x

Keluarga Bahagia Sesuai Dhamma

Yathā ahaṁ tathā ete, yathā ete tathā ahaṁ
Attānaṁ upamaṁ katvā, na haneyya na ghātaye

Begini aku, begitu pula orang lain, begini orang lain, begitu pula aku.
Setelah memiliki penyamaan diri sendiri dengan orang lain seperti itu,
hendaklah ia tidak mencelakai siapapun atau menyebabkan orang lain celaka.
(Sutta Nipāta 705)

    DOWNLOAD AUDIO

Setiap orang yang menghuni dunia ini mempunyai tujuan dalam hidupnya, tak dapat disangkal bahwa setiap orang pasti ingin hidup bahagia. Untuk mencapai kebahagiaan maka kita perlu tahu caranya. Sebagai umat Buddha yang memutuskan untuk memilih hidup berumah tangga pasti mengharapkan dalam keluarganya dapat hidup bahagia, saling mencintai, saling menghormati, saling membantu, hidup rukun dan damai tiada perselisihan dan pertengkaran. Bagaimana cara untuk memperoleh semua itu?, simaklah uraian berikut ini.Dalam Saraniyadhamma Sutta bagian dari Aṅguttara Nikāya, juga dalam Sāmagāma Sutta, Majjhima Nikāya 104, Sang Buddha menjelaskan bahwa terdapat enam hal yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati; menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, kerukunan dan kesatuan. Keenam hal itu adalah:
1. Memiliki perbuatan yang disertai dengan cinta kasih, baik di depan atau pun di belakang mereka. Dalam satu kelompok keluarga yang terdiri ayah, ibu dan anak-anak bila ingin hidup bahagia dan rukun. Hal pertama yang harus dilakukan ketika melakukan perbuatan terhadap sesama keluarga hendaknya disertai cinta kasih, baik di hadapannya maupun dibelakangnya. Ketika ada anggota keluarga yang sedang sakit rawatlah dengan penuh cinta kasih, dalam melakukan pekerjaan rumah tangga lalukan dengan cinta kasih, melayani satu sama lain penuh dengan cinta kasih.

2. Memiliki ucapan yang disertai dengan cinta kasih, baik di depan atau pun di belakang mereka. Ketika berbicara langsung dengan sesama keluarga ucapkan dengan cinta kasih maka anggota keluarga yang mendengar akan bahagia. Tidak mengucapkan kata-kata yang kasar, caci maki, yang membuat anggota keluarga yang lain sakit hati. Ketika berada di belakang mereka janganlah membicarakan keburukan-keburukan anggota keluarga, karena bila seseorang membicarakan keburukan-keburukan anggota keluarganya kepada orang lain, sesungguhnya ia sedang merusak nama baik sendiri, karena dalam keluarga itu dirinya sendiri ada disana.

3. Memiliki pikiran yang disertai dengan cinta-kasih, baik di depan atau pun di belakang mereka. Masing-masing anggota keluarga janganlah menyimpan pikiran-pikiran curiga, iri hati, cemburu, dendam, dan kebencian karena hal-hal ini akan merusak kedamaian batin sendiri, dan bila dilakukan melalui tindakan dan ucapan membuat keluarga menjadi tidak damai. Tetapi kembangkanlah pikiran-pikiran cinta kasih terhadap sesama anggota keluarga sehingga tercipta kedamaian dalam keluarga.

4. Berbagi bersama mereka apapun hasil yang telah diperoleh  dengan benar, sebagai sesuatu yang pantas, yang diperoleh dengan cara yang pantas, meskipun barang dua tiga suap makanan; menggunakannya sebagai milik bersama dengan sesama. Sebagai orangtua merupakan kewajiban untuk menanggung semua kebutuhan anak-anaknya sampai anak-anaknya bisa hidup mandiri. Dan sebagai anak, bila kelak sudah bisa hidup mandiri dan memiliki penghasilan mempunyai kewajiban untuk menanggung kebutuhan orangtuanya.

5. Memiliki kesamaan  dalam pelaksanaan sila, baik di depan atau pun di belakang mereka. Sebagai perumah tangga (upasaka/upasika) mempunyai pedoman hidup untuk menjaga lima kemoralan yaitu tidak membunuh, tidak mencuri, tidak asusila, tidak berbohong, dan tidak mabuk-mabukan. Masing-masing anggota keluarga menjaga sila yang tidak terputus-putus, yang tidak berlobang, yang tidak belang, yang tak bernoda di sana sini, yang dipuji para bijaksanawan. Bila satu keluarga bisa menjaga sila dengan baik maka keluarga itu akan dapat hidup damai dan bahagia karena tidak ada perselingkuhan dan tidak ada kebohongan.

6. Memiliki kesamaan dalam pemegangan pandangan benar (sammāditthi), baik di depan atau pun di belakang mereka. Salah satu pandangan benar adalah mengerti dengan baik akan hukum kamma, siapa yang berbuat baik akan memperoleh kebahagiaan, siapa yang berbuat jahat akan memetik penderitaan.

Di samping memiliki enam hal di atas, bila ingin keluarga bahagia hendaknya menghindari enam hal yang merupakan akar dari perselisihan, seperti yang terdapat dalam Majjhima Nikāya 104, Sāmagāma Sutta, yaitu; marah dan benci, menghina dan merendahkan, iri dan kikir, pembohong dan curang, memiliki kehendak jahat dan pandangan salah, memiliki pandangan sendiri dan melekatinya. Enam hal akar perselisahan ini sumber dari pertikaian dalam keluarga dan masyarakat, bila enam hal pertikaian ini berkembang pada masing-masing individu, maka keluarga tidak akan hidup damai dan bahagia. Hendaknya keenam hal ini harus disingkirkan jika ingin keluarga hidup damai dan bahagia.

Setelah memiliki enam hal yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati; menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, kerukunan dan kesatuan. Juga menghindari enam hal yang merupakan sumber dari perselisihan maka suami, istri dan anak-anak dalam satu keluarga akan hidup damai dan bahagia. Ketika tercipta kehidupan keluarga yang damai dan bahagia tidak jarang suami dan istri mengharapkan kelak di kehidupan yang akan datang dapat hidup bersama lagi dalam satu keluarga. Seperti yang terjadi pada pasangan suami istri Nakulapitā dan Nakulamātā, yang hidupnya bahagia dalam satu keluarga mengharapkan untuk hidup bersama lagi di kehidupan yang akan datang, sehingga mereka menanyakan bagaimana caranya kepada Sang Buddha. Sang Buddha dalam Aṅguttara Nikāya menjelaskan bila suami dan istri ingin tidak terpisah selama kehidupan ini masih berlangsung dan juga di dalam kehidupan yang akan datang, mereka harus memiliki kesamaan dalam empat hal, yaitu: mereka harus memiliki keyakinan yang sama, moralitas yang sama, kedermawanan yang sama, dan kebijaksanaan yang sama.

Dibaca : 4732 kali