x

Realita Merupakan Pencerahan

Sabbe saṅkhara anicca, dukkha, anattā 
Segala yang ada karena perpaduan mengalami perubahan, tak tertahankan, tanpa inti.

    DOWNLOAD AUDIO

Bukan suatu hal yang dapat ditutupi lagi bahwasanya semua orang insan dunia mengharapkan kehidupan yang lebih menyenangkan, baik secara lahiriah maupun batiniah. Kedamaian, ketentraman, kesejahteraan, dan kebahagiaan merupakan kalimat pendek yang mewakili dari segudang harapan dan keinginan hidup yang menyenangkan itu.
Namun, tidak kita pungkiri bahwa untuk merealisasikan harapan tersebut, justru banyak yang terjerambah pada lubang ketidaknyamanan, baik mental maupun jasmani, yakni sakit, kecewa, kesal, marah, yang semua merupakan gambaran dari seklumit ketidakbahagiaan dan ketidaksenangan hidup.
Mengapa bisa terjadi pada diri insan dunia termasuk kita semua? Karena kita begitu terobsesi dengan pandangan, paham, pola pikir yang salah terhadap apa yang diyakini. Dalam Kalama Sutta, Guru Buddha menyatakan ‘Jangan percaya begitu saja dengan apa yang dilihat, didengar, diketahui sebelum kita menyelami, merasakan, dan menganalisa sendiri’.
Penegasan Guru Buddha ribuan tahun lampau itu menunjukkan pentingnya suatu renungan dan analisa mendalam pada sesuatu yang akan diselami dalam hidup ini. Paham dan pandangan hidup adalah yang menentukan langkah perjalanan seseorang dalam mengarungi samudera kehidupan. Oleh karena itu pandangan dan paham dilambangkan sebuah pelita, walau kecil pelita selalu memberikan sinar sehingga menerangi jalan dan keadaan di sekitarnya, maka menjadi nampak jelas, nyata, dan benar adanya.
Mengetahui, memahami dan mengerti keberadaan yang sebenarnya terhadap segala sesuatu yang ada di kehidupan alam semesta baik yang bersifat materi dan batin inilah yang memunculkan mata batin, pencerahan, dan pengertian hidup. Pengertian inilah sumber utama untuk meraih harapan dan cita-cita yang diinginkan dalam kehidupan ini. 
Pandangan tentang pencerahan perlu dipahami secara simpel dan mendasar. Apa yang dimaksud pencerahan itu? Sering kita keliru dalam mendiskritkan pengertian pencerahan selalu disamakan dengan Pencerahan Sempurna yang dicapai petapa Gotama dan menjadi Buddha, sehingga kita merasa tidak layak mengatakan memperoleh pencerahan, padahal pencerahan di sini adalah mengertinya kebenaran yang ada pada suatu hal yang memang harus dipahami sebagai kenyataan yang tidak bisa ditawar dan dihindari.  
Tilakkhaṇa adalah salah satu hal yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan ini, justru mengerti dengan benar tentang Tilakkhaṇa memunculkan pencerahan hidup.  Sabbe saïkhara anicca: segala yang ada karena perpaduan mengalami perubahan. Oleh karena itu kata anicca adalah realita yang ada dan justru memberikan pengharapan besar bagi kita insan dunia. Perubahan itulah yang sesungguhnya menjadi harapan. Namun, kebanyakan orang cemas, khawatir, dan memandang skeptis dengan perubahan, karena yang ada dalam pikirannya adalah kelanggengan. 
Disinilah kontradiktif antara realitas alam dan paham pikir yang menjadi sumber ketidakbahagiaan seseorang. Dhamma menunjukkan, membabar, mengurai, dan membentangkan kebenaran yang sesungguhnya, bahwa keberadaan yang ada di dunia ini anicca bukan nicca (kekal). Mengerti bahwa kehidupan adalah perubahan awal kebahagiaan hidup.
Sabbe saïkhara dukkha: segala yang ada karena perpaduan tidak tertahankan. Karena tidak dapat bertahan dan terus berubah inilah yang menjadikan ketidakpuasan, menyakitkan, menyengsarakan dan menderita. Bilamana realita tersebut dipahami secara benar sebagaimana adanya justru itulah menjadi tonggak pertama dan spirit untuk meraih kebahagiaan. Karena mengetahui bahwa kebahagiaan itu bukan berada dalam bentuk fisik atau wujud, melainkan ada pada sikap mental, pemahaman, pengertian pada hakekat dan realitas kebenaran yang ada terhadap semesta alam.
Sabbe Dhamma anattà: segala yang ada tanpa inti. Pemahaman ini memang sungguh mendalam diperlukan perenungan dan penyelaman dengan sungguh-sungguh. Kebenaran ini menunjukkan bahwa peran besar seseorang pada dirinya sendiri, bahwa apa yang ada pada dirinya bukan berasal dari benih yang telah diciptakan atau asal-mula, namun ada karena aksi-reaksi yang terjadi dalam dirinya.
Disinilah insan dunia termasuk manusia dimuliakan, bukan sebagai makhluk lemah yang menggantungkan pada kekuatan makhluk lain, melainkan diangkat derajatnya sebagai makhluk yang memiliki kekuatan besar. Kemuliaan sebagai makhluk adalah harkat yang dapat mendorong semangat, spirit, daya juang, dan patriotis dalam mengarungi kehidupan untuk meraih keabadian (Nibbāna). 
Realitas ketanpaintian dalam kehidupan ini pula yang menjadikan seseorang memahami bahwa yang ada adalah rantai aksi dan reaksi yang saling mengkondisikan satu sama lainnya, yang membuka mata batin bahwa apa yang terjadi bukan berdiri sendiri (jiwa, roh) melainkan hanya perpaduan. 
Memahami kebenaran realita alam semesta adalah pencerahan, penyelaman, dan pengertian yang mengarah pada pola pikir, pandangan hidup dan sikap mental yang penuh ketentraman, keteguhan, keyakinan, penuh harapan, riang gembira dan bahagia. Keberadaan batin yang demikian itulah sumber tercapainya cita-cita luhur dan tercapainya perjuangan hidup yang tertinggi -Nibbāna.
Buddha bersabda: ‘pikiran adalah pelopor, pikiran adalah pembentuk, pikiran adalah pencipta, apabila seseorang berucap dan bertidak dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikuti pelakunya, bagai roda kereta yang mengikuti langkah kaki kuda yang menariknya’.

Dibaca : 2914 kali