x

Mengembangkan Sikap Yang Mengantar Ke Jalan Kedamaian

Karaṇῑyamatthakusalena, yantaṁ santaṁ padaṁ abhisamecca’ti.

“Inilah yang patut dikerjakan oleh ia yang tangkas dalam hal yang berguna, 
yang mengantar ke jalan kedamaian.” 
(Metta Sutta, Khuddaka Patha)

    DOWNLOAD AUDIO

“Damai itu Indah,” slogan ini sering kali kita temukan tertulis pada spanduk, baliho, poster ataupun sejenisnya yang terpasang di pinggir jalan ataupun tempat-tempat umum. Tetapi meskipun hal ini sudah sering dibaca dan didengungkan tetap saja hidup kita masih jauh dari kedamaian. Aksi kekerasan yang mengatasnamakan suku, agama, ras, atau antar golongan, masih saja terjadi di mana-mana. Apakah yang menjadi penyebab? Keinginan hidup damai bukan hanya slogan yang terucap lewat kata-kata, tetapi harus ada tindakan atau perilaku yang kita lakukan yang mengarah kepada kedamaian.
Dalam Metta Sutta dari Khuddaka Patha, Sang Buddha menunjukkan cara untuk mewujudkan kedamaian:
1.    Sakko (Cakap atau mampu)
Kemampuan atau kecakapan muncul dari adanya kemauan belajar dan mengulang terus apa yang telah dipelajari. Jika kita memiliki kecakapan dalam pekerjaan yang menjadi penghidupan kita ini tentu bisa membuat hidup kita menjadi tenang atau damai.
2.    Ujū (Jujur)
Bohong adalah lawan dari jujur. Jika kita mengucapkan kata-kata bohong tentu orang yang menjadi sasaran  kebohongan kita akan kecewa, sakit hati dan memusuhi, sebagai efek dari tindakan kita sendiri, tentu kalau sudah seperti ini kita akan jauh dari kedamaian. Tetapi sebaliknya kata-kata jujur akan membuat orang lain menjadi senang, menghargai dan membuat kita menjadi damai. 
3.    Suhujū (Tulus)
Ketulusan terpancar dari nurani atau mentalitas seseorang yang tercetus lewat pikiran dan tindakan. Melakukan sesuatu dengan ketulusan tanpa pamrih akan membuat kita menjadi damai.
4.    Suvaco (Mudah dinasihati)
Keras kepala, sukar diberitahu akan membawa celaka. Sebaliknya sikap mudah dinasehati akan membuat bahagia dan membawa damai.
5.    Mudu (lemah lembut)
Bringasan, bertampang seram/ sangar tentu membuat orang lain menjadi takut mendekati kita. Tetapi sifat lemah-lembut, bersahabat akan membuat orang senang mendekati kita.
6.    Anatimānῑ (tidak sombong)
Saat ini mungkin kita memiliki kelebihan dalam kekayaan, kedudukan, garis kelahiran dan lainnya. Janganlah semua ini menjadikan kita tinggi hati dan merendahkan orang lain, karena hal ini akan menjadikan  kita celaka. Kelebihan harus dimanfaatkan untuk terus menambah kebajikan mengingat semua itu kita dapatkan karena “Sabbametena labbhati, berkat buah jasa kebajikan.”
7.    Santussako (Merasa puas)
Merasa puas atau selalu bersyukur atas apa yang dimiliki akan membuat batin menjadi damai. Ketidakpuasan akan membuat batin gelisah dan tidak tenang.
8.    Subharo (mudah dirawat)
Sukar dirawat bisa menyusahkan orang lain, terlebih jika kita menjadi tamu dari orang tersebut. Terlalu banyak menuntut akan membuat kita banyak mengalami kecewa. 
9.    Appakicco (Tidak repot)
Kesibukan yang kita lakukan hendaknya pada tempatnya, apa yang menjadi tugas dan kewajiban kita itulah yang harus kita lakukan. Jangan pernah mencampuri apa yang menjadi tugas dan kewajiban orang lain tanpa diminta oleh orang tersebut. Sibuklah dalam hal-hal yang berguna. 
10.    Sallahukavutti (bersahaja hidupnya)
Kesederhanaan dalam menjalani hidup akan membawa bahagia. Hidup bermewah-mewahan bisa mengundang bahaya. 
11.    Santindriyo (berindria tenang) 
Menjaga dan mengendalikan enam indera adalah baik; mata terkendali, hidung terkendali, lidah terkendali, telinga terkendali, tubuh terkendali, pikiran juga terkendali. Indera yang terjaga dan terkendali/tenang akan membawa bahagia.
12.    Nipako (penuh pertimbangan)
Penuh pertimbangan atau hati-hati dalam mengambil keputusan, tidak gegabah atau sembrono, ditimbang baik-jeleknya, ditimbang positif negatifnya, tentu akan membuat kita mengambil keputusan dengan baik dan bijak.
13.    Appagabbho (sopan)
Sikap sopan akan membuat kita disegani. Sopan hendaknya kita kembangkan kedua arah; atas, kepada orang yang lebih tua sebagai penghormatan, bawah, kepada orang yang lebih muda sebagai teladan buat mereka.
14.    Kulesu ananugiddho (tak melekat pada keluarga)
Kemelekatan menimbulkan derita. Semakin banyak yang dilekati semakin banyak penderitaan yang datang. Belajar mengurangi kemelekatan, belajar memahami bahwa hidup dilingkupi hukum Tiga Corak Universal; Anicca, Dukkha, dan Anatta akan membuat hidup kita bahagia.
15.     Na ca khuddaṁ samācare kiñci yena viññū pare upavadeyyuṁ (Tidak berbuat kesalahan walaupun kecil yang dapat menimbulkan penyesalan).
Kesalahan yang kita lakukan membuat kita menyesal, kesalahan kecil menyesal sedikit, kesalahan besar menyesal berkepanjangan, karena itu dalam menjalani hidup perlu kehati-hatian, dan kesalahan yang sudah dilakukan tidah hanya cukup disesali tapi harus diperbaiki dan jangan diulang kembali.
Inilah Lima Belas petunjuk Sang Buddha yang dibabarkan dalam Metta Sutta yang jika kita lakukan hal ini akan membawa kita ke jalan kedamaian. Lima Belas sikap ini jika diringkas menjadi satu kata yaitu: Sila atau etika, moral, perilaku yang baik.
Kitalah yang harus memulai untuk mengembangkan sikap atau perilaku yang mengarah ke jalan kedamaian, dan janganlah menuntut orang lain yang memulai. “Buatlah dirimu damai, maka kamu akan membuat keluargamu damai, Buatlah keluargamu damai, maka kamu akan membuat lingkunganmu damai. Buatlah lingkunganmu damai, maka kamu akan membuat Negaramu damai. Buatlah negaramu damai, maka kamu akan membuat dunia ini menjadi damai.” (Mendiang YM. Bhikkhu Ghosananda, Kamboja)

Selamat Tri Suci Waisak 2555 TB/2011.
Kedamaian Cahaya Kebenaran.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Dibaca : 3563 kali