x

Cara Menjadi Raja Dewa

Saccaṁ bhaṇe na kujjheyya, dajjā appasmimpi yācito
Etehi tῑhi ṭhānehi, gacche devāna santike.

“Hendaknya orang berbicara benar, hendaknya orang tidak marah, 
hendaknya orang memberi walaupun sedikit kepada mereka yang membutuhkan. Dengan cara ini, orang dapat pergi ke alam para dewa.” 
(Dhammapada 224)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam Pattakama Sutta, Aṅguttara Nikāya, Upāsaka Anathapindika menyampaikan kepada Sang Buddha, apa yang menjadi cita-citanya sebagai umat awam. Anathapindika menyampaikan bahwa sebagai umat awam ada Empat Keinginan yang dicita-citakannya, yaitu:
1.    Menjadi kaya dengan jalan Dhamma, 
2.    Termashyur, 
3.    Sehat dan berumur panjang, dan 
4.    Setelah kehidupan berakhir terlahir kembali di alam surga.

Sang Buddha menjelaskan kepada Anathapindika bahwa keempat keinginan ini adalah keinginan yang wajar, mengingat memang demikianlah apa yang dicita-citakan umat awam.

Surga
Pandangan umum menjelaskan bahwa surga adalah alam bahagia, menyenangkan dan penuh kenikmatan. Dalam Agama Buddha, surga juga digambarkan demikian, tetapi surga dalam agama Buddha bukanlah menjadi tujuan yang tertinggi.

Dalam agama Buddha, Surga terdiri dari berbagai tingkatan alam, tidak hanya satu alam saja. Surga dalam agama Buddha ada 26 alam surga. Surga menjadi banyak mengingat setiap orang yang berbuat baik secara kualitas (mutu/bobot kebajikan) dan secara kuantitas (jumlah kebajikan) berbeda-beda.

26 alam surga itu adalah: 6 alam surga biasa, 16 alam surga menengah (Rupaloka), dan 4 alam surga tingkat tinggi.

Raja Dewa
Dalam agama Buddha, juga dikenal adanya Raja Dewa, Dewa yang menjadi raja di surga. Raja Dewa dikenal dengan sebutan Sakka, yang berkuasa menjadi Raja Dewa di alam surga Catumaharajika (surga tingkat 1) dan Tavatimsa (surga tingkat 2). Dalam beberapa sutta, seperti Ambattha Sutta, Dῑgha Nikāya, Sakka diidentikkan dengan Vajirapani, Dewa yang menjadi simbol kejujuran dan kebijaksanaan. Dalam cerita pewayangan, Sakka identik dengan Dewa Indra.

Vatapada Sutta, Sakka Saṁyutta dari Saṁyutta Nikāya, Sang Buddha menjelaskan kepada para bhikkhu beberapa nama Sakka pada kehidupan lampaunya saat menjadi manusia. ”Para Bhikkhu, di masa lampau, ketika Sakka, raja dewa, adalah seorang manusia, ia seorang pemuda bernama Magha, itulah sebabnya sehingga dia dinamakan Maghava. 
..., ia memberikan dana di kota demi kota, oleh karena itu maka ia dinamakan Purindada, si pemberi penduduk kota.
..., ia senang memberikan hormat (sakkaccaṁ) maka ia dinamakan Sakka.
..., ia memberikan ’tempat tinggal’ (avasathaṁ) maka ia dinamakan Vasava.
..., ia memikirkan sebanyak seribu persoalan (sahassaṁ atthaṁ) dalam sesaat, maka ia dinamakan Sahassakkha, bermata seribu. Raja dewa mempunyai seorang istri bernama Sujata, putri Asura, maka ia dinamakan Sujampati. Raja dewa Sakka mempunyai kekuasaan sebagai pemimpin, dan menguasai para dewa alam surga Tavatimsa, maka ia dinamakan ’Raja Devati’.

Cara Untuk Dapat Terlahir Se-bagai Sakka
Dalam Dhammapada Atthakatha, Sang Buddha menceritakan salah satu kehidupan lampau Sakka, yaitu saat Sakka terlahir sebagai seorang pemuda bernama Magha yang giat dan bersemangat dalam melakukan berbagai macam kebajikan.

Suatu waktu, seorang Pangeran Licchavi, bernama Mahali, datang untuk  mendengarkan Khotbah Dhamma yang disampaikan Sang Buddha. Khotbah yang dibabarkan adalah  Sakka Pa¤ha Suttanta (Khotbah Tentang Pertanyaan Dewa Sakka). Sang Mahali kemudian berpikir bahwa Sang Buddha pernah berjumpa Dewa Sakka secara langsung. Untuk meyakinkan hal tersebut, dia bertanya kepada Sang Buddha.

Sang Buddha menjawab, “Mahali, Aku mengenal Sakka; Aku juga mengetahui apa yang menyebabkan dia menjadi Sakka.”

Kemudian Beliau bercerita kepada Mahali bahwa Sakka, Raja Para Dewa, pada kehidupannya yang lampau adalah seorang pemuda bernama Magha, tinggal di desa Macala.

Pemuda Magha dan tiga puluh dua temannya pergi untuk membangun jalan dan tempat tinggal. Magha juga bertekad untuk melakukan tujuh kewajiban. 
Tujuh kewajiban tersebut adalah:
1.    Dia akan  merawat kedua orang tuanya;
2.    Dia akan menghormati orang yang lebih tua;
3.    Dia akan berkata sopan;
4.    Dia akan menghindari membicarakan orang lain/memfitnah;
5.    Dia tidak akan menjadi orang yang kikir, dia akan menjadi orang yang murah hati (gemar berdana);
6.    Dia akan berkata jujur; dan
7.    Dia akan menjaga dirinya untuk tidak mudah marah.

Karena kelakuannya baik dan tingkah lakunya yang benar pada kehidupannya yang lampau, Magha dilahirkan kembali sebagai Sakka-Raja Para Dewa.

Kesimpulan
Dalam Dhamma, diajarkan bagaimana cara mencapai kebahagiaan hidup saat ini, hidup yang akan datang, juga cara mencapai kebahagiaan tertinggi (kesucian). Bagi yang ingin terlahir di alam surga dalam Dhamma juga ditunjukkan caranya, cara bukan hanya terlahir di alam surga menjadi dewa-dewi biasa, tetapi juga diajarkan bagaimana caranya menjadi Sakka, Raja Para Dewa.

Sumber: 
-    Dhammapada Atthakatha, Vihara Vidyaloka, Jogjakarta.
-    Saṁyutta Nikāya I, Sagatha Vagga, Dhammacitta Press.

Dibaca : 1347 kali