x

Penyakit Dalam Hidup

Ārogyaparamā lābhā, santuṭṭhῑparamaṁ dhanaṁ
Vissāsaparamā ñātῑ, nibbānaṁ paramaṁ sukhaṁ

Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar, kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga. Kepercayaan adalah saudara yang paling baik, Nibbāna adalah kebahagiaan tertinggi.
(Dhammapada 204)

    DOWNLOAD AUDIO

Kehidupan adalah sebuah proses yang mengalami perkembangan. Ini berarti bahwa dalam hidup tidak ada yang diam atau tetap. Setiap pertambahan waktu yang disebut usia, kita senantiasa selalu ada yang berbeda utamanya perubahan fisik kita. Perubahan fisik ini dapat bersifat penambahan (gain) seperti; badan bertambah tinggi dan besar. Tetapi perubahan fisik juga bersifat penurunan (losses) seperti; tulang mulai kropos, mata mulai tidak awas, pendengaran mulai berkurang, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya adalah normal atau wajar dalam hidup, dan berlaku tidak hanya kita yang terlahir sebagai manusia tetapi segala bentukan yang ada akan mengalami hal yang sama. Sang Buddha nyatakan ini sebagai: Sabbe saṅkhārā aniccā artinya segala bentukan adalah tidak kekal adanya.

Perubahan fisik yang bersifat peningkatan (gains) adalah hal yang diharapkan dan umumnya mudah untuk terima. Tetapi perubahan fisik yang sifanya penurunan (losses) adalah sesuatu yang umumnya tidak diinginkan dan sulit untuk diterima. Secara sederhana kita dapat memahami bahwa yang dikatakan sakit adalah perubahan yang sifatnya menurun. Seperti mata kita, seandainya penglihatan kita mulai menurun kita sering katakan sebagai sakit mata, dan lain-lain.

Sebagai manusia kita terbentuk dari dua unsur yakni jasmaniah dan batiniah. Sehingga kita memiliki dua penyakit yakni sakit jasmaniah dan juga sakit batiniah. Dengan kata lain setiap saat kita akan mengalami sakit jasmani dan sakit batin. Sakit jasmani dan sakit batin adalah hal sama yang harus diobati. Tetapi yang terpenting bukan bagaimana kita mengobati penyakit, tetapi yang terpenting adalah mencegah supaya tidak sakit. Karena sakit datang itu bukan tiba-tiba tetapi ada penyebabnya.

Sebelum kita mencegah penyakit jasmani kita perlu mengetahui terlebih dahulu, kenapa jasmani ini sakit? Jasmani yang kita miliki terbentuk dari gabungan 4 unsur, yakni unsur padat, unsur cair, unsur udara, unsur api. Empat unsur ini menyadarkan kita bahwa, kita ini hanya sebuah gabungan, yang namanya gabungan itu, tidak ada yang disebut intinya. Sehingga ketika keempat unsur ini ada yang berubah maka berubahlah diri kita, dan salah satunya menjadi penyakit.  Dan gabungan dari keempat unsur ini, tidak dapat bertahan terus-menerus, karena tidak dapat bertahan terus-menerus, maka sampai kapanpun, ketika sakit jasmani diobati maka menjadi sembuh, tetapi tidak dapat bertahan dalam waktu yang lama dan kemudian akan muncul sakit lagi. Dengan kata lain selama masih adanya kelahiran, timbul adanya jasmani, maka sakit jasmani ini akan selalu ada.

Sakit batiniah ini berbeda dengan sakit jasmani, orang pada umumnya masih memandang bahwa sakit batiniah atau penyakit mental dalam bahasa umumnya, adalah penyakit yang memalukan, sehingga tak jarang orang yang mengidap penyakit batiniah lebih memilih memendam penyakitnya dari pada mencari solusinya, berbeda dengan kalau sakit jasmani. Padahal sakit batiniah ini jika dibiarkan akan bertambah parah dan untuk pengobatannya akan membutuhkan waktu yang lama. Selain itu juga sakit batin lebih cepat menimbulkan penyakit ketimbang sakit jasmani.

Sakit batiniah ini dapat dicegah dengan menjaga pikiran. Diawali dengan mengembangkan sammā diṭṭhi (pandangan benar) dan sammā saṅkappa (pikiran benar). Padangan benar ini adalah melihat sebagaimana adanya akan proses kehidupan yang muncul dan tenggelam dari berbagai faktor penyebab. Dan Pikiran benar ini adalah melihat kehidupan tanpa kebencian, atau pun niat jahat. Dengan menjaga pikiran terus menerus, meskipun jasmani sakit, pikiran tidak akan ikut sakit. Tetapi jika tidak menjaga pikiran; jasmani sakit, pikiran akan ikut sakit.

Dalam Saṁyutta Nikāya, Khandhasaṁyutta: Nakulapita berkata kepada Sang Bhagava; “saya sudah tua, Yang Mulia, semakin tua, terbebani dengan tahun demi tahun, berusia lanjut dalam kehidupan, sampai pada tahapan akhir, menderita dalam tubuh, sering sakit. Saya jarang menemui Sang Bhagava dan para bhikkhu yang layak untuk dihormati. Sudilah Sang Bhagava menasehati saya, sudilah mengajari saya, karena itu mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan saya dalam waktu yang lama.”

Sang Bhagava: “Memang, demikian, perumah tangga, memang demikian! Tubuhmu menderita, membungkuk, terbebani. Jika siapapun yang membawa tubuh ini mengaku sehat bahkan selama sesaat, apakah itu bukan dungu? Oleh karena itu, Perumah tangga, engkau harus berlatih sebagai berikut: ’walaupun tubuhku menderita, namun batinku tetap tidak akan menderita.’ Demikianlah engkau harus berlatih.”

Oleh karena itu kita seyogyanya berupaya untuk menjaga pikiran kita agar tetap sehat meskipun di saat-saat yang sulit. Dengan diawali mengembangkan pandangan benar dan pikiran benar dalam hidup kita.

Sabbe Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Dibaca : 249 kali