x

Keadilan Sosial Dalam Buddhisme

-

    DOWNLOAD AUDIO

Kata-kata Keadilan Sosial sudah sering kita dengar dan baca, baik dari media elektronik maupun media cetak. Kata-kata keadilan sosial juga sudah sering menjadi slogan dalam kampanye-kampanye pada pemilihan calon pemimpin rakyat. Keadilan sosial juga sudah sangat dikenal sejak awal jaman peradaban.

Keadilan sosial memang hanya merupakan idealisme dalam masyarakat sosial, dan sangat didambakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Hanya saja pada masa ini, khususnya di Indonesia, keadilan sosial tidak lebih dari sekedar slogan atau tulisan. Pada kenyataannya, keadilan sosial tidak berjalan sepenuhnya dalam masyarakat.

Mengapa keadilan sosial sangat langka baik dalam pemerintahan maupun dalam masyarakat sosial, khususnya di Indonesia? Adapun penyebabnya adalah keserakahan individu yang menyebabkan setiap individu lebih mementingkan dirinya sendiri daripada orang lain. Keserakahan ini mengkondisikan manusia untuk melakukan apapun demi mencapai tujuannya atau demi memuaskan keserakahannya, baik dengan cara yang benar maupun dengan cara yang kurang benar.

Dalam Tipitaka, Keadilan Sosial banyak sekali dibahas oleh Sang Buddha. Seperti contoh dalam Kutadanta Sutta (Dīgha Nikāya), Cakkavati Sihanada Sutta (Dīgha Nikāya), dan Dasa Raja Dhamma (Jataka).

Dalam Dasa Raja Dhamma terdapat sepuluh poin yang menjadi kewajiban sebagai seorang pemimpin. Tidak hanya sebagai pemimpin orang lain, tetapi juga sebagai pemimpin diri sendiri. Kesepuluh poin tersebut adalah; Dāna (berdana), Sīla (melaksanakan sīla), Pariccāga (berkorban), Ājjava (ketulusan hati), Maddava (ramah tamah), Tapa (kesederhanaan), Akkodha (tidak marah), Avihimsā (tidak melakukan kekerasan/kekejaman), Khanti (kesabaran), dan Avirodhana (tidak bertentangan dengan kebenaran).

Apabila setiap individu memiliki kesepuluh poin tersebut, maka keadilan sosial dapat menjadi realita dalam kehidupan bermasyarakat. Tetapi sebaliknya, apabila kesepuluh poin tersebut hanya sebagai slogan, teori, tulisan, dan lain-lain, maka keadilan sosial akan sulit untuk terealisasi.

Oleh karena itu kita sebagai makhluk sosial, khususnya umat Buddha, sudah seharusnya tidak hanya menjadikan keadilan sosial sebagai slogan dan teori, tetapi justru kita harus merealisasikan keadilan sosial baik dalam lingkungan kita sendiri maupun masyarakat luas.

Dibaca : 6111 kali