenikmatan dan kegembiraan yang dirasakan oleh orang bijaksana di sini dan saat ini.
3.    Ketika orang bijaksana sedang beristirahat, kemudian perbuatan-perbuatan baik yang ia lakukan di masa lalu, perilaku baik secara jasmani, ucapan dan pikiran meliputinya, menyelimutinya, dan membungkusnya. Kemudian si bijaksana berpikir: ‘Aku tidak pernah melakukan apa yang buruk, aku tidak pernah melakukan apa yang kejam, aku tidak pernah melakukan apa yang jahat. Aku telah melakukan apa yang baik, aku telah melakukan apa yang bermanfaat, aku telah menjadikan diriku sebagai perlindungan dari penderitaan. Ketika aku meninggal dunia, Aku akan pergi menuju alam-alam bahagia. Ini adalah jenis ke-tiga kenikmatan dan kegembiraan yang dirasakan oleh orang bijaksana di sini dan saat ini.
Orang bijaksana yang telah menyerahkan diri kepada perilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali di alam tujuan kelahiran yang bahagia, bahkan di alam surga. Jika pada suatu saat, di akhir suatu masa yang lama, si bijaksana itu terlahir kembali menjadi manusia, adalah di dalam keluarga makmur, ia terlahir kembali dalam keluarga mulia yang kaya, atau keluarga brahmana yang kaya, atau keluarga perumah tangga yang kaya, memiliki banyak harta kekayaan, memiliki banyak kepemilikan, dengan emas dan perak berlimpah, dan aset dan harta berlimpah, dan dengan uang dan hasil panen berlimpah. Ia tampan, menarik, dan anggun, memiliki kulit yang sangat indah.
Setelah menyimak uraian ini, cobalah kita merenung, kita ini ada dalam kelompok orang bodoh atau orang bijaksana. Kalau selama ini yang kita lakukan adalah termasuk dalam kelompok orang bodoh yaitu orang yang memikirkan pikiran-pikiran buruk, mengucapkan kata-kata buruk, dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk, marilah kita tinggalkan itu, janganlah kita mengulang kembali, seperti dalam Dhammapada syair 63 di atas, ’bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya, maka ia dapat dikatakan bijaksana’. Tetapi jika kita sombong dan bangga dengan hal-hal buruk yang kita lakukan, dan terus mengulang keburukan-keburukan, sesungguhnya kita ini adalah yang disebut orang bodoh.

Dibaca : 4960 kali