x

Empat Cara Berperilaku

Bahusuttaṁ upāseyya, sutañca na vināsaye
Taṁ mūlaṁ brahmacariyassa, tasmā dhammadharo siyāti

Hendaknya seseorang mengikuti ia yang terpelajar dan tidak seharusnya mengabaikan pengetahuan, karena hal itu merupakan dasar dari kehidupan suci. 
Oleh karena itu pahamilah Dhamma dengan baik.
(Theragāthā, 1027)

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam kehidupan ini, kita selalu banyak belajar dari berbagai macam sumber pengetahuan. Hingga sampai saat ini pun kita secara sadar atau pun tidak sadar selalu belajar, baik dengan cara membaca buku, mendengar nasehat, atau belajar dari pengalaman langsung. Dan seiring usia kita yang semakin bertambah, maka kita begitu banyak menghabiskan waktu untuk terus belajar.

Jika kita pergi ke situs-situs peninggalan purbakala seperti bangunan candi, maka kita dapat melihat di atap pintu masuk bagian atas, ada sebuah ukiran berbentuk kalla (kepala raksasa dengan mulut menganga memperlihatkan gigi dan taringnya yang tajam) yang oleh pembuatnya dijadikan simbol waktu. Si pembuat mempunyai tujuan yang mulia, senantiasa mengingatkan kepada para pengunjung candi bahwasanya kita senantiasa termakan oleh waktu, diburu oleh waktu, dan akhirnya sebagai kesimpulan dari pesan tersebut adalah ‘jangan menyia-nyiakan waktu yang kita miliki untuk berbuat hal-hal yang tidak bermanfaat. Pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya, isilah dengan berbagai macam aktivitas yang bermanfaat.’

Dengan belajar, maka kita akan menjadi tahu lebih banyak, namun perlu diingat bahwa kita hendaknya tidak mengabaikan praktik sebagai pengamalan ilmu yang telah kita pelajari. Buddha memberikan perumpamaan ‘orang yang mengerti teori namun tidak pernah praktik seperti sendok yang jatuh ke dalam sayur’. Walaupun berada di dalam sayur namun tidak bisa menikmati rasanya. Tidak dapat dipungkiri manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi antara satu dengan yang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanpa bantuan orang lain, maka manusia akan menemui kesulitan untuk menjalani hidup karena harus menyediakan semua kebutuhannya sendiri. Dalam kehidupan kita sehari-hari bisa kita temui berbagai perilaku atau perbuatan manusia yang satu kepada manusia yang lain. Ada yang baik dan ada pula yang buruk. Oleh sebab itulah kita perlu mengerti bagaimana cara berperilaku, mengingat tiap-tiap orang mempunyai karakter yang berbeda. Buddha memberikan nasehat kepada para siswa bagaimana cara berperilaku yang tujuannya supaya semua bisa hidup berdampingan, harmonis, terhindar dari berbagai macam konflik.

Nasehat luhur tersebut terdapat dalam Aṅguttara Nikāya IV sebagai berikut: Para bhikkhu, ada empat cara berperilaku. Apakah yang empat itu? Cara tidak sabar, cara sabar, cara menjinakkan, dan cara menenangkan. Para bhikkhu, apakah cara tidak sabar itu? Jika dicaci maki, orang itu membalas mencaci maki; jika dihina, dia membalas menghina; jika dilecehkan, dia membalas melecehkan. Dan para bhikkhu, apakah cara yang sabar itu? Jika dicaci maki, dia tidak balik mencaci maki; jika dihina, dia tidak balik menghina; jika dilecehkan, dia tidak balik melecehkan. Dan apakah cara menjinakkan itu? Di sini, ketika melihat bentuk dengan mata, mendengar suara dengan telinga, atau mencium bau dengan hidung, atau mencicipi cita-rasa dengan lidah, atau menyentuh objek dengan tubuh, atau memahami objek mental dengan pikiran, seorang bhikkhu tidak melekati penampilan umum atau detil objek itu. Karena jika dia membiarkan kemampuan inderanya tidak terjaga, keadaan-keadaan ketamakan serta kesedihan yang jahat dan tidak bermanfaat akan menyerangnya, maka dia menerapkan pengendalian kemampuan indera itu, menjaganya dan mencapai penguasaan atasnya. Dan apakah cara untuk menenangkan? Di sini, seorang bhikkhu tidak mentoleransi di dalam dirinya sendiri pemikiran sensual, atau pemikiran niat jahat, atau pemikiran kekerasan, atau keadaan-keadaan lain apa pun yang jahat dan tidak bermanfaat yang mungkin muncul di dalam dirinya. Dia meninggalkannya, menghalaunya, menghilangkannya, dan menghancurkannya. Para bhikkhu, inilah empat cara berperilaku.

Demikianlah cara bijak yang dianjurkan oleh Buddha kepada para siswa. Untuk perubahan perilaku ke arah yang lebih baik, tentu harus dilatarbelakangi oleh kemauan/ kehendak yang muncul dari dalam diri dalam menaati norma-norma. Ketidaknyamanan tentunya kerap kita rasakan jika kita ditolak oleh lingkungan. Perubahan positif itu pun tentunya berawal dari keinginan untuk menggapai suatu tujuan dengan cara yang terbaik, agar hasil yang didapat pun terbilang memuaskan.

Perilaku yang baik lambat laun akan menjadi suatu kebiasaan, dan kebiasaan tersebutlah yang akan menghantarkan kita menjadi manusia yang berpengendalian.

Konflik manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan sekitar, serta manusia dengan alam semesta, tentu mempunyai sebab di awalnya. Mengetahui sebab atau akar dari masalah itulah yang bisa menghindarkan dari konflik yang berkelanjutan. Oleh karena itu, kita patut mengembangkan perilaku baik guna mengarahkan kita mencapai kebebasan, terlepas dari segala macam bentuk penderitaan.

Sumber:
-    Theragāthā, 1027
-    Aṅguttara Nikāya IV

Dibaca : 1809 kali