x

Bagaimana Cara Memberi Kondisi Yang Baik Bagi Seseorang Pada Saat Menjelang Kematian

Di dunia ini ia bergembira, di dunia sana ia bergembira, 
pelaku kebajikan bergembira di kedua dunia itu. 
Ia bergembira dan bersuka cita melihat perbuatannya sendiri yang bersih.
(Dhammapada 16)

    DOWNLOAD AUDIO

Di dunia ini, tidak ada seorangpun yang luput dari kematian. Kematian itu datang dan tiba tidak dapat diketahui. Kematian juga akan selalu datang kepada siapa saja tanpa mengenal waktu, tempat, dan keadaan. Juga tidak mengenal usia, baik masih bayi, anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua. Dalam Dhammapada syair 28, Buddha bersabda: tidak di langit, di lautan, di celah-celah gunung atau di manapun juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan dirinya dari kematian. Biasanya jika kita berbicara tentang kematian orang menganggap bahwa hal itu adalah tabu. Tetapi menurut ajaran Sang Buddha, kematian itu perlu kita bicarakan, perlu kita ketahui bahkan perlu juga kita renungkan di dalam kehidupan kita sehari-hari agar nantinya ketika kita menghadapi kematian kita sudah siap. Seperti pepatah mengatakan: sedia payung sebelum hujan yang artinya kita harus mempunyai persiapan sebelum menghadapi kematian. Biasanya orang selalu ketakutan pada saat menghadapi kematian, hal ini dikarenakan mereka belum mengetahui tentang kematian itu sendiri. Menurut Hukum Kamma, ketika seseorang meninggal dunia maka orang itu akan dilahirkan di salah satu dari 31 alam kehidupan sesuai dengan kammanya masing-masing. Tetapi kamma yang dibuat seseorang sesaat sebelum kematian, ini juga dapat memberikan akibat. Misalnya: apabila seseorang itu ingat perbuatan yang baik seperti berdana, pergi ke tempat-tempat ibadah, bermeditasi, dan sebagainya kemungkinan besar ia akan terlahir di alam bahagia. Namun apabila ia selalu teringat dengan perbuatan jahatnya, seperti membunuh, mencuri, berzina, berdusta dan sebagainya maka orang itu akan dilahirkan di alam menderita. Oleh karena itu pada saat mau menjelang kematian, pikiran kita harus diisi dengan hal-hal yang baik agar tidak terjatuh ke alam-alam yang menyedihkan. Untuk itu penting sekali bagi kita mengetahui agar ketika kita melihat saudara kita atau orang lain yang sedang sekarat, sakit berat, atau akan menjelang kematian kita bisa membantunya untuk memberikan kondisi yang baik pada saat seseorang itu menjelang kematian.

Tiga Macam Obyek
Sesaat sebelum kematian, setiap makhluk akan melihat salah satu di antara tiga obyek pikiran, yaitu:
1.    Kamma di sini berarti perbuatan buruk dan perbuatan baik yang dilakukan pada masa lampau.
2.    Kamma Nimitta adalah peralatan yang digunakan untuk melakukan perbuatan baik atau buruk.
3.    Gati Nimitta adalah penglihatan akan alam kehidupan atau tempat di mana ia akan dilahirkan.

Membantu Memunculkan Penampakan yang Baik
Ketika seseorang menderita sakit dan berangsur mendekati kematian secara alamiah, guru, teman, maupun sanak keluarga dianjurkan agar membantu munculnya obyek yang baik dalam penampakan orang itu. Ketika kita yakin bahwa yang bersangkutan sudah tidak dapat disembuhkan lagi, kita harus memelihara ruangan dan sekelilingnya tetap bersih dan mempersembahkan bunga-bunga di altar Sang Buddha. Pada malam hari, seluruh ruangan harus diterangi, kemudian kita mengatakan kepada yang bersangkutan untuk membayangkan bunga-bunga dan lilin-lilin yang dipersembahkan di altar Sang Buddha atas namanya dan memintanya untuk bergembira atas perbuatan baik tersebut. Kita juga harus membaca paritta, bila perlu mengundang bhikkhu, berdana, mendengarkan paritta-paritta suci, kotbah Dhamma, mengajarkan meditasi cinta kasih, sehingga pikirannya tertuju pada obyek yang baik. Orang-orang yang ada tidak boleh bersedih. Pengucapan dan persembahan penghormatan seharusnya tidak hanya dilakukan pada saat menjelang kematiannya, tetapi harus dilakukan pada hari-hari sebelumnya. Dengan demikian ia akan diliputi dengan pikiran yang baik. Sebagai akibat dari menit-menit terakhir yang dipenuhi pikiran baik, ia akan dilahirkan di alam bahagia. Ada satu tradisi turun-temurun di Srilanka yang terbentuk melalui pengetahuan dan kesadaran akan adanya potensi kamma menjelang kematian. Tradisi ini dapat dilihat dalam kisah Upasaka Dhammika.
Di Savatthi ada seorang yang bernama Dhammika. Ia seorang umat yang berbudi luhur dan sangat gemar memberikan dana makanan serta kebutuhan lain kepada para bhikkhu secara tetap. Juga ia sering berdana pada waktu yang istimewa. Ia juga seorang pemimpin umat Buddha yang berbudi luhur dan tinggal dekat Savatthi. Dhammika mempunyai tujuh orang putra dan tujuh orang putri. Sama seperti ayahnya, suka berdana dan berbudi luhur. Suatu ketika Dhammika sakit dan berbaring di tempat tidurnya, ia membuat permohonan kepada sangha untuk datang kepadanya membacakan paritta-paritta suci di samping pembaringannya. Ketika para bhikkhu membacakan “Mahasatipatthana Sutta”, enam kereta berkuda yang penuh hiasan dari alam surga datang mengundangnya pergi ke masing-masing alam. Dhammika berkata kepada mereka untuk menunggu sebentar, takut kalau mengganggu pembacaan sutta. Bhikkhu itu berpikir bahwa mereka dimohon untuk berhenti, maka mereka berhenti dan meninggalkan tempat itu. Sesaat kemudian, Dhammika memberitahu anak-anaknya tentang kereta kuda yang penuh hiasan sedang menunggunya. Ia memutuskan untuk memilih kereta kuda dari surga Tusita dan menyuruh dari satu anaknya memasukkan karangan bunga pada kereta kuda tersebut, kemudian ia meninggal dunia dan terlahir di surga Tusita.
Prinsip yang sangat menonjol dan sangat penting dari cerita di atas adalah:
1.    Mengingat orang yang akan meninggal tersebut mengenai perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukannya semasa hidup. Setiap orang pasti pernah melakukan perbuatan-perbuatan baik, untuk itu kita perlu membantunya agar ia dapat mengingat perbuatan baiknya yang pernah ia lakukan.
2.    Memberi kesempatan kepada orang yang akan meninggal ini dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik, misalnya mendengarkan pembacaan paritta, kotbah Dhamma, mengundang para bhikkhu, berdana, mengajarkan meditasi cinta kasih, dan sebagainya.
3.    Meyakinkan orang yang akan meninggal dunia untuk melepas semua ikatan dan kemelekatan terhadap apa saja dan kepada siapa saja. Jangan memendam kebencian ataupun kesalahan atas semua yang pernah dia lakukan. Orang-orang yang hadir harus dipesankan untuk tidak menangis di tempat ia berada karena hal ini bisa memperkuat kemelekatannya. Apabila kita bisa mengkondisikan hal-hal yang baik, maka semoga orang yang meninggal ini dapat terlahir di alam bahagia. 
Oleh karena itu kita sebagai umat Buddha yang baik, apabila kita melihat teman atau saudara kita yang sedang sakit bantulah mereka dengan niat baik dan tulus. Selalu mengingat-ingat perbuatan yang baik, sehingga ketika mereka meninggal dunia dapat terlahir di alam bahagia. 

Dibaca : 5147 kali