x

Dirgahayu Sima Ke-26 Tahun

-

    DOWNLOAD AUDIO

Setiap memperingati hari jadi tentu kita akan mengingat saat awal kejadian. Kalau hari genap 26 tahun usia Sima di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, maka kita akan mengingat awalnya YM. Bhante Sombat merintis tempat ini. Ketika itu Sunter merupakan rawa yang baru dilakukan pengurugan oleh P.T. Agung Podomoro.

Kita tidak akan lupa jasa dari dua orang yaitu YM.  Bhante Sombat dan Bapak Anton Haliman (Almarhum) sebagai direksi PT. Agung Podomoro yang telah menyumbangkan lokasi kita ini.

Hari ini kita peringati HUT yang ke-26 tahun dengan penuh harapan untuk membangun gedung 8 lantai di belakang sima yang belum terealisasi. Semoga kekuatan keyakinan dan kebajikan kita segera bisa mendapat bantuan dari para dewa yang terlihat maupun yang tak terlihat.

Sesungguhnya, dalam membangun suatu usaha apapun kita harus memiliki kesabaran/khanti, sabar jangan putus asa, evaluasi; mungkin ada hal yang belum memenuhi syarat. Ajaran guru Agung Buddha menjelaskan ada 4 hal yang perlu diperhatikan bila kita ingin berhasil dalam suatu usaha:

1. Uṭṭhāna sampadā

Kita harus memiliki perhatian penuh dan memiliki kemampuan terhadap yang dikerjakan dengan menggunakan tenaga mereka yang ahli dalam bidang tersebut.

2. Ārakkhā sampadā

Dapat memelihara apapun yang sudah didapat dalam usaha tersebut walaupun belum seluruhnya berhasil. Jangan lalai untuk memperbaiki hal yang rusak atau salah dengan selalu mengevaluasi.

3. Kalyāṇamittata

Harus bersahabat dengan mereka yang bijaksana untuk bertanya atau minta saran agar kita mendapat kemajuan dalam usaha yang dikerjakan.

4. Samajῑvitā

Perlu adanya evaluasi menyeluruh dalam pengeluaran dan pendapatan, agar tidak terjadi yang dikeluarkan lebih besar dari hasil yang diperoleh, yang menyebabkan kerugian usaha.

Bilamana keempat hal di atas bisa dikembangkan, Dhamma menjelaskan suatu usaha apapun akan berhasil didapat dan bukan kerugian yang diperoleh.

Setelah mendapatkan hasil dari usaha tersebut tentu kebahagiaan yang terlihat bisa diperoleh/diññha dhamma hitasukha.

Maka keuntungan ini harus digunakan untuk bisa mendapat kebahagiaan hari depan/samparāyika hitasukha, agar bisa terlahir di alam bahagia lagi. Sampai akhirnya tercapai tujuan tertinggi/paramatha, nibbāna. Disebabkan adanya hukum perubahan/sabbe saṅkhara anicca, manusia mengalami  kehancuran jasmani. Agar aliran kesadaran batin bisa muncul di alam bahagia, maka perlu banyak berbuat kebajikan.

Keuntungan usaha harus dibagi empat, dalam nasihat kepada Sigala, guru agung memberikan nasihat sebabgai berikut:

Keuntungan itu harus dibagi empat bagian:

1. Separuhnya harus kembali kepada modal, sehingga usaha bisa dikembangkan makin besar dan maju.

2. Seperempatnya boleh digunakan untuk biaya hidup, bayar karyawan dan lain-lain.

3. Seperempatnya lagi untuk persiapan hari depan digunakan untuk cadangan dan banyak berbuat kebajikan. Sebab  kebajikan inilah sesungguhnya harta sejati yang akan terbawa ketika badan jasmani mengalami kehancuran.

Bila aliran kesadaran membawa kebajikan, maka kemunculan di alam bahagia bisa diperoleh. Walaupun perjalanan kita masih panjang sampai mendapatkan kebebasan sempurna/nibbāna, sebagai umat Buddha kita berharap dimanapun kita mengalami kelahiran setelah hancurnya jasmani ini, kita bisa berjuang lagi di jalan yang ditunjukkan oleh para Buddha.

Dānaṁ dadantu saddhāya, sῑlaṁ rakkhantu sabbadā bhāvanābhiratā hontu, gacchantu sugatiṁyanti: Gemar berdana, kokoh silanya, dan bermeditasi, ketika hancur badan jasmani, silahkan pergi ke alam dewa/alam bahagia.

 

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā.

Dibaca : 2612 kali