x

Memiliki Pandangan Benar Adalah Masa Yang Menguntungkan

Dhammapῑti sukhaṁ seti, Vipassannena cetasā
Ariyappavedite dhamme, sadā ramati paṇḍito.

Ia yang mengerti Dhamma berbahagia, dengan pikiran jernih dan tenang
Orang bijaksana selalu berbahagia, dalam Dhamma yang telah dibabarkan para Ariya.
(Dhammapada VI: 4)

    DOWNLOAD AUDIO

Salah satu keberuntungan dalam kehidupan sekarang ini adalah memiliki pandangan benar. Memiliki pandangan benar di sini, pandangan benar akan kamma sebagai milik kita satu-satunya (kammassakatā samaditthi). Tetapi pada umumnya sangat sedikit yang menyadari akan kamma sebagai milik kita satu-satunya. Karena tidak memiliki pandangan benar, maka seseorang akan menolak tentang akibat-akibat kamma, menolak sebab-sebab kamma dan menolak tentang sebab-akibat dari kamma.

Dengan belum memahami hal inilah maka seseorang masih saja  melakukan perbuatan buruk. Karena tidak memiliki pandangan benar dan melakukan perbuatan buruk, maka seseorang akan jatuh ke alam Apāyā (alam penderitaan). Alam Apāyā adalah alam menyedihkan seperti neraka, binatang, peta dan asura. Jumlah makhluk yang terlahir di alam ini lebih banyak jika dibandingkan dengan yang terlahir sebagai manusia, dewa dan brahma. Dalam kitab komentar dinyatakan: Cattāro apāyā sakageha sadisā artinya empat alam apāyā seperti rumah tinggal tetap bagi para makhluk hidup. Sedangkan alam manusia, dewa, dan brahma adalah seperti tamu yang jarang-jarang. Dengan memiliki pandangan benar inilah kita terdorong untuk melakukan perbuatan baik (kusala kamma) seperti berdana, praktik sila dan meditasi. Sebagai akibat dari memiliki pandangan benar kita dapat terhindar dari alam Apāyā dan jika kita berjuang dengan sungguh-sungguh, kita juga akan mampu mencapai kebebasan mutlak (nibbāna).

Contoh manfaat dari pandangan benar, ada dalam kisah kehidupan masa lampau dari Bhante Anuruddha. Dalam kehidupan itu calon Bhante Anuruddha terlahir menjadi pengangkut rumput yang miskin bernama Annabhâra di rumah saudagar kaya Sumana. Suatu hari Annabhâra kembali dari hutan membawa ikatan rumput.

Pada saat itu Seorang Pacceka Buddha Uparittha bangkit dari nirodha samāpatti di Gunung Gandamadana, dan terbang di udara dan mendarat di depan Annabhāra dan memulai berjalan untuk berpindapata. Annabhâra berlari mengejar Bhante Pacceka Buddha dan memanggilnya, “Y.M. Bhante, apakah Bhante sudah mendapat persembahan makanan?” “Belum”. Menyadari bahwa Beliau belum mendapatkan persembahan makanan, Annabhāra memintaNya untuk menunggu sebentar. Annabhâra berlari pulang ke rumah dan bertanya pada istrinya apakah makanan telah siap. Kemudian dia berlari lagi kembali ke Bhante Pacceka Buddha, mengambil mangkuknya dan meminta istrinya untuk mempersembahkan makanan.

Mereka menyadari bahwa: “Dalam kehidupan yang lampau kita belum melakukan perbuatan baik, itulah sebabnya kita miskin di kehidupan sekarang ini. Walapun kita ingin mempersembahkan sesuatu, kita tidak memiliki apapun untuk dipersembahkan. Sewaktu kita sedang memiliki sesuatu untuk dipersembahkan, tidak ada orang yang memiliki sila, samādhi, dan paññā untuk menerima persembahan kita. Oleh karena itu kita belum sempat berdana apapun.

“Sekarang kita bertemu dengan Bhante Pacceka Buddha Uparittha, kita memiliki makanan untuk satu kali makan, jadi mari kita persembahkan makanan ini. Berikan bagian saya ke dalam mangkuk ini.” Karena memiliki keyakinan, istrinya juga memasukkan porsi makanan miliknya. Annabhâra membawa mangkuk dan mempersembahkan makanan kepada Bhante Pacceka Buddha  dan mengucapkan harapan, “Y.M. Bhante, dengan persembahan makanan ini, semoga saya tidak pernah terlahir di keluarga yang miskin dalam kehidupan selanjutnya, semoga saya tidak pernah lagi mendengar dan mengetahui kata–kata” Tidak Punya.”

Ketika Annabhāra selesai mengucapkan harapannya setelah mempersembahkan dana makanan, Dewa yang ada di rumah saudagar Sumana berseru dengan gembira, “Sadhu! Sadhu! Sadhu!. Sang saudagar Sumana merasa aneh dan heran karena para dewa tidak pernah sampai berseru ’Sadhu’ terhadap persembahan yang selalu dia berikan, tetapi mereka berseru untuk satu kali  atas persembahan dana makanan dari Annabhâra. Kemudian dia memanggil Annabhāra dengan tujuan membeli dana kebaikan yang dia miliki. Begitu Annabhāra tiba, Sumana bertanya” perbuatan baik apa yang telah anda lakukan hari ini?” “Saya telah mempersembahkan dana makanan kepada Pacceka Buddha Uparittha” jawab Annabhâra. Kemudian Saudagar Sumana ingin membeli perbuatan baik Annabhāra, tetapi Annabhāra menolaknya. Saudagar Sumana menawarkan 1000 keping emas tetapi Annabhāra meminta ijin untuk menemui Bhante Pacceka Buddha Uparittha terlebih dahulu, bila bhante memperbolehkan, dia akan menyanggupinya. Kemudian Pacceka Buddha memberitahukan Annabhāra bahwa jasa harus dibagikan dan dengan demikian perbuatan baik tidak akan berkurang, bahkan jasa kebajikan akan bertambah ketika orang lain memperoleh jasa dengan cara berucap ’Sadhu’.

Setelah mendapatkan nasehat dari Pacceka Buddha Uparittha, ia membagi jasanya dengan Sumana, dan memberinya 1000 keping emas, dan menyuruhnya jangan bekerja lagi sejak hari itu. Sang saudagar juga menyediakan semua kebutuhan hidup Annabhāra. Berita tentang kekuatan dana makanan Annabhāra terdengar oleh raja, sehingga Annabhâra dan Sumana dipanggil  untuk menghadap raja. Kemudian memberinya 1000 keping emas dan memerintahkan menterinya mendirikan rumah. Ketika hendak menggali tanah untuk pondasi, mereka menemukan banyak guci yang berisi emas. Ketika raja menyuruh mengambil gucinya, justru gucinya semakin terbenam. Tetapi ketika menyuruh untuk diberikan kepada Annabhāra, gucinya menjadi mudah, sehingga saat itu Annabhâra diberi gelar hartawan besar.

Dari cerita di atas mengingatkan betapa bermanfaatnya perbuatan baik yang dilandasi dengan pandangan benar.

Semoga kita semua dapat menumbuhkan pandangan benar dalam kehidupkan kita, sehingga kita dapat melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk. Dengan demikian kita akan terbebas dari hal-hal yang tidak diharapkan dan dapat hidup bahagia.

Semoga semua makhluk hidup bahagia.

Dibaca : 4977 kali