x

Hidup Damai

Mā pamādamanuyuñjetha, mā kāmaratisanthavaṁ.
Appamatto hi jhāyanto, pappoti vipulaṁ sukhaṁ.

Jangan terhanyut dalam kelengahan, tidak melekat pada kesenangan indria.
Orang yang sadar dan selalu waspada, 
akan memperoleh kebahagiaan yang tidak terbatas.
(Dhammapada II: 7)

    DOWNLOAD AUDIO

Rasa ”damai” itu pada umumnya sangat diinginkan oleh setiap orang. Tiada perang, tiada kerusuhan, aman, tenteram, tenang, tak bermusuhan, rukun dan tidak konflik. Jika kehidupan penuh “damai” memang sangat indah dan akan membuat seseorang tambah maju. Pada kenyataannya, kita terkadang jauh dari yang namanya kedamaian hidup. Sering kali, orang berkata terutama dalam berumah tangga, ”wajarlah…cekcok-cekcok atau berkelahi sedikit…” karena kemelekatan pandangan seperti itulah yang lama-kelamaan akan membuat kehidupan seseorang semakin tidak damai dan akan selalu membuat dirinya tertekan oleh ketidakdamaian itu. Nahi pāpaṁ kataṁ kammaṁ, sajju khāraṁ va muccati, ḍahantaṁ bālamanveti, bhasmacchanno va pāvako.”Akibat dari perbuatan buruk tidak segera  berbuah, seperti susu yang perlahan-lahan menjadi asam setelah diperah; demikian pula, penderitaan akan membakar orang bodoh seperti bara api yang tertutup arang” (Dhammapada V: 12).

Kita hidup tidak sendirian, hanya orang lupa sajalah yang menganggap hidupnya sendiri. Pada kenyataannya, kita hidup tidak sendiri. Apalagi, kita hidup dan beraktivitas di dalam masyarakat. Tentunya, banyak sekali orang-orang yang sering kita jumpai. Jika kita hidup di dalam lingkungan keluarga, kerja, sekolah, dan masyarakat, maka sangat diperlukan sekali yang namanya rasa “damai” di dalam berkehidupan seperti itu. Jika rasa damai itu ada dalam diri kita, maka kita akan membuat setiap langkah kita selalu membawa dampak-dampak yang baik. Jika kita tidak memiliki “rasa damai” di dalam diri, maka kita akan selalu  membuat langkah-langkah yang tidak menguntungkan buat diri sendiri, maupun orang lain. Madhu vā maññatῑ bālo, yāva papaṁ na paccati, yadā ca paccatῑ pāpaṁ, atha bālo dukkhaṁ nigacchati. ”Apabila  buah dari perbuatan buruknya belum masak, orang bodoh menganggap hidupnya manis seperti madu; namun apabila buah dari perbuatan buruknya telah masak, maka orang bodoh itu, akan merasakan pahitnya penderitaan” (Dhammapada V: 10).

Ada beberapa langkah Dhamma yang perlu kita kembangkan, dalam diri kita demi memperoleh kedamaian yaitu cinta kasih, welas asih, turut berbahagia, dan keseimbangan. Keempat hal ini tidak dapat disempitkan oleh batasan-batasan dalam hal jangkauannya terhadap semua makhluk. Keempat keadaan tersebut, haruslah tidak eksklusif dan tidak hanya mencakup sebagian dari makhluk; tidak dibatasi oleh keberpihakan maupun prasangka-prasangka. Akan tetapi, jika keempat sikap mental tersebut tidak berakar kuat, tentu tidak akan mudah bagi kita untuk berupaya mewujudkan ketanpasekatan maupun menghindarkan dari keberpihakan.

Dalam banyak kasus, untuk mencapai kedamaian, seseorang mencari kedamaian dengan minum-minuman keras, bunuh diri dan lain sebagainya. Padahal kita harus menggunakan empat kualitas tersebut, tidak hanya sebagai prinsip berperilaku dan objek refleksi saja, namun juga dapat digunakan sebagai subjek untuk meditasi. Empat keadaan tersebut secara sistematis menghancurkan semua rintangan yang membatasi perwujudan suatu tempat atau individu tertentu, hingga akhirnya terciptalah kedamaian. Maka dari itu, kita sepatutnya selalu mengembangkan cinta kasih yang dilandasi ketiada bencian. Selalu  mengembangkan belas kasihan kepada orang atau makhluk yang membutuhkan. Selalu berusaha bersimpati, merasa bangga atas kemajuan dan kebahagiaan yang orang lain dapatkan, tidak iri, apalagi menjatuhkannya. Selalu berusaha membuat pikiran  bijaksana agar setiap yang dilakukan tidak salah jalan. Tidak memihak dan selalu menentukan yang wajar.

Keempat hal tersebut di atas sudah sepatutnya kita kembangkan. Jika memang kita dapat mengembangkannya, maka kita akan selalu membuat kedamaian di mana-mana, baik itu damai dalam diri sendiri maupun selalu membuat rasa damai bagi orang atau makhluk yang berada di sekeliling kita.

Na ca khuddaṁ samācare kiñci, yena viññū pare upavadeyyuṁ. Sukhino vā khemino hontu, sabbe sattā bhavantu sukhitattā. Tak berbuat kesalahan walaupun kecil, yang dapat dicela oleh para bijaksana. Senantiasa bersiaga dengan ujaran cinta kasih; semoga semua makhluk hidup berbahagia dan tentram, semoga semua makhluk hidup berbahagia. (Karaṇῑyametta Sutta).

Dibaca : 3734 kali