x

Memahami Dan Mengatasi Kekhawatiran

Atῑtaṁ nānvāgameyya, nappaṭikaṅkhe anāgataṁ
Yadatῑtampahῑnantaṁ, appattañca anāgataṁ.

Tak sepatutnya mengenang sesuatu yang telah berlalu, tak sepatutnya berharap pada sesuatu yang akan datang. Sesuatu yang telah berlalu adalah hal yang sudah lampau,
dan sesuatu yang akan datang adalah hal yang belum tiba.
(Upparipaṇṇāsa, Majjhima Nikāya)

    DOWNLOAD AUDIO

Kekhawatiran adalah hal tidak asing bagi kita, sebab di antara kita semua pasti pernah mengalami kekhawatiran. Apa-lagi di awal tahun semacam ini, tentu kekhawatiran  sering muncul di dalam benak kita, dan banyak di antara kita ingin bebas dari kekhawatiran itu. Sesungguhnya kekhawatiran atau rasa khawatir adalah hal yang wajar pada diri manusia. Selama seseorang belum terbiasa mengendalikan pikiran dan juga terlatih mengendalikan pikiran, di sana masih ada rasa khawatir.

Kekhawatiran secara umum dikatakan sebagai perasaan yang terganggu akibat bayangan/pikiran buruk yang kita buat sendiri, yang belum terjadi pada diri kita atau orang-orang terdekat kita. Dalam Dhamma, kekhawatiran itu merupakan bagian dari saṅkhara (bentuk-bentuk pikiran). Karena adanya bentuk-bentuk pikiran yang terus berkembang, maka kekhawatiran akan muncul. Sering kali juga kekhawatiran dikatakan sebagai perusak kebahagiaan dan kedamaian.

Umumnya orang mengasosiasikan/menghubungkan kekhawatiran sebagai sesuatu yang buruk atau negatif. Padahal tidak selamanya kekhawatiran itu buruk, sebab dengan mengetahui adanya rasa khawatir, orang akan dapat mengantisipasinya di masa mendatang.  Kekhawatiran dikatakan buruk jika rasa khawatir itu berlebihan dan tidak beralasan, sehingga menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan penyakit psikis lainnya. Demikian pula kekhawatiran dikatakan baik, jika rasa khawatir itu dapat meningkatkan semangat dan produktivitas untuk berusaha menjadi lebih baik daripada masa sekarang. Misalnya Bodhisatta Siddhartha sebelum menjadi petapa, Beliau mengalami rasa khawatir yang besar akan kehidupan (usia tua, sakit, kematian), tetapi dari hal ini Beliau akhirnya terdorong mencari pembebasan agung.

Berpikir akan masa depan yang berlebihan 
Banyak sekali yang menjadi pemicu munculnya kekhawatiran, umumnya kekhawatiran muncul, ketika seseorang terlalu berpikir kritis tentang masa depan yang berlebihan. Dan ketika berpikir masa depan yang berlebihan, yang bekerja bukan lagi realita (kenyataan), tetapi rekaan-rekaan/khayalan dari pikiran semata. Dari rekaan-rekaan pikiran inilah kekhawatiran muncul. Apabila seseorang  tidak dapat  menghentikan rasa khawatir, maka rasa khawatir akan menjadi terus berkembang, apalagi kalau semakin dipikirkan, rasa khawatir bukannya berkurang, tetapi sebaliknya semakin membesar.

Nafsu keinginan 
Selain pikiran yang berlebihan akan masa depan, penyebab lainnya yang menjadi pemicu timbulnya kekhawatiran adalah adanya nafsu keinginan (taṅhā). Karena adanya taṅhā, maka akan timbul kemelekatan, sebab sewaktu seseorang sudah begitu melekat pada apa yang disayangi, maka akan timbul kekhawatiran. Kekhawatiran akan perasaan takut kehilangan yang disayangi dan takut berpisah dengan yang dicintai. Sebab apa saja yang kita sayangi dan kita cintai, jika ada unsur nafsu keinginan pastilah di sana ada kekhawatiran, dan kekhawatiran yang akan kita rasakan sebanding dengan seberapa besar nafsu keinginan dalam diri kita. Semakin besar nafsu keinginan, maka semakin besar pula kekhawatiran yang akan kita alami.

Melihat segala sesuatu sebagaimana adanya
Kekhawatiran dapat kita atasi ketika kita dapat melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Ketika kita dapat melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, maka kita akan dapat memahami apa yang kita khawatirkan dan mengapa kita khawatir. Seperti halnya kalau kita melihat seutas tali tambang yang tertutup sampah, hal ini dapat membuat kita khawatir andai kata kita berpikir itu adalah ular. Tetapi, ketika kita melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, maka kita akan mengetahui bahwa itu hanyalah tali tambang semata, jadi rasa khawatir akan lenyap.

Melihat segala sesuatu sebagaimana adanya juga termasuk melihat sifat alami kehidupan. Dalam abhiṇhapaccavekkhaṇa ada perenungan tentang sifat kehidupan yakni: sabbehi me piyehi manāpehi nānābhāvo vinābhāvo  yang artinya segala milikku yang kucintai dan kusayangi wajar berubah, wajar terpisah dariku. Dengan memahami hal ini, rasa khawatir akan mampu teratasi. Karena inilah sifat alami perubahan dalam kehidupan ini.

Hidup saat ini (Sadar) 
Kekhawatiran juga akan mampu kita atasi, ketika kita mampu untuk hidup saat ini dengan sadar. Sebab saat ini adalah penentu masa depan kita, hari esok ada diawali oleh hari ini. Di saat ini, kita perlu berbuat dengan sadar, agar saat ini kita dapat melakukan yang terbaik. Jika kita sudah melakukan yang terbaik, sudah berusaha yang terbaik serta sudah mengkondisikan yang terbaik, maka kita tidak akan mengalami rasa khawatir lagi.

Sebaliknya, jika kita tidak sadar pada hidup saat ini, pikiran kita akan pergi jauh ke depan, dan hal ini merupakan sebab kekhawatiran timbul. Jika ada gambaran masa depan yang kita khawatirkan, cobalah lihat hidup kita saat ini. Karena gambaran tentang masa depan kita akan menjadi nyata, diawali saat ini, sebab saat ini adalah pengkondisi hari esok (masa depan).

Semoga dengan memahami hal ini kita dapat mengatasi kekhawatiran dalam diri kita.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Dibaca : 4496 kali