x

Jasa Kebajikan Duniawi Dan Spriritual

-

    DOWNLOAD AUDIO

Sebagai orang yang bijaksana dan terberkahi, sudah tentu kelahirannya di alam manusia seperti sekarang ini adalah kesempatan emas yang sangat sukar untuk ditemui pada setiap kelahiran. Oleh karena itulah Anda sekalian yang hadir di tempat ini sungguh merupakan kebahagiaan karena mempunyai kesempatan untuk mempraktikkan Dhamma Sang Buddha. Untuk dapat mempraktikkan Dhamma dengan baik, saudara paling tidak harus sering-sering mendengarkan dhammadesana, selain itu membaca buku-buku maupun berdiskusi Dhamma agar memiliki pengertian yang benar.

Menurut hukum Kamma dan Punnabhava, keadaan kita sekarang merupakan buah dari perbuatan yang telah dilakukan di masa lampau. Cara yang tepat untuk mereka yang menginginkan cita-citanya tercapai, usahanya maju atau yang ingin memperbaiki hidupnya ialah dengan jalan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya. Tidak benar bahwa kekayaan, kebahagiaan, keberhasilan, kesehatan dan sebagainya dapat diminta di tempat-tempat keramat atau melalui doa-doa. Seandainya semua itu bisa diperoleh di tempat-tempat keramat maupun melalui doa-doa, secara alamiah tidak ada orang yang menderita di dunia ini. Termasuk juga Anda. Tapi pada kenyataannya tidaklah seperti yang kita harapkan, karena masih saja banyak orang menderita di dunia ini.

Di jaman Sang Buddha ada seorang yang sangat kikir bernama Todeyya. Karena kedunguannya ia sangat terikat kepada harta kekayaannya. Karena keterikatannya itu, setelah meninggal dunia ia berpunnabhava sebagai seekor anjing yang menjaga tempat di mana ia menyimpan hartanya itu. Barulah setelah Sang Buddha membuka tabir yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa kepada anaknya, persoalan itu menjadi jelas. Anaknya kemudian sadar bahwa harta yang dimiliki oleh ayahnya yang dungu bukannya memberikan kebahagiaan, tetapi sebaliknya justru akan membawa 
orang itu ke alam penderitaan.

Oleh karena itu bila kita menginginkan kebahagiaan yang benar, berbuatlah kebaikan dengan mengembangkan kemurahan hati terhadap sesamanya. Sesuai dengan ajaran Sang Buddha, para siswa awam dianjurkan untuk mengembangkan kedermawanan. Memberikan dana kepada bhikkhu, samanera, orang miskin maupun kegiatan sosial untuk kesejahteraan masyarakat. Tahap berikutnya melatih sila. Di dalam masyarakat Buddhis selalu dianjurkan melaksanakan pañcasῑla. Pada suatu kesempatan tertentu seorang Buddhis juga dapat meningkatkan pelaksanaan lima sila menjadi delapan sila atau bahkan menjadi samanera atau menjadi bhikkhu. Setelah mengembangkan kedermawanan maupun moralitas secara bertahap, biasanya tidak terlalu sulit mengembangkan ajaran Buddha yang berikutnya yaitu samadhi atau bhavana yang sering disebut pengembangan batin yang sekarang ini sudah menjadi populer di kalangan masyarakat umum.

Apabila seseorang tidak lalai dalam mengisi hidupnya dengan melakukan perbuatan baik, maka ia juga tidak akan kekurangan kesejahteraan, kebahagiaan, kemakmuran, kesehatan, umur panjang, kemasyuran, penampilan yang elok, kekayaan dan kelahiran ulang di alam-alam bahagia.

Dengan pengertian dan praktik Dhamma-vinaya yang benar seperti melatih kemurahan hati (dana), melaksanakan kemoralan (sila), dan pengembangan batin (bhavana) akan mendatangkan keberkahan yang luar biasa besarnya yang menyebabkan pelakunya bertumimbal lahir di alam surga dan brahma. Itulah manfaat dari mempraktikkan Dhamma. Akan tetapi jasa kebajikan seperti itu masih bersifat duniawi, belum terbebas dari samsara (lingkaran tumimbal lahir).

Selama kita masih terlahir di alam-alam kehidupan ini, apakah itu alam yang menyenangkan maupun menyedihkan sebetulnya kita tidak terbebas dari hukum Tilakkhana (anicca, dukkha, dan anatta). Mengapa? Karena sebahagia apapun kelahiran di alam dewa maupun di alam brahma tetap saja pada suatu saatnya nanti akan berakhir, karena itu bukanlah kebahagiaan tertinggi. Sang Buddha, guru para dewa dan manusia telah menunjukkan jalan kepada mereka yang bersungguh-sungguh untuk mencapai kebahagiaan tertinggi (Nibbana) yang merupakan kebebasan sempurna terbebas dari hukum Tilakkhana.

Nibbana bukanlah tempat, tetapi suatu keadaan batin yang telah terbebas dari lobha, dosa, dan moha. Karena itu, Nibbana tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata manusia biasa. Tetapi Nibbana harus ditembus sendiri oleh batin yang telah suci. Untuk mencapai Nibbana, Sang Buddha telah menunjukkan jalannya yaitu Jalan Mulia berunsur Delapan yang terdiri dari: pengertian benar; pikiran benar; ucapan benar; perbuatan benar; mata pencarian benar; usaha benar; perhatian benar; dan konsentrasi benar. Jalan tengah berunsur delapan ini harus dilatih terus-menerus tanpa henti dengan semangat membara. Dengan melatih jalan tengah, berarti kita juga telah melatih sila, samadhi dan pa¤¤à yang digunakan untuk mengikis lobha, dosa dan moha sampai ke akar-akarnya tanpa sisa.

Memang tidak dapat dipisahkan antara kebajikan duniawi dengan kebajikan spiritual, soalnya yang membedakan adalah dari tujuannya. Kebajikan dunia jelas bertujuan untuk manfaat keduniawian, terkadang tanpa disadari melakukan kebajikan seringkali mengharapkan imbalan dan menambah keterikatan. Karena itulah penderitaannya juga tidak pernah habis-habisnya. Sedangkan Jasa kebajikan spiritual itu adalah kebajikan yang membawa diri kita terbebas dari samsara (lingkaran tumimbal lahir), seperti mempelajari Dhamma, melatih meditasi, melepaskan keterikatan-keterikatan seperti belenggu-belenggu kehidupan (10 samyojana), dan seterusnya. Maka kita seharusnya mampu membedakan jasa kebajikan duniawi dengan jasa kebajikan spiritual. Melakukan banyak jasa kebajikan duniawi itu baik karena akan membantu dan mendukung kita. Akan tetapi bila kita ingin terbebas dari samsara, maka kita harus mempelajari ajaran Sang Buddha agar memiliki pengertian benar, lalu melatih meditasi hingga memperoleh kebijaksanaan Dhamma yang berfungsi untuk menghancurkan kilesa (pengotor batin) dan melepaskan keterikatan. Secara khusus, Sang Buddha mengajarkan Vipassana-bhavana agar kita memiliki sati-pa¤¤à yang kuat untuk menembus sekat avijja.

Bilamana kita telah dapat memecahkan selubung ketidaktahuan (avijja) ini kita akan dapat melihat dunia ini secara sewajarnya tanpa ditutupi oleh ilusi, inilah yang disebut memiliki pandangan terang, batin bebas dari segala noda, tak tergoyahkan oleh godaan-godaan duniawi, seimbang dan tidak terikat lagi. Bila keadaan ini telah dicapai ketika badan jasmani belum mati, inilah yang disebut Saupadisesa-nibbana, Nibbana masih ada sisa. Setelah hancurnya badan jasmani baru dinamakan Anupadisesa-nibbana, Nibbana yang tidak tersisa. Itulah berkah tertinggi dari buah jasa kebajikan spiritual, melebihi dari semua berkah jasa kebajikan duniawi manapun juga di dunia ini.

Dibaca : 3028 kali