x

Ada Perbedaan Tetapi Tidak Berselisih

Seperti dari setumpuk bunga dapat dibuat banyak karangan bunga; 
demikian pula hendaknya banyak kebajikan dapat dilakukan oleh manusia di dunia ini. 
(Dhammapada 53)

    DOWNLOAD AUDIO

Istri bertengkar dengan suami, anak berselisih dengan orangtua, menantu berselisih dengan mertua, anak sekolah berselisih dengan teman sekolahnya, kemudian orangtua murid berselisih dengan orangtua murid serta banyak contoh lainnya lagi. Memang inilah beberapa contoh sederhana yang sering kali kita lihat dalam kehidupan nyata. Perselisihan adalah sesuatu hal yang sering terjadi, tetapi perselisihan ini jangan kita biarkan begitu saja, sebab jika perselisihan itu tidak dapat diselesaikan dengan cara-cara yang baik akan menjadi pemicu adanya sebuah Aggresion (perilaku menyakiti orang lain), seperti: KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), penganiayaan terhadap orangtua yang dilakukan anaknya atau sebaliknya.
Apakah yang menjadi sebab perselisihan dan permusuhan itu? Yang menjadi penyebab permusuhan dan perselisihan karena adanya nafsu keinginan indera dan nafsu pada pandangan. Hal ini pernah ditanyakan oleh Brahmana Aramadanda kepada Y.M. Mahakaccana seperti yang terurai dalam Aṅguttara Nikāya kelompok dua (dukanipāta). Nafsu kesenangan indera dan nafsu pada pandangan itu menjadi sebuah perselisihan karena di dalamnya ada perbedaan.
Sebagai contohnya nafsu kesenangan, ketika kesenangan dalam diri kita diikuti tetapi apa yang didapat tidak sama dengan yang diharapkan, maka akan menjadi perselisihan baru. Hal umum dalam sebuah rumah tangga adalah jika sang suami meminta istrinya membuat kopi tetapi istrinya menolak untuk membuatkannya, maka suaminya akan menjadi marah dan jika tidak marah dalam dirinya, maka ia mulai muncul rasa tidak suka terhadap istrinya. Dari sini kita dapat lihat bahwa kopi adalah salah satu kesenangan inderawi yang disukai sang suami tetapi karena sang istri menolak membuatkannya, mulai muncul perselisihan di sana. Karena ada perbedaan yang diterima tidak sesuai dengan harapan sang suami, maka mulai timbul perselisihan. 
Pandangan adalah menjadi pemicu munculnya perselisihan, karena adanya perbedaan pandangan akan menjadi pemicu perselisihan. Jika diri kita memiliki pandangan yang berbeda dengan orang lain dan kita mempertahankan pandangan kita tanpa mau menerima dan memahami pandangan orang lain, maka akan menjadi sebuah perselisihan yang baru dengan orang lain. Anak dan orangtua seringkali berselisih bahkan hingga tidak mau menyapa satu sama lain karena adanya perbedaan pandangan. Suami dengan istri yang dulunya serasi, bahkan menyatakan cinta sehidup semati, dapat berselisih karena adanya perbedaan pandangan ini.

Bagaimana agar kita tidak berselisih dan dapat hidup tanpa permusuhan?

1.    Mengelola perbedaan dengan benar.
Setiap orang memiliki kecenderungan untuk membeda-bedakan; kebiasaan untuk membeda-bedakan sesungguhnya sudah ada sejak diri kita masih kecil. Orangtua kita mengajarkan kita membedakan agar kita dapat memahami keanekaragaman dalam hidup ini. Misalnya adalah gender typing, kita diajarkan untuk mengetahui perbedaan apakah kita ini laki-laki atau wanita, tujuannya agar kita dapat memerankan peran yang sesuai, seperti anak laki-laki dibelikan mobil-mobilan, anak wanita dibelikan boneka-bonekaan jadi memang dari kecil orangtua kita sudah memperlihatkan akan adanya perilaku membedaan-bedakan kepada kita. Kita juga dikenalkan ini apel, ini jeruk, ini mangga, dan lain-lain. Ini diajarkan kepada kita sudah dari kecil, yang tujuannya adalah agar mengetahuhi bahwa dalam hidup ada keanekaragaman. 
Setelah kita menjadi dewasa, pengalaman dari kecil terbawa hingga kini, setiap melihat orang pada umumnya dilihat adalah perbedaannya, tidaklah salah melihat perbedaan itu, yang menjadi masalah adalah jika perbedaan itu kemudian ingin disamakan. Lalu bagaimana jika kita melihat adanya perbedaan pada orang lain yaitu misalnya ada orang berbuat buruk atau memiliki pandangan salah? Kalau kita dapat merubahnya, rubahlah, tetapi jika tidak dapat merubahnya, pahamilah, bahwa setiap orang memiliki kamma-nya masing-masing. Kalau kita dapat membantu orang lain berubah menjadi baik berarti kita telah berbuat baik (ditthujukamma). Jadi dalam hal ini kitalah yang pertama yang harus memahami bahwa dalam hidup ada perbedaan. 
Setelah kita melihat adanya perbedaan ini, janganlah kita membicarakannya, perbedaan menjadi sebuah masalah atau perselisihan ketika kita mulai keluarkan dalam bentuk perkataan; maka ketika kita melihat orang lain yang berbeda dengan kita, jagalah yang pertama adalah kata-kata kita. Mungkin kita pernah mendengar atau membaca tentang adanya kisah dari 3 orang yang melihat bendera; orang yang pertama mengatakan bahwa bendera, yang bergerak adalah benderanya; orang kedua mengatakan bukan benderanya, tetapi anginnya yang bergerak; orang ketiga mengatakan bukan bendera dan angin yang bergerak, tetapi pikiran kita yang bergerak; ketiga orang ini terus berselisih dan tidak ada yang mau mengalah. Jadi, perselisihan kita dengan orang lain diawali dari ucapan kita. Maka ketika kita melihat perbedaan janganlah segera kita komentari, perhatikan dulu, kalau memang sudah tahu dengan pasti barulah berbicara. 
2.    Kalahkan keakuan dalam kita.
Agar hidup kita tanpa perselisihan dan penuh dengan kedamaian maka yang perlu kita kalahkan adalah keakuan dalam diri kita. Selama keakuan di dalam diri kita seperti lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (ketidaktahuan) masih ada dan belum kita lenyapkan, kemungkinan untuk berselisih dan bermusuhan masih ada. Sang Buddha mengajarkan kepada para siswa-Nya tidak hanya untuk berbuat baik, tetapi juga diajarkan untuk melenyapkan lobha, dosa, dan moha. Dengan lenyapnya keakuan, maka kita seperti halnya Gong yang pecah yang tidak lagi terus bergema. Dalam Dhammapada syair 134: Apabila engkau dapat berdiam diri bagaikan gong pecah, berarti engkau telah mencapai Nibbāna (lenyapnya keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan), sebab keinginan membalas dendam tidak terdapat lagi dalam dirimu. Maka, dalam hidup yang penuh dengan keanekaragaman yang di dalamnya ada perbedaan itu, janganlah kita serakah, benci dan gelap batin dalam melihat adanya perbedaan ini. 
“Renungkanlah seperti halnya antara kaki kanan dan kaki kiri kita tidaklah sama; tetapi jika kita kelola dengan baik akan memberi manfaat bagi diri kita dan orang lain”.
Dengan demikian, meskipun kita hidup dalam perbedaan, tetapi tidak akan berselisih selama kita dapat mengelola perbedaan dengan baik serta mulailah mengalahkan keakuan dalam diri kita masing-masing.

Dibaca : 800 kali