x

Sabbe Saṅkhārā Aniccā’ti

Segala Bentukan Tidak Kekal Adanya

    DOWNLOAD AUDIO

Aniccā, kata-kata yang sudah sangat sering kita dengar dan baca. Kata-kata yang sangat dikenal oleh umat Buddha, baik tradisi Theravada maupun Mahayana. Aniccā juga merupakan salah satu kata yang sangat popular, dan kebanyakan sebagian umat Buddha juga telah mengetahui arti dari kata tersebut.

Seperti yang telah disebutkan, sebagian umat Buddha telah mengetahui kata Aniccā, tetapi berapa banyak yang telah betul-betul memahami arti dari kata aniccā tersebut. Kebanyakan, bahkan sebagian besar kita sebagai murid dari Sang Buddha, hanya mengetahui arti kata aniccā sebagai teori intelektual belaka. Hal ini dapat kita buktikan sendiri. Saat kita kehilangan sesuatu yang sekiranya lumayan berharga atau bahkan sangat berharga, ataupun kita mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, yang tidak diinginkan, kebanyakan atau sebagian besar dari kita tidak bisa menerima kondisi pada saat itu. Hal ini adalah reaksi yang wajar, adalah hal yang normal apabila kita sebagai manusia biasa, yang masih dalam proses berlatih, menolak hal-hal yang tidak kita inginkan dan berharap mendapat sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita bahkan kadang kala kita akan menggunakan segala cara agar hal yang kita inginkan bisa kita dapatkan.

Aniccā, atau ketidakkekalan tidak lepas dari kehidupan kita sehari-hari, walaupun kita tidak menerima eksistensi dari ketidakkekalan tersebut atau bahkan tidak percaya pada ketidakkekalan, ketidakkekalan tetap mempengaruhi setiap waktu dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak peduli siapapun kita, di manapun, dan kapanpun, ketidakkekalan tetap akan terjadi.

Permasalahan yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari juga dikarenakan ketidakkekalan atau perubahan-perubahan. Tetapi hal ini sudah menjadi hal yang biasa, tidak ada seorangpun atau makhluk apapun yang tidak memiliki masalah, selama makhluk tersebut lahir dan hidup maka selama itu juga akan mendapatkan masalah, juga lari dari masalah bukanlah hal yang bijak untuk dilakukan karena sejauh apapun kita lari dari masalah tersebut tetap pada akhirnya akan bertemu masalah yang lain dan bahkan masalah yang kita telah tinggalkan akan kembali. Lalu apa yang harus kita lakukan pada masalah yang terus ada ini. Yang dapat kita lakukan cukup sederhana, yaitu berusaha mengatasinya sebisa mungkin, semaksimal mungkin, dan bisa menerima perubahan walaupun perubahan tersebut sangat merugikan. Hal ini adalah hal yang dapat kita lakukan, apabila kita tidak dapat menerima perubahan pada akhirnya kita sendiri yang akan menderita karena perubahan, dan tujuan dari Dhamma ajaran Sang Buddha adalah untuk mengatasi penderitaan bukan menambah penderitaan.

Masalah yang berasal dari perubahan atau ketidakkekalan, apabila kita teliti lebih lanjut sebenarnya dari manakah sumbernya. Sumber dari masalah tersebut tidak jauh dari diri kita sendiri. Sumber-sumber itu adalah pikiran, ucapan, serta perbuatan jasmani. Setiap aktivitas dari ketiga hal tersebut, pikiran ucapan dan perbuatan jasmani, akan menjadi penyebab timbulnya perubahan yang nantinya akan mengakibatkan munculnya masalah dalam kehidupan sehari-hari. Jadi apabila kita mengalami suatu masalah dan ingin mencari sumber dari masalah tersebut, terlebih dahulu lihatlah diri sendiri dan jangan melempar kesalahan pada orang lain atau pada hal lain. Apabila kita bisa dengan tenang melihat diri sendiri, maka kita dapat melihat sumber atau sebab permasalahan tersebut dan dapat memikirkan solusi yang tepat untuk masalah tersebut. Kadang kala kita gagal untuk dapat melihat sumber atau sebab dari masalah yang kita hadapi dikarenakan pikiran kita dipenuhi oleh emosi, dan tidak dapat berpikir dengan baik. Apabila emosi yang didasari oleh kebencian mendahului maka respon kita terhadap masalah tersebut juga akan negatif. Apabila hal itu terjadi maka baik secara sadar ataupun tidak sadar, pada saat itu juga kita tidak menerima perubahan atau ketidak-kekalan hingga menghasilkan respon yang negatif.

Oleh karena itu apabila masalah muncul berusahalah untuk menanggapinya dengan pikiran yang tenang, jangan didahulukan oleh emosi dan kebencian. Walaupun pada kenyataannya hal tersebut bukanlah hal yang mudah tetapi apabila kita mau berlatih sedikit demi sedikit dan didukung dengan meditasi maka kita dapat mengubah cara kita untuk menghadapi masalah. Yang pada akhirnya kita dapat menerima perubahan atau ketidakkekalan melalui masalah tersebut.

Masalah tidak sepenuhnya hal yang merugikan, karena di balik masalah terdapat pengetahuan dan pengalaman yang akan kita peroleh. Setiap masalah memiliki pengetahuan serta pengalaman yang berbeda-beda. Dan perlu kita ketahui bahwa masalah timbul dari tindakan atau perbuatan kita. Jadi, semakin besar nilai tindakan kita semakin besar pula konsekuensi dari masalah yang akan kita hadapi, bukan berarti tindakan yang kecil tidak dapat menghasilkan masalah yang besar.

Sebuah prinsip hidup yang pernah saya dapatkan, semakin besar kekuatan atau semakin besar status, semakin besar juga tanggung jawab. Semakin besar nilai dari sebab yang ditimbulkan maka semakin besar juga akibat yang akan dihasilkan.

Dibaca : 2689 kali